rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Jumat, 16 Februari 2018

Alkudus; Sebaiknya Tidak Dibaca Saat Sedang Junub



Judul               : Alkudus
Penulis             : Asef Saeful Anwar
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : I, April 2017
Tebal               : 268 hlm
ISBN               : 978-602-61160-0-0

: ha ba sin ro ya
Alkudus adalah sebuah novel. Sebuah kitab suci bagi agama Kaib, sebuah buku yang bisa kau tafsirkan sendiri ayat per ayat, tema per tema atau bab per bab sesuai kemampuan imajinasimu, sesuai ketertarikanmu, sesuai pemahamanmu, tanpa perlu menunggu kapasitasmu sampai pada syarat-syarat menjadi seorang ahli tafsir yang tidak dipertanyakan lagi kesalehan dan kesuciannya. Walau di awal halaman sudah ditegaskan untuk terlebih dahulu menyucikan diri sebelum membaca kitab Alkudus. Syarat kesucian yang mengacu pada fisik dengan petunjuk bersuci yang diterangkan dalam bab 11 ayat 19-23. Namun kesucian batin, terbebas dari dosa-dosa dan fikiran menyimpang bukanlah tuntutan sebelum membaca dan mencoba menafsirkan kembali Alkudus.
“Basuhlah wajahmu dan kedua tanganmu sampai lengan. Basahilah sebagian kepalamu. Usaplah kedua daun telingamu dan cucilah kakimu hingga betis. (Untuk semua itu) gunakanlah air bening yang mengalir. Tiupkan nama Tuhan di dalamnya ketika engkau mulai membasuh wajahmu.” (11: 19-23)

Sebuah Kitab Suci
Disusun selayaknya kitab suci, diberi nomor dan catatan-catatan kecil di bagian bawah, narasi yang disusun berdasarkan tema-tema dalam setiap bab, silsilah keturunan rasul dalam agama Kaib, adalah paket lengkap untuk mengatakan bahwa Alkudus adalah sebuah kitab suci. Argumen-argumen yang dihadirkan dapat membuat pembaca hanyut seperti sedang membaca terjemahan kitab suci. Isinya yang mendamaