rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Sabtu, 19 Mei 2018

Danarto yang Sulit Dimengerti




Saya selalu merasa benci pada diri sendiri ketika membaca sebuah buku dan tidak ada satu hal pun yang bisa kukomentari selain banyaknya kesalahan tanda baca dan juga typo. Dalam hal ini, buku tersebut tak memberiku sedikit saja hal baru yang menarik perhatian. Bisa jadi alur ceritanya yang sudah terlalu umum, monoton dan tidak ada konflik sama sekali. Dan kali ini saya akhirnya merasa benci bukan karena terlalu banyak kesalahan dalam buku tersebut, hanya  saja, saya memang benar-benar menyerah untuk hal yang satu ini.
Saat membaca Kecantikan dan Kesedihan milik Kawabata, saya dibuatnya kagum dengan kemampuannya memahami dan mendeskripsikan lukisan-lukisan milik Ueno dan juga Keiko. Saya membayangkan bila itu saya yang harus menulis kisah tentang seorang pelukis, tentu tidak ada yang bisa pembaca bayangkan. Dalam bukunya Ibu Kota Lama, Kawabata juga begitu lihai memaparkan motif-motif desain Obi melalui tokoh-tokohnya. Kawabata, dengan cara mengagumkan mampu menyampaikan itu semua kepada pembaca. 
Dan tiba-tiba saya membaca Adam Ma’rifat milik Danarto, saya merasa tersesat dalam sebuah pameran lukisan abstrak.
Begini, tak peduli bagaimanapun caramu memaksaku menjelaskan lukisan-lukisan yang ada dalam pameran tersebut, saya tidak akan menjelaskanmu selain ketidakpahamanku. Suatu kerugian membawaku ke sebuah pameran lukisan sedangkan saya tak punya dasar untuk bisa memahaminya sedikit pun.
Beginilah saya saat membaca karya Danarto. Ah baiklah, alih-alih mengatakan padamu bahwa buku Danarto ini disuguhkan untuk dibaca, sepertinya lebih tepat bila mengatakan bahwa buku ini dihadirkan untuk dinikmati oleh mata sebagai sebuah karya tulis visual, mungkin? Karena dengan hanya benar-benar membacanya tanpa melibatkan keseriusan dari indera lain terutama mata, semuanya akan sia-sia.
Danarto menghadirkan banyak gambar dalam bukunya, beberapa kata yang ditulis berulang, tanda titik, dan masih banyak keanehan lainnya yang hanya bisa (sedikit) dipahami bila melihatnya lebih teliti, seperti ketika kau menikmati lukisan-lukisan abstrak di sebuah pameran.
Saya merasa sia-sia. Bila seseorang kemudian bertanya pada saya apakah pernah membaca karya Danarto atau belum, saya bingung harus menjawab apa. Di satu sisi saya memang pernah menamatkan salah satu karyanya, tapi di sisi lain, saya merasa tak pernah membacanya. Tidak ada satu pun yang berhasil saya bawa pulang sebagai bukti bahwa saya benar-benar pernah menyelesaikannya. Ini sebuah masalah serius bila tiba-tiba seorang teman meminta saya menjelaskan keistimewaan apa yang ada di sana. Sebaiknya saya mengatakan bahwa belum pernah membacanya, tapi itu adalah sebuah bentuk kebohongan, bukan?
Bila kau yang numpang lahir pada sebuah kota di luar negeri, anggap saja di London, kemudian suatu hari kau ditanya pernahkah ke kota tersebut? Kau bisa saja menjawabnya dengan iya, tapi apa yang bisa kau jelaskan tentang kota teresebut saat kau mengunjunginya? Kau pernah tapi sama sekali tak punya kenangan mengesankan yang bisa kau bagi.
Atau semisal kau seorang penderita rabun senja, tak peduli beribu senja yang telah kau lewatkan, kau tak pernah benar-benar menyaksikannya. Maka begini saja, bila diumpamakan buku Danarto adalah senja, pembacanya rabun senja, maka butuh Seno Gumira dan karya-karyanya perihal senja untuk bisa memahamkan kita.
Tapi saya pun sebenarnya sangsi. Bahkan setelah membaca pengantar Mahfud Ikhwan pada kumpulan cerpen Danarto ini, toh saya tetap berakhir sama. Tidak faham, tidak mengerti dan tidak bisa menikmati.
“Jadi, sembari mencoba memegang “tuhan”, mungkin Adam Ma’rifat akan membantu kita lebih dekat untuk “memegang” Tuhan.” (hal. 10)
Membantu seperti apa yang dimaksudkan Cak Mahfud pada tulisannya? Bahkan saya sudah merasa bingung sejak membaca pengantarnya. Ya, ini karena saya terlalu lugu, terlalu polos untuk bisa memahami pembicaraan terkait Tuhan. Maka apabila tulisan-tulisan Danarto dalam buku ini adalah sebagaimana yang dijelaskan Mahfud, sepertinya memang butuh jangka panjang untuk bisa memahami segalanya. Atau selamanya saya justru tidak bisa paham sedikit pun.
Karena kata Eka Kurniawan dalam kuliahnya di bulan Maret lalu, bahwa pembaca itu berproses. Maka membayangkan saya yang tiba-tiba membaca karya Danarto, bukankah ini sebuah bentuk menyalahi proses? Saya terlalu jauh melompat sedangkan masih banyak tingkatan lain yang perlu saya lalui. Ini tentu saja bila kita sepakat bahwa karya Danarto ini berada di posisi teratas sebagaimana dituliskan Mahfud pada awal pengantarnya, bahwa buku inilah yang melentingkan nama Danarto dalam percaturan kesusastraan Indonesia hingga ke titik tertinggi.
Sebagai kesimpulan, bila kau (tidak) ingin merasakan berkunjung ke suatu tempat tapi tak membawa apa-apa pun saat pulang karena ternyata kau tertidur selama berada di sana, maka kau (tidak) perlu membaca karya Danarto. Tapi percayalah, tidak semua pembaca selugu saya.


