rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Jumat, 20 April 2018

Tidak Ada Gerimis





 Tidak Waras

Adalah Toru Watanabe yang  terkenang Naoko, cinta pertamanya, saat mendengarkan lagu Norwegian Wood. Ia terikat dengan lagu itu, dengan kenangan-kenangan yang ia lalui bersama seorang gadis di masa remajanya. Terlalu banyak yang pernah dilaluinya, terlalu indah dan terlalu cepat. Norwegian Wood adalah lagu kesukaan Naoko yang membuat Watanabe terlempar jauh ke tahun-tahun sebelumnya. Bukan aroma parfum, bukan jenis makanan, bukan pula sepenggal puisi yang didapatinya terselip pada buku lama. Bukan.
Apa yang diharapkan perempuan pada seseorang yang diketahuinya adalah selibat, pastor yang ditahbiskan harus hidup membujang  seumur hidupnya. Tapi Laila tetap memupuk harapan itu. Sepuluh tahun ia pelihara harapan itu dengan terus mengirim surat kepada Wisanggeni. Laila, entah harus dengan cara apa mengukur kegilaannya dalam mencintai.
Tapi yang terjadi pada Hasyim adalah hal lain. Tidak seperti Watanabe yang dituliskan Murakami, tidak juga Laila yang digambarkan Ayu Utami. Hasyim dewasa ternyata terjebak pada perasaan masa kecilnya. Ayu tetangganya yang sering dipuji oleh guru kelas, Ayu kawan bermainnya yang manis dan pergi tanpa pamit. Pada cerita yang disajikan Rosyid dalam bab Menunggu Ayu ini, ia menyuguhkan kisah cinta sejati yang diawali dengan cinta monyet.
Ketika Chandra (2009) menuliskan bahwa cinta monyet adalah oposisi biner dari cinta sejati, maka hal ini tidak berlaku pada tokoh Hasyim. Ia dengan keterbatasan kenangan masa kecilnya justru dibuat tak realistis oleh cinta. “Tentang aku yang mencintainya sampai sekarang. Tentang aku yang seperti orang tak waras, .... Aku yang tidak realistis, terlalu utopis dengan cinta.” (hal. 50). Dia, Hasyim yang di satu peristiwa dikagumi sebagai sosok yang masuk akal. “Mungkin, karena Sahril mengagumiku sebagai sosok yang serba masuk akal.”(Hal. 19).
Di saat orang-orang jatuh cinta dan memutus cinta dengan mudahnya, kasihan sekali Hasyim yang harus disiksa rindu pada perempuan masa kecilnya. Kenangannya yang tak banyak itu, dengan kekuatan cinta yang entah sebesar apa, justru melemahkannya. Kasihan sekali Hasyim yang harus menunggu Ayu tanpa pasti di saat akses menggunakan internet begitu dimudahkan. Karena tak lagi waras disebab cinta, itulah mengapa ia merasa mustahil menemukan Ayu namun tetap setia mencintainya. Bukannya tak diwaraskan oleh mencari, ia justru hanya asyik-asyik menunggu. Ya, Menunggu Ayu.  
Tapi siapalah yang lebih konyol daripada Royyan. Sekuat tenaga ia menahan tak mengungkapkan cintanya pada Hasyim hingga akhirnya ambruk juga. Ternyata tak kuasa dirinya menahan sakit mencintai dalam diam ketika membaca tulisan-tulisan Hasyim yang dijutukan kepada perempuan yang bukan dirinya. Royyan konyol karena pada akhirnya merelakan Hasyim untuk Ayu. Tidak sampai terjangkau oleh  pikiranku bagaimana perasaan yang begitu besar bisa berubah secara tiba-tiba. Perubahan yang disertai bantuan untuk mencari keberadaan Ayu. Manusia mana yang selabil itu?
Rosyid dalam tulisannya berusaha menyajikan cerita cinta yang sederhana dengan kisah akhir yang bahagia. Namun dalam kesederhanaannya itu ia terjebak pada alur yang mudah ditebak. Seperti kisah-kisah pada Film Televisi (FTV) yang bisa diloncati bagian-bagiannya yang membosankan, demikianah Gerimis di Atas Kertas milik Rosyid ini. Pada beberapa bagian, teknik membaca skimming saya praktikkan dan tetap bisa menebak alurnya dengan mudah.

Dunia Aku
“Tak kubiarkan mereka menelan mentah-mentah berbagai doktrin organisasi. Tak kubiarkan mereka menjadi bidak-bidak organisasi secara praktis. Aku ingin mereka menjadi bidak bagi nilai-nilai organisasi secara utuh dan kritis, bukan bidak atas keputusan-keputusan organisasi yang kadang bersifat politis, penuh kepentingan, dan tak jarang membelakangi nalar kemanusiaan.” (Hal. 23).
“Ada perasaan senang ketika mereka ingat aku pandai menyusun kata-kata indah. Perasaan senang sekaligus sedih, karena aku pun masih meragukannya sampai detik ini. Sewaktu kuliah, aku terbiasa menulis jurnal, menggunakan kata-kata baku yang penuh dengan analisis teoretis, dengan mengutip berbagai referensi ....” (Hal. 93).
Pada kutipan di atas saya merasakan sebuah argumen yang terlalu percaya diri. Kalimat yang disusun itu seperti menunjukkan sebuah kesombongan tokohnya dan juga penulis cerita. Dalam kondisi tersebut, saya teringat dengan ucapan Mahfud Ikhwan pada sebuah diskusi yang menghindari menuliskan cerita dengan sudut pandang orang pertama. Ia takut terjebak pada dunia ‘aku’, demikianlah alasannya.
Tapi Rosyid bukan Mahfud yang harus dituntut untuk menulis dengan sudut pandang orang ketiga. Rosyid hanya perlu lebih berhati-hati saat menggunakan sudut pandang orang pertama, karena terlalui menjiwai ‘aku’ sehingga lahirlah kalimat-kalimat yang sejenis kutipan di atas. Sebuah pernyataan yang cenderung tampak seperti mengagung-agungkan diri sendiri.
           