Judul               : Adam Ma’rifat
Penulis             : Danarto
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, November 2017
Tebal               : 112 Halaman
ISBN               : 978-602-6651-11-2


Senin, 14 Mei 2018

Faisal Oddang dalam Merawat Falsafah Bugis




Mantan kekasih barangkali dirawat dengan kenangan, tapi falsafah Bugis bukanlah kekasih apalagi mantan yang boleh hanya tinggal kenangan. Merawatnya bukan dalam bentuk ingatan tapi melalui pengaplikasian dalam hidup sehari-hari.       
Falsafah Bugis atau disebut juga paaseng torioolo atau dapat juga dimaknai sebagai pangaaja sebagaimana dituliskan Nurnaningsih (2015), merupakan identitas sekaligus kekayaan masyarakat Bugis pada masa lampau. Kekayaan yang tidak menutup kemungkinan hanya sebatas kenangan bila tidak memeliharanya sebagaimana salah satu usaha yang dilakukan Faisal.

Tiba Sebelum Berangkat
            Falsafah ‘tiba sebelum berangkat’ adalah pesan yang sering didengarkan setiap kali hendak melakukan perjalanan jauh seperti hendak merantau untuk mencari pekerjaan, atau mencari ilmu, atau juga untuk melakukan perjalanan haji. Dalam hal ini siapa pun yang hendak berangkat diperintahkan terlebih dahulu untuk memvisualisasikan dirinya berada di tempat tujuan dan melakukan aktivitas dengan baik. Hal ini dimaksudkan agar memperoleh keselamatan dan  dalam perjalanan tidak terjadi apa-apa.
            Saat falsafah Bugis ini tidak lagi sesering dulu diucapkan oleh orangtua kepada anak cucunya, saat falsafah ini tidak lagi menjadi penting, saat falsafah ini telah menjadi bagian dari kenangan masa lalu, Faisal Oddang berusaha tidak menganggapnya demikian. Dalam konteks ini, Faisal adalah representase dari beberapa generasi 90-an yang merasa kehilangan sekaligus rindu dengan berbagai hal yang pernah didapatkan di masa kanak-kanak.
Inilah alasan sebenarnya mengapa saya sangat menanti-nanti karya Faisal dan bergegas mencari bukunya di hari ketiga setelah terbit. Kerinduan yang besar itu menarik-narik saya pada kenangan masa kecil setiap kali hendak kembali ke pesantren sebab masa liburan telah berakhir. Saya mendapati diri sedang duduk berhadapan dengan kedua orangtua dan mereka mengingatkan agar segera membayangkan diri tiba di tujuan.
Dapat dikatakan bahwa anak-anak Bugis yang lahir tahun 90-anlah yang terakhir mendapatkan betapa filosofisnya tetua Bugis. Generasi selanjutnya tidak lagi seakrab generasi sebelumnya. Mereka terasing dengan identitasnya sendiri sebaliknya akrab dengan identitas lain, identitas kemoderenan. Di zaman yang serba internet ini, tidak lagi sulit mendapati anak-anak Bugis yang lahir dan besar di tanah Bugis namun tidak tahu berbahasa Bugis, apatah lagi membaca aksara lontara’.
            Mengangkat judul Tiba Sebelum Berangkat adalah sebuah kata kunci. Dengan menggunakan falsafah Bugis tersebut Faisal akan dengan mudah dikenali. Bahwa ia seorang Bugis, bahwa ternyata masih ada yang tidak melupakan pappaseng tetuanya. Sebuah penegasan akan identitas diri.       
           