Dan hingga buku ini selesai dibaca, semuanya akan baik-baik saja. Tokoh-tokohnya yang hidup bahagia, kecuali kamu yang tidak suka cerita happy ending. Juga aku.           
   

Judul               : Gerimis di Atas Kertas
Penulis             :A.S. Rosyid
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : September 2017
Tebal               : 200 hlm
ISBN               : 978-602-6651-30-3






Selasa, 20 Maret 2018

Usaha Membunuh Tuhan



Bagaimana cara membunuh seseorang tanpa membuatnya mati? Dengan  melukai bahkan merebut orang yang sangat disayanginya, merenggut sumber kebahagiaannya. Bisajadi menyakiti orangtuanya, saudaranya, sahabatnya atau kekasih hatinya. Perbuatan semacam ini akan melemahkan dan juga menguatkannya dalam waktu yang bersamaan.
Dalam beberapa adegan film bisa didapati hal semacam ini. Ji Sung dalam drama Korea berjudul Defendant sampai mengalami hilang ingatan karena trauma yang dialami. Istrinya meninggal di hadapannya, dibunuh oleh orang yang hendak dituntutnya dalam kasus yang sedang diusut. Alih-alih membunuh Ji Sung sebagai orang yang paling mengancam bagi si pembunuh, ia justru membunuh istrinya. Sebab ia faham benar, dengan kematian istrinya, Ji Sung juga ikut terbunuh. Kepedihan berlarut-larut bahkan hingga benar-benar menghadapi kematian akan terus dirasakannya, namun di sisi lain juga menguatkannya untuk, membalas dendam, atau justru lebih tegar dalam menghadapi permasalahan hidup. Demi kekasihnya yang telah direnggut dengan sia-sia.
Tapi Kain tidak sedang bermusuhan dengan manusia. Meski pada kenyataannya dia akhirnya membunuh manusia, saudaranya sendiri, dan menjadi pembunuh pertama di muka bumi. Kain sedang memusuhi Tuhan. Ia hendak membunuh Tuhan namun sadar bahwa tak akan benar-benar mampu membunuh Tuhan. Tuhan tidak dapat dibunuh oleh karenanya ia membunuh Habel, ciptaan Tuhan, sebagai bentuk membunuh Tuhan.

Jose Saramago sebagai Penutur (Menyelami Pemikirannya)
“Ketika tuhan, yang juga dikenal dengan nama allah, menyadari bahwa adam dan hawa, walaupun tiap segi dari sosok luarnya sempurna, tidak dapat mengucapkan sepatah pun kata atau mengeluarkan suara paling primitif sekalipun, pasti ia jengkel kepada dirinya sendiri, karena tidak ada makhluk lain di taman eden yang dapat disalahkannya atas kelalaian yang sangat terang ini ...” (h. 5)
Bahkan sebelum peristiwa persembahan Kain yang tidak diterima Tuhan, kritik dan sindirian terhadap Tuhan pun sudah sangat jelas dipaparkan Jose Saramago. Paragraf awal tulisannya langsung menyuguhkan kekurangan dan kelalaian Tuhan dalam menciptakan makhluk. Kisah yang diadopsinya dari kitab kejadian pada perjanjian lama ini cukup membuktikan bahwa kisah Kain dengan segala masa lalu yang berkaitan dengannya adalah sebuah bentuk otokritik dirinya atas keberadaan Tuhan.
Maka novel Kain yang ditulisnya dengan gaya bahasa khas petani negeri yang dicintainya—kalimat yang panjang-panjang serta minim tanda baca—hanya bisa difahami dengan pembacaan yang teliti untuk bisa mengetahui percakapan tersebut berganti antara tokoh yang satu dengan lainnya. Sebab huruf kapitalnya memang tidak ditentukan oleh adanya tanda baca titik atau yang lain. Dalam sebuah percakapan, huruf kapital digunakan saat pergantian tokoh yang berucap. Sengaja Jose Saramago menuliskannya dengan gaya bertutur petani yang sedang menceritakan sebuah kisah. Sebab ia sendiri menganggap bahwa keberadaan Tuhan tidak lebih dari sebuah cerita rakyat yang bisa dikisahkan kepada anak-cucu kelak. Tuhan yang sakti itu, tak lebih baginya sebagai kisah yang dilebih-lebihkan, oleh karena itu ia menuliskan kisah lain tentang Tuhan dengan segala ketidakadilannya, dengan segala kelalaiin dan kepragmatisannya.
    
Tuhan yang Makhluk
“Jadi kau mengakui bahwa ada kekuasaan lain di alam semesta, yang berbeda dan lebih perkasa daripada kekuasaanmu, Bisa jadi demikian, tapi aku tak terbiasa menuruti spekulasi malas-malasan seperti itu ...” (h. 163)
Jose Saramago menciptakan Kain sebagai tokohnya yang dipenuhi kebencian dan ketidakmengertian terhadap Tuhan. Maka alih-alih memuliakan Tuhan, Kain justru bertindak seenaknya ketika berkesempatan bertemu Tuhan. Pernah suatu kali ia mengelabui Tuhan dengan cara menyembunyikan tanda pada dahinya ketika saat itu Tuhan datang untuk menghancurkan negeri Sodom. Dia seolah menunjukkan kepada pembaca betapa bodohnya Tuhan. Kain tak seperti Nuh dan keluarganya yang seketika tunduk ketika bertemu Tuhan. Kain malah berdiskusi dengan Tuhan, menggugatnya dengan berbagai pertanyaan.

Membaca karya Jose Saramago ini seperti memasuki ruang ujian keimanan tersendiri. Ruangan yang dipenuhi begitu banyak pertanyaan pengecoh dan bersiap-siap menggelincirkan pada kesalahan, kekurangan iman atau ketidaktaatan. Namun orang-orang yang telah mempersiapkan diri justru akan menganggapnya tak lebih dari sebuah hiburan atau permainan kata belaka. Jose Saramago boleh jadi telah mempersiapkan jebakan, namun sebuah ruangan tentu memiliki setidaknya satu pintu keluar.

Judul               : Kain
Penulis             : Jose Saramago
Penerjemah      : An Ismanto
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Desember 2017
Tebal               : 192 hlm
ISBN               : 978-602-6651-57-0



Senin, 12 Maret 2018

Seks Adalah Dialog



Judul               : Laut Bercerita
Penulis             : Leila S. Chudori
Penerbit           : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan           : Pertama, Oktober 2017
Tebal               : 379 Halaman
ISBN               : 9786024246945
Buku yang cukup lama menanti gilirannya untuk dibaca. Memakan waktu hampir tiga bulan hingga akhirnya saya memutuskan untuk membaca buku ini. Di antara buku-buku yang kubeli seangkatan, buku inilah yang terakhir kubaca. Padahal hampir setiap hari saya melihat postingan Leila S. Chudori tentang bincang buku ini, pemutaran film pendeknya, yang sudah diadakan di beberapa daerah termasuk Yogyakarta. Saat itu saya sempat bertekad harus menyelesaikan membaca buku ini sebelum diadakan di Yogya, hanya saja ada beberapa alasan hingga saya kemudian tidak menepati tekad pada diri sendiri. semuanya berlalu hingga saya akhirnya sibuk membaca beberapa buku lain, termasuk menghabiskan buku-buku yang baru saja saya beli dan juga buku dari hasil meminjam milik teman. Syukurlah pada akhirnya saya menemukan kesadaran kembali untuk melahap buku keren ini.
Sempat tak punya keinginan mengulas buku ini justru sebelum membacanya. Mendapati Bandung Mawardi dan kawan-kawan penulis dari berbagai daerah bahkan telah menerbitkan buku berjudul Khatam Pembaca (an) Novel" yang berisi kumpulan ulasan tentang buku Laut Bercerita. Kalau para penulis hebat itu sudah menuliskannya dan mengumpulkannya dalam bentuk buku, lantas apa lagi yang bisa kuulas dengan posisiku yang hanya sebagai pembaca biasa. Tapi karena kekuatan buku ini yang membuatku sulit berhenti memikirkannya sebelum menuangkan beberapa poin menarik bagi saya pribadi dalam bentuk tulisan, maka saya sepertinya memang harus melakukannya. Bisa jadi apa yang saya tuliskan di sini sudah pernah dibahas di buku Khatam Pembaca (an) Novel atau bisa juga memang belum ada yang membahasnya. Berhubung saya juga belum pernah membaca buku tersebut. Hanya sempat melihat seorang teman di facebook mengunggahnya dan juga salah seorang teman yang saya ikuti di instagram, yang memang juga seorang kontributor dalam buku tersebut. Ah, hebat sekali mereka.
Ulasan ini tidak tentang kejammnya kepemimpinan pada masa orde baru, meski itu tidak dapat dipungkiri kenyataannya. Tapi perlu saya katakan bahwa kali ini saya tidak sedang akan mengulas kisah memilukan itu. Di sisi lain, ada beberapa hal yang juga menarik perhatian saya dalam tulisan Leila S. Chudori ini selain dari topik utamanya tentang pemerintahan orde baru yang otoriter dan tidak berperikemanusiaan.
Ulasan ini kurang lebihnya akan dilihat dari perspektif orang yang sedang menempuh kuliah tentang gender. Jadi katakanlah, ulasan ini berperspektif feminis.
Laut dan Umpatan-Umpatannya
Saya selalu tersenyum setiap kali mendapati Laut mengumpat pada teman-teman aktivisnya atau juga pada adik perempuannya. Saya suka sekali ketika ia mengatakan “Taiklah, Asu!, Tahi kebo,” dan beberapa kalimat lain yang menunjukkan kekesalannya pada seseorang dan juga sebagai bentuk kedekatannya pada orang-orang tersebut. Kedekatan yang tidak lagi berpenghalang.
“Ketiga sahabatku memang tahi kebo. Mereka mengenalku dengan baik; mereka tahu isi hatiku, jantungku, bahkan pori-pori kulitku ....”
Umpatan-umpatan seperti juga pisau, barangkali? Kita hanya perlu tahu penggunaannya pada hal apa. Jika mengumpat pada musuh atau orang yang baru kenal atau kenal namun tak begitu dekat, tentu saja akan berakibat fatal. Namun dalam ranah persahabatan, seringkali kedekatan diukur dari jenis umpatan. Semakin aneh jenis umpatan, semakin lengket persahabatan tersebut. Buruk sekali cara orang-orang seperti saya mengukur persahabatan, ya?
Cerdas sekali Leila S. Chudori mendeskripsikan Laut dengan karakternya yang anak muda. Kekaguman saya padanya sebab mampu masuk ke dalam dunia anak lelaki muda tersebut. Meski mungkin tidak dapat diragukan, ada peran Rain Chudori di sana. Bagaimanapun, Leila S. Chudori benar-benar berhasil dalam penokohannya, umpatan-umpatan khas anak muda seperti saya dan tidak dapat dipungkiri, beberapa orang dewasa juga sering menggunakannya. Entah dalam ranah apa, saya belum faham betul.
Pemakan Segala
Ada Asmara, Kinan dan Anjani yang pemakan segala. Ada Laut yang mengagumi mereka bertiga sebagai perempuan yang cerdas dan tak pernah berpikir panjang untuk menambah makanan ketika merasa belum kenyang. Porsi makan mereka yang dianggap Laut berbeda dari porsi makan perempuan pada umumnya. Ya, karena perempuan biasanya selalu takut gemuk, selalu jaga image di hadapan orang. Makan banyak bagi sebagian perempuan adalah aib. Perempuan harus makan dengan porsi sedikit, biarlah para lelaki yang identik dengan makan banyak. Sebuah kekeliruan. Sebuah penyiksaan. Sebuah kebodohan. Sebuah penindasan.
Saya pernah berpikir begini, sungguh perempuan yang enggan makan banyak saat bersama pacarnya adalah perempuan-perempuan yang tertindas. Berpura-pura tidak sanggup lagi menghabiskannya dan itu dianggapnya keren. Taik. Mengapa senang sekali menindas diri sendiri, bila dia benar mencintaimu, hobi makan banyakmu tak akan pernah menjadi masalah. Tapi bagaimana jika benar tak sanggup lagi menghabiskannya? Nah itu lain lagi. Kan yang saya maksudkan adalah mereka yang berpura-pura kenyang, berpura-pura tidak punya daya tampung lebih lagi. Padahal saat tidak lagi bersama kekasihnya, ia makan demikian lahap, belepotan di mana-mana dan sampai tambah berkali-kali. Ayolah, jangan terlalu bodoh menindas diri-sendiri.