Tellu Cappa’
            Cappa’ lila (ujung lidah) sebagai simbol dari ucapan orang Bugis yang dapat dipegang. Orang Bugis pantang menyalahi janji. Cappa’ laso (ujung kemaulan) sebagai simbol kemampuan berketurunan, serta cappa’ tobo (ujung badik) sebagai simbol bahwa orang Bugis adalah orang yang tidak akan tinggal diam ketika harga dirinya diinjak-injak.
            Faisal menyinggung cappa’ lila di dalam bukunya bukan tanpa tujuan. Dengan melihat bagaimana banyaknya janji-janji yang bertebaran entah dilakukan oleh para calon pejabat pemerintahan, janji dosen untuk bertemu mahasiswanya yang kemudian diingkari, janji kekasih pada pasangannya, ataupun janji pada diri sendiri yang kerapkali tidak ditunaikan. Pergi ke mana falsafah Bugis yang selama ini dijunjung? Apakah zaman benar-benar telah menggerusnya?
             Sebelum benar-benar kehilangan identitas dan mengalami trauma, Faisal dengan caranya sendiri, hendak menyelamatkan dari ancaman krisis identitas tersebut. Tidak main-main usahanya merawat falsafah Bugis agar tetap eksis. Sebuah karya sastra dipersembahkannya. Diharapkan besok hingga kapan pun nanti akan tetap dibaca tidak hanya oleh orang Bugis namun suku-suku yang ada di seluruh Indonesia sehingga Sulawesi secara umum dan Bugis secara khususnya lebih difahami dengan meluas.
            Keberadaan Faisal dengan karyanya merupakan sebuah awal perenungan bagi setiap Bugis untuk kembali mendekatkan diri pada identitas yang hampir ditinggalkannya jauh. Karena memelihara falsafah Bugis agar tetap eksis bukan tugas Faisal semata tapi juga semua Bugis. Entah oleh tetua, para generasi 90-an juga generasi setelahnya dan selanjutnya.
            Faisal yang lain semoga akan terus ada dan senantiasa memelihara identitas Bugis melalui caranya masing-masing. Warisan pesan berupa falsafah selayaknya ilmu yang berharga. Lebih berharga dari harta benda dan kekuasaan. Tapi ternyata menjaga keberadaannya untuk tetap utuh bahkan lebih susah daripada memelihara kekayaan ataupun mempertahankan kekuasaan.
Kemoderenan yang ada secara perlahan mampu melenakan siapa pun untuk ikut terbawa arus. Kemampuan untuk menyesuaikan diri sangat diperlukan dalam kondisi sekarang. Menjadi moderen tidak berarti melupakan identitas yang telah lama dijunjung.
           
Cat: Dimuat di Harian Fajar pada tangga 13 Mei 2018



Secangkir Kopi





Lalu dipesannya secangkir kopi
Sebab darinya segala berasal
Padanya jua segala bermuara
Lalu diseruputnya
Bola lampu di kepala menyala-nyala

Tiada Terlalu




Tiada terlalu gulita malam
Tiada terlalu buta pagi
Kapan pun kubatinkan namamu
Abad mewujud detik