Seksualitas Dalam Perspektif Perempuan
Bagaimana feminis mengartikan seksualitas? Bagaimana perempuan mengartikan seksualitas?
Kebetulan baru beberapa hari yang lalu mempresentasikan hasil pembacaan atas penelitian Catharine A. Mackinnon yang berjudul Sexuality, Pornography, and Method: Pleasure Under Patriarchy. Sebuah penelitian yang memaparkan seksualitas masih diterjemahkan dari konstruk sosial atas kekuasaan laki-laki: didefinisikan oleh laki-laki dan dipaksakan terhadap perempuan. Perempuan masih dianggap sebagai kelas kedua dan mempunyai posisi untuk menyenangkan laki-laki dalam sebuah hubungan seksual tanpa perlu memperdulikan kepuasannya sendiri. Perempuan sebagai mahluk pasif dan hanya dianggap sebagai konten seks. Dosen saya pernah berucap bahwa ada banyak perempuan yang sudah menikah, melakukan hubungan seksual dan belum pernah merasakan orgasme. Mengapa? Karena suaminya hanya memikirkan kepuasan dirinya sendiri.
Lebih lanjut, Catharine menuliskan pemikiran Foucault berikut:
“What do men want? Pornography provides an answer. Pornography permits men to have wether they want sexually. It is their “truth about sex.”
Pornografi menampilkan berbagai macam gaya dan perilaku seks yang tidak memungkinkan diperoleh lelaki di alam nyata. Atau sebenarnya sangat ingin diperoleh lelaki namun tentu saja itu akan sangat mengintimidasi. Di sana, perempuan tidak diperlakukan sebagai manusia. Lebih kepada keinginan para lelaki untuk memperlakukannya dengan kasar, menyiksanya, mengikatnya, mempermalukannya, merendahkannya, merusaknya, membunuhnya. Sampai di sini saya tidak faham betul mengapa lelaki sebagiannya menginginkan hal demikian.
Apa itu seksual? To be clear: what is sexual is what gives a man an erection. Maka jelas sekali bahwa tidak ada ruang bagi perempuan mendefinisikan seksual itu. Sebab ukurannya adalah apabila laki-laki mengalami ereksi. Padahal perempuan, seperti pula lelaki, juga memiliki hak untuk mengalami orgasme dan mendefinisikan seksual.
Lalu apa hubungannya pemaparan di atas dengan buku Lelila S. Chudori ini? Tentu ada. Saat Asmara menceritakan hubungan percintaannya dengan Alex, di sana bisa didapati bagaimana seksual dipaparkan dalam perspektif perempuan, tentu saja dengan memposisikan Leila S. Chudori yang sebagai penulis buku dan juga Asmara yang sebagai penutur dalam kisah ini.
Alex memang pantang menikmati sendiri, karena baginya seks adalah sebuah dialog, maka dia memastikan apakah aku juga mencapai tataran yang sama tingginya dengannya. Dia bereksperimen dari segala sudut, segala sisi, dan rajin mempelajari bagian manakah yang peka dari tubuhku.”
Bagaimana seksualitas menurut perempuan? Bagi dosen saya—lagi-lagi mengandalkan perkataan dosen—bahwa seperti pada film porno, bisa dikatakan tidak mengintimidasi perempuan dan sesuai perspektif perempuan tentang seksual apabila diproduseri oleh seorang perempuan. Demikian halnya pada buku-buku sastra yang memaparkan adegan erotis, pengarang perempuan dibutuhkan untuk menggambarkan seperti apa hubungan seksual menurut pengertiannya. Sastra wangi, seperti julukan pada karya-karya Ayu Utami, meski Ayu Utami sendiri tidak menyebutnya demikian.

Sabtu, 03 Maret 2018

Moro-Moro Seneng Karo Bayu Skak

Sumber gambar: http://analisadaily.com/film/1367



Judul               : Yowis Ben
Pemeran          : Bayu Skak, Cut Meyriska, Brandon Salim, Joshua Suherman, Arif Didu.
Genre              : Drama, Komedi
Durasi              : 99 Menit

Boleh dikata film Bayu Skak datang di saat yang tepat. Saat kegemaran pada lagu Jawa sedang mewabah di Indonesia berkat kehadiran Nella Kharisma dan Via Vallen. Dua orang yang bernyanyi dengan indah itu menarik minat bagi banyak masyarakat yang bahkan meski bukan orang Jawa namun senang mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh mereka. Dalam hal ini termasuk saya yang bersuku Bugis dan sangat senang mendengarkan lagu Konco Mesra, Bojo galak, Ditinggal Rabi dan beberapa lagu Jawa lainnya. Mengukur diri saya yang tak paham bahasa Jawa kecuali beberapa kata namun tetap ingin menonton film Yowis Ben bisa pula berlaku bagi beberapa orang di Indonesia. Maka sekali lagi, sangat tepat film ini tayang saat lagu-lagu berbahasa Jawa telah menjadi konsumsi masyarakat Indonesia hampir secara keseluruhan.
Selain itu, posisi Bayu Skak yang seorang youtuber dengan jumlah penonton dan subscriber yang tidak bisa dihitung jari lagi. Tentu saja. Juga merupakan modal yang sangat berguna demi menarik minat para masyarakat agar lebih mantap untuk menonton Yowis Ben. Dua alasan ini sebenarnya pengalaman dan pendapat pribadi saya. Bila kemarin tak akrab menonton beberapa konten dari youtuber salah satunya Bayu Skak, barangkali saya masih berada di ambang keraguan apakah mesti menonton film ini di bioskop ataukah hanya menunggunya tayang di televisi, atau masuk di website online yang bisa didownload dengan mudah. Syukurnya pemikiran ini tidak terbersit sama sekali. Saya memang mantap untuk menontonnya bersama beberapa teman. Film yang unik, kental dan sopan. Tak peduli bagaimana komentar orang-orang di luar sana yang mengatakan tak nasionalis, abaikan saja. Saya tidak terpengaruh oleh pendapat mereka. Bagi saya film ini adalah sebuah keberanian dari para creator untuk membuat film berbahasa daerah yang masih belum jelas bagaimana sambutan masyarakat terhadapnya. Siapa yang seberani mereka membuat karya tanpa terlalu memikirkan pasar?
Film ini masuk dalam kategori komedi. Genre yang lebih menarik minat penonton dibanding film hantu-hantuan, film cinta-cintaan atau film keluarga. Hal ini bisa dilihat dengan larisnya film karya Ernest Prakasa, film Raditya Dika atau film yang diperankan oleh para komika tanah air. Dengan menonton seseorang cenderung mencari penghiburan agar bisa tertawa lepas, maka suatu kebahagiaan sebab komika Indonesia yang berkolaborasi dengan produser dan juga artis tanah air untuk memproduksi karya dengan sepenuh hati ternyata semakin ke sini semakin banyak. Di bulan April nanti Pandji Pragiwaksono juga akan merilis filmnya yang bergenre komedi. Kita nantikan saja.
Bagaimana mengukur kesuksesan sebuah film komedi? Tentu saja dengan menghitung jumlah tawa para penonton. Adapun film Yowis Ben ini, jika boleh mengungkapkan pendapat sebagai penikmat komedi yang awam, boleh dikata masih menyuguhkan komedi dengn level biasa. Level yang setiap orang masih bisa menebaknya dan memungkinkan orang lain juga sering mendapatinya pada komedi lain. Seperti komedi pada pembukaan film dengan adegan Bayu Skak menendang-nendang motor bututnya lalu tiba-tiba seorang tukang becak datang membantunya menendang motor tersebut. Komedi ini sederhana sekali sebenarnya, tapi karena diperankan begitu total, penonton pun bisa tertawa dengan lepas. Keberadaan beberapa komika untuk berperan di dalam film juga sangat membantu sampainya komedi yang hendak disampaikan. Jika ditanya adegan mana yang paling pecah, saya bisa menyebutkan adegan saling sahut-menyahut oleh dua orang lelaki tua di warung pecel, selain itu adalah adegan Arif Didu saat menjadi penyiar radio yang tiba-tiba didatangi oleh Bayu Skak. Adegan lainnya? Saya tidak begitu ingat. Yang saya ingat adalah Arif Didu pada film ini tidak selucu dirinya di dunia nyata—maksud saya di dunia stand up comedy. Juga, adegan Muhadkly dan UUS terasa kurang lucu. Saat itu saya berharap mereka membuat lelucon lain. Tapi penutup kalimatnya lumayan cerdas, sih. Jadi, apakah film ini berhasil sebagai film komedi? Menurut saya berhasil. Meski jarak tawa penonton di bioskop tidak begitu padat, terdapat beberapa menit jeda sebelum akhirnya tertawa lagi, tapi secara keseluruhan film ini menghibur. Teman di samping saya bahkan mengungkapkan rasa bahagianya dan merasa tidak rugi telah menontonnya. Oh iya, dia tiba-tiba jatuh cinta sama Bayu Skak. Niceee ....
Joshua? Yang menarik perhatian saya justru bukan pada beberapa lelucon yang dilontarkannya, tapi  pada kebiasaannya mengucap ‘Assalamu alaikum’ hanya dengan kata yang terdengar ogah ‘melekum’. Kebiasaan itu membuatnya sering memperoleh teguran baik dari Ibu Bayu Skak maupun dari Bayu Skak sendiri. Dari adegan Joshua ini saya mendapati sebuah kritik yang sangat serius. Bukan tentang Joshuanya, bukan tentang nilai komedi di dalamnya. Lebih dari itu, film ini hendak memberikan teguran atau cibiran pada banyak orang yang seringkali ogah-ogahan saat memberikan salam. Ucapan salam seringkali disingkat, diucapkan tak jelas dan tanpa ada maksud doa di dalamnya. Seolah dengan nada pengucapan yang sama kita sudah menganggap diri telah mengucapkan salam. Padahal tidak. Kalimat salam yang berbahasa Arab itu seharusnya dilafalkan dengan benar dan tulus.
Jadi bagaimana, kau masih mau protes, Cuk? Lambemu ....



Sebuah Ulasan Dari Perempuan yang Belum Bertemu Jodohnya




Judul               : Jodohku Hafal al-Qur’an
Penulis             : Rizki Ayu Amaliah
Penerbit           : PT Elex Media Komputindo
Cetakan           : Pertama, 2018
Tebal               : 144
ISBN               : 978-602-04-5391-0


Buku yang selesai saya baca dalam dua kali duduk ini terasa begitu polos. Anak pertama yang lugu dan menggemaskan, jika memang harus mengungkapkannya dalam pendapat yang singkat. Demikianlah pendapat saya atas buku ini. Buku yang ditulis oleh seseorang yang saya kenal sejak tahun 2012 lalu, saat resmi diterima di program khusus jurusan Tafsir Hadis di UIN Alauddin Makassar. Saat itu, Rizki telah menulis dan menerbitkan sebuah buku kumpulan cerita pendek yang mendapat sambutan baik dari para pembaca. Buku pertama yang sukses menarik perhatian apalagi saat itu ditulis oleh mahasiswa yang baru memasuki semester tiga pada jurusan yang tidak ada kaitannya dengan sastra. Jurusan Tafsir Hadis boleh dikata para penuntutnya lebih layak menjadi seorang penafsir. Tapi tentu saja siapa pun boleh menulis sesuai minatnya tanpa perlu sesuai dengan jurusan yang diambil. Dalam hal ini saya ingin mengatakan bahwa jurusan tidak sebaiknya dijadikan ikatan atas minat seseorang pada hal lain. Tentu saja hal ini saya katakan mengingat seringnya mendengar cibiran dan ketidaksukaan beberapa pihak pada saya dan teman-teman di jurusan Tafsir Hadis yang ikut bergelut pada sebuah organisasi kepenulisan kala itu.
Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini, ingin saya tegaskan pada kalian yang mengidolakan Rizki, bahwa jika kalian benar-benar mencintainya, maka silakan lanjut membaca ulasan ini. Namun jika cintamu pada Rizki ternyata bersyarat, berhentilah sejak membaca bagian ini. Sebab barangkali kau hanya akan ingin membaca hal-hal baik berkaitan dengannya dan cenderung menutup mata pada beberapa bagian yang kau dapati mengkritik meski tak ada niat untuk menjatuhkan. Bagaimanapun juga, saya belum siap dijadikan bulan-bulanan kalian atas apa yang akan saya tuliskan berikutnya.
Jujur saja, awalnya tidak ada rencana untuk mengulas buku ini. Usai membacanya saya langsung meletakkannya di rak, di jajaran buku yang sudah selesai saya baca di bulan februari. Bukan hanya buku ini yang tidak berencana saya ulas, ada beberapa buku lain yang juga mengalami hal sama dengan alasan yang berbeda. Adapun alasan mengapa buku ini tidak berencana saya ulas disebabkan posisi saya yang mengenal penulisnya dengan baik. Ada perasaan dilema dalam hati saya. Ketakutan tidak objektif dalam memberi ulasan mengingat Rizki adalah teman saya, maka ada kemungkinan saya memberikan ulasan yang cenderung memuji terlalu tinggi dan akan memberikan ekspektasi yang sangat bagi para pembaca dan juga akan membuat Rizki begitu cepat merasa puas diri dalam tulisannya—dan ini bukan hal yang baik bagi karir penulis. Di sisi lain, ketika mendapati beberapa kekurangan dalam buku ini, jika mengulasnya begitu gamblang, barangkali beberapa orang yang membacanya akan mengutuk saya dan mencemooh habis-habisan karena terkesan sok tahu dan tidak menghargai karya orang lain. Dan pada bagian ini, ada ketakutan dalam diri saya jika Rizki sebagai penulis buku ini juga akan menganggap saya terlalu kejam. Saya benar-benar dilema dan berada pada perenungan panjang hingga suatu hari, atau kurang lebih dua minggu lalu saya membaca ulasan Daruz Armedian tentang karya Reza Nufa yang berjudul Pacaraku Memintaku Menjadi Matahari. Daruz adalah teman Reza, teman akrab yang bergelut pada dunia yang sama, pecinta sastra, pembaca dan juga penulis. Dalam ulasan Daruz terhadap karya Reza, tak sedikit pun dapat ditemui puji-pujian di sana. Padahal menurut komentar Pak Edi pada ulasan Daruz yang dibagikan langsung oleh Reza di linimasa facebook-nya itu, buku itu diberikan cuma-cuma oleh Reza kepadanya. Namun buku yang didapatkannya secara gratis itu malah diolok-oloknya dalam sebuah ulasan yang sangat menarik dan akan membuatmu menggerutu. Dari pembacaan itu kemudian saya berniat untuk membuat ulasan yang sebebas Daruz dengan melepaskan diri dari beban dan ketakutan-ketakutan yang tidak perlu. Justru karena saya merasa dekat dengan penulis, bukankah selayaknya saya mengungkapkan pandangan secara jujur? Seorang penulis puisi, alumni universitas di Mesir dan karyanya yang berjudul Kasmaran telah diterbitkan oleh Diva Press, suatu hari hasil terjemahannya atas karya Nizar Qabbani yang berjudul Surat Dari Bawah Air mendapatkan ulasan  yang kritis dari seorang pembaca bernama Fazabinal Alim—seorang penerjemah dan Kritikus Satra Arab—yang mana tulisan itu dikirim untuk dimuat di website basabasi.co. Dari hasil pembacaan ini saya mendapati kelapangan dan kebesaran hati Usman Arrumy sebagai penulis dalam menerima kritik yang diyakininya akan sangat bermanfaat bagi karya-karyanya selanjutnya.


Bagaimana Menentukan Sumber Kebahagiaan?
“Orangtua mana yang tak bangga tatkala nama anaknya disebut sebagai hafiz atau hafizah. Lelaki atau wanita mana yang tak mengidamkan seorang penghafal al-Qur’an, yang bukan hanya menjanjikan kebahagiaan di dunia tapi insya Allah di akhirat?”
Dalam sinopsis yang terdapat pada sampul belakang buku ini dibuka dengan kalimat di atas. Sebuah paragraf pendek yang ditutup dengan tanda tanya. Apa maksud dari kalimat yang barangkali dianggap sakti bagi penulis dan juga penerbit—saya menggunakan kata penerbit sebab tak mendapati nama editor di buku ini—sehingga menjadikannya sinopsis sebagai penggambaran atas kandungan buku? Bagi saya kalimat tersebut tidak menarik dan terlihat seperti sebuah klaim dan kebanggaan pribadi bagi penulis. Seolah puncak dari kebanggaan bagi orangtua di dunia adalah mendapati anaknya mampu menghafalkan al-Qur’an. Lalu di mana letak anak-anak yang tidak menghafal al-Qur’an itu? Tidakkah mereka pantas memperoleh kebanggaan dari orangtua mereka yang setara atau lebih besar dari kebanggaan yang diperoleh oleh para penghafal al-Qur’an? Lalu berada di posisi mana penulis buku ini jika hendak mengukur kebanggaan orangtuanya dari hafalan al-Qur’an yang dimiliki? Dalam pembacaan ini saya mendapati diri ini ciut dan tak bernyali sama sekali menyadari tak satu pun anggota keluarga yang hafal qur’an hingga rasanya tak berhak menuntut rasa bangga orangtua pada segala hal yang telah dicapai hingga kini.
Dan benarkah setiap lelaki dan wanita mengidamkan pasangan yang hafal Qur’an? Tentu saja tidak. Dan memang kenyataannya tidak. Saya pribadi lebih bercita-cita memiliki suami yang berpendidikan meski tak hafal Qur’an, punya pendirian dan tidak banyak omong pada sesuatu yang tidak bermanfaat. Saya pernah dan barangkali masih mencintai seorang yang tak hafal al-Qur’an kecuali beberapa surah pendek, namun bagi saya itu cukup. Saya tidak menargetkan pasangan yang harus hafal al-Qur’an demi kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Adakah yang bisa menjamin surga atas dirinya, adakah yang bisa menjamin surga atas orang lain? Sudah cukup kita dikagetkan oleh seorang penghafal Qur’an yang menikah muda dan tiba-tiba bercerai di usia pernikahan yang juga masih sangat muda. Maka hafalan bukan sebuah jaminan.
Lalu bagaimana mengukur kebahagiaan, bagaimana menentukan sumber kebahagiaan? Tentu saja setiap orang memiliki pendapat yang berbeda dalam hal ini. Adakah hafalan dari pasangan bisa menjamin kebahagiaan dalam berumah tangga? Saya tidak tahu. Lagi pula, bagaimana kita menjamin kebaikan seseorang hanya dengan hafalan yang dimilikinya, apakah semua penghafal Qur’an adalah orang yang berakhlak baik? Seharusnya demikian meski kenyataannya tidak begitu menurut pengalaman pribadi saya.
Maka bagi saya, meski tulisan dalam buku ini berdasarkan pengalaman pribadi penulis, sinopsis yang terkesan subjektif itu tak sebaiknya digunakan. Sebab men-generalisir sesuatu berdasarkan pengalaman pribadi adalah salah satu keputusan yang keliru.

Agar Iri Secara benar
“Akhlakmu sopan, tuturmu santun
Salat dan puasamu rutin
Hafalanmu mendapat keberkahan
Wahai penghafal Qur’an ...
Engkau adalah orang yang layak mendapat iri secara benar”
(RAA)
Puisi di atas—jika penulis menganggapnya sebagai puisi—mengandung pengkultusan terhadap penghafal Qur’an. Saya melihat kehendak penulis untuk memposisikan penghafal Qur’an sebagai hamba terbaik Allah. Dan semoga ini keliru. Lagi-lagi hafalan Qur’an seseorang dijadikannya jaminan. Jika hanya penghafal Qur’an yang berakhlak sopan, bertutur santun serta salat dan puasa dengan rutinlah yang berhak mendapat iri secara benar, maka kita sama sekali tidak memiliki apa-apa, tidak berkesempatan untuk menginspirasi orang-orang di sekitar. Tidak benarkah bila orang lain merasa iri dengan kemampuan berargumen yang dimiliki, kedisiplinan dalam hidup atau pola hidup sehat yang diterapkan oleh orang-orang tertentu? Padahal kita tahu, setiap orang yang kita temui memiliki hal unik dalam dirinya yang tentu saja bisa dijadikan pelajaran.
Saya tentu paham maksud lain dari penulis sebenarnya bahwa menjadi seorang penghafal bisa menambah berkah dalam hidup. Penghafal Qur’an yang benar-benar mengamalkan hafalannya memang layak untuk memperoleh iri dari orang lain. Namun selain mereka—para penghafal Qur’an, iri pada hal positif yang dimiliki dan dilakukan oleh orang-orang sekitar juga sangat baik dan terpuji dan tentu saja juga benar. Iri secara benar tidak selayaknya dibatasi hanya pada lingkup penghafal Qur’an.

Yang Lugu, Kaku dan Polos
Satu hal yang konsisten dalam penulisan buku ini adalah adanya pemaparan kisah dalam setiap bab yang disusun. Terhitung ada delapan tulisan yang diklaim penulis sebagai kisah yang terdapat dalam enam bab yang ada. Disajikan dengan cukup menarik meski terasa sedikit kaku. Barangkali karena semangat Rizki untuk memaparkan secara rinci kondisi yang sedang dialami oleh tokoh tersebut sehingga memaksanya untuk memasukkan beberapa kalimat yang seharusnya bisa dibuang saja. Atau jika memang hendak memasukkannya, tata kalimatnya sebaiknya diberi polesan lagi sehingga tidak terasa begitu polos saat dibaca. Ini berlaku untuk tujuh kisah yang ada di dalam buku—dalam hal ini berarti kisah jatuh cinta di surah Yusuf adalah satu-satunya pengecualian. Kisah yang terasa lebih mengalir dan cukup menggetarkan. Meskipun demikian, keberadaan seluruh kisah ini memiliki nilai lebih tersendiri.
Kekecewaan saya sebenarnya berada pada beberapa kisah yang dimasukkan dalam buku ini yang juga pernah diunggah di akun media sosial penulis. Tidak ada yang salah memuat ulang tulisan yang sudah pernah dibagikan di jagat maya. Namun hal yang ingin saya gugat sebenarnya adalah tulisan-tulisan tersebut masih sama lugu, polos dan kakunya saat dulu beredar di media sosial. Padahal itu sudah terhitung lama dan seharusnya mengalami perbaikan seiring pembacaan dan kemampuan penulis yang juga bertambah. Saya percaya Rizki mampu menuliskan kalimat yang lebih puitis dan lihai pada kisah-kisah yang dimasukkannya dalam buku tersebut. Tapi mengapa ia tidak melakukannya? Ada banyak kemungkinan alasan atau justru tak ada satu pun alasan yang akan diberikannya.

Tulisan Butuh Editor
Ken Hanggara, seorang penulis dengan pabrik cerpen di kepalanya pernah menuliskan sebuah status di akun media sosialnya tentang kebiasaannya mengecek siapa editor dari sebuah buku yang dibacanya tiap kali mendapati banyak kesalahan penulisan atau typo. Sama dengannya, saya pun melakukan hal yang sama. Kesal rasanya mendapati buku yang diterbitkan oleh penerbit yang besar dan terkenal namun typo ada di mana-mana. Ini adalah kali kedua mendapati buku dengan jumlah kesalahan penulisan yang banyak dan ternyata di buku memang tidak ada keterangan siapa editornya. Buku pertama juga berasal dari grup penerbitan yang sama, ditulis duet dan masih menyisakan banyak typo. Buku yang ditulis Rizki juga sama, letak tanda baca, kesalahan huruf yang tidak saya ingat lagi secara sempurna berada di bagian mana masih begitu banyak. Sebagai satu contoh saja bisa dilihat pada halaman 129. Di sana penulis mengetik nama Badiuzzaman Said Nursi dengan Baiduzzaman. Huruf ‘i’ yang seharusnya berada setelah huruf ‘d’ justru diletakkannya sebelum ‘d’.
Saya selalu menyalahkan editor untuk buku-buku yang mengalami kesalahan penulisan yang banyak, namun untuk buku yang tidak mencantumkan editor, atau sengaja tidak mencantumkan namanya atau memang tidak ada editornya, saya harus menyalahkan siapa? Sebagai pembaca yang menikmati buku dengan membelinya tanpa menodong gratisan, bukankah saya berhak menuntut kesempurnaan? Kesempurnaan yang saya maksud bukan tanpa typo, tapi sebisa mungkin jangan terlalu banyak agar tidak terkesan sembrono.

Untuk ke depannya, saya dengan senang hati menantikan karya-karya Rizki yang lebih lihai, lebih inspiratif, lebih menakjubkan. Saya yakin ia adalah penulis yang tidak mudah menyerah untuk menantang dirinya sendiri dalam menghasilkan tulisan yang lebih baik dari karya-karya sebelumnya. Sebagai seorang ibu muda dengan satu anak balita yang imut, karya ini cukup membuktikan kecintaannya pada kepenulisan dan juga sebuah pukulan keras bagi anak muda seperti saya yang masih lajang dan memiliki lebih banyak waktu luang namun tak menghasilkan karya apa pun untuk dibaca secara luas. Terima kasih atas tamparannya, Kak. Ketcuuup untuk Uzair ....