Jumat, 20 April 2018

Tidak Ada Gerimis





 Tidak Waras

Adalah Toru Watanabe yang  terkenang Naoko, cinta pertamanya, saat mendengarkan lagu Norwegian Wood. Ia terikat dengan lagu itu, dengan kenangan-kenangan yang ia lalui bersama seorang gadis di masa remajanya. Terlalu banyak yang pernah dilaluinya, terlalu indah dan terlalu cepat. Norwegian Wood adalah lagu kesukaan Naoko yang membuat Watanabe terlempar jauh ke tahun-tahun sebelumnya. Bukan aroma parfum, bukan jenis makanan, bukan pula sepenggal puisi yang didapatinya terselip pada buku lama. Bukan.
Apa yang diharapkan perempuan pada seseorang yang diketahuinya adalah selibat, pastor yang ditahbiskan harus hidup membujang  seumur hidupnya. Tapi Laila tetap memupuk harapan itu. Sepuluh tahun ia pelihara harapan itu dengan terus mengirim surat kepada Wisanggeni. Laila, entah harus dengan cara apa mengukur kegilaannya dalam mencintai.
Tapi yang terjadi pada Hasyim adalah hal lain. Tidak seperti Watanabe yang dituliskan Murakami, tidak juga Laila yang digambarkan Ayu Utami. Hasyim dewasa ternyata terjebak pada perasaan masa kecilnya. Ayu tetangganya yang sering dipuji oleh guru kelas, Ayu kawan bermainnya yang manis dan pergi tanpa pamit. Pada cerita yang disajikan Rosyid dalam bab Menunggu Ayu ini, ia menyuguhkan kisah cinta sejati yang diawali dengan cinta monyet.
Ketika Chandra (2009) menuliskan bahwa cinta monyet adalah oposisi biner dari cinta sejati, maka hal ini tidak berlaku pada tokoh Hasyim. Ia dengan keterbatasan kenangan masa kecilnya justru dibuat tak realistis oleh cinta. “Tentang aku yang mencintainya sampai sekarang. Tentang aku yang seperti orang tak waras, .... Aku yang tidak realistis, terlalu utopis dengan cinta.” (hal. 50). Dia, Hasyim yang di satu peristiwa dikagumi sebagai sosok yang masuk akal. “Mungkin, karena Sahril mengagumiku sebagai sosok yang serba masuk akal.”(Hal. 19).
Di saat orang-orang jatuh cinta dan memutus cinta dengan mudahnya, kasihan sekali Hasyim yang harus disiksa rindu pada perempuan masa kecilnya. Kenangannya yang tak banyak itu, dengan kekuatan cinta yang entah sebesar apa, justru melemahkannya. Kasihan sekali Hasyim yang harus menunggu Ayu tanpa pasti di saat akses menggunakan internet begitu dimudahkan. Karena tak lagi waras disebab cinta, itulah mengapa ia merasa mustahil menemukan Ayu namun tetap setia mencintainya. Bukannya tak diwaraskan oleh mencari, ia justru hanya asyik-asyik menunggu. Ya, Menunggu Ayu.  
Tapi siapalah yang lebih konyol daripada Royyan. Sekuat tenaga ia menahan tak mengungkapkan cintanya pada Hasyim hingga akhirnya ambruk juga. Ternyata tak kuasa dirinya menahan sakit mencintai dalam diam ketika membaca tulisan-tulisan Hasyim yang dijutukan kepada perempuan yang bukan dirinya. Royyan konyol karena pada akhirnya merelakan Hasyim untuk Ayu. Tidak sampai terjangkau oleh  pikiranku bagaimana perasaan yang begitu besar bisa berubah secara tiba-tiba. Perubahan yang disertai bantuan untuk mencari keberadaan Ayu. Manusia mana yang selabil itu?
Rosyid dalam tulisannya berusaha menyajikan cerita cinta yang sederhana dengan kisah akhir yang bahagia. Namun dalam kesederhanaannya itu ia terjebak pada alur yang mudah ditebak. Seperti kisah-kisah pada Film Televisi (FTV) yang bisa diloncati bagian-bagiannya yang membosankan, demikianah Gerimis di Atas Kertas milik Rosyid ini. Pada beberapa bagian, teknik membaca skimming saya praktikkan dan tetap bisa menebak alurnya dengan mudah.

Dunia Aku
“Tak kubiarkan mereka menelan mentah-mentah berbagai doktrin organisasi. Tak kubiarkan mereka menjadi bidak-bidak organisasi secara praktis. Aku ingin mereka menjadi bidak bagi nilai-nilai organisasi secara utuh dan kritis, bukan bidak atas keputusan-keputusan organisasi yang kadang bersifat politis, penuh kepentingan, dan tak jarang membelakangi nalar kemanusiaan.” (Hal. 23).
“Ada perasaan senang ketika mereka ingat aku pandai menyusun kata-kata indah. Perasaan senang sekaligus sedih, karena aku pun masih meragukannya sampai detik ini. Sewaktu kuliah, aku terbiasa menulis jurnal, menggunakan kata-kata baku yang penuh dengan analisis teoretis, dengan mengutip berbagai referensi ....” (Hal. 93).
Pada kutipan di atas saya merasakan sebuah argumen yang terlalu percaya diri. Kalimat yang disusun itu seperti menunjukkan sebuah kesombongan tokohnya dan juga penulis cerita. Dalam kondisi tersebut, saya teringat dengan ucapan Mahfud Ikhwan pada sebuah diskusi yang menghindari menuliskan cerita dengan sudut pandang orang pertama. Ia takut terjebak pada dunia ‘aku’, demikianlah alasannya.
Tapi Rosyid bukan Mahfud yang harus dituntut untuk menulis dengan sudut pandang orang ketiga. Rosyid hanya perlu lebih berhati-hati saat menggunakan sudut pandang orang pertama, karena terlalui menjiwai ‘aku’ sehingga lahirlah kalimat-kalimat yang sejenis kutipan di atas. Sebuah pernyataan yang cenderung tampak seperti mengagung-agungkan diri sendiri.
           

Dan hingga buku ini selesai dibaca, semuanya akan baik-baik saja. Tokoh-tokohnya yang hidup bahagia, kecuali kamu yang tidak suka cerita happy ending. Juga aku.           
   

Judul               : Gerimis di Atas Kertas
Penulis             :A.S. Rosyid
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : September 2017
Tebal               : 200 hlm
ISBN               : 978-602-6651-30-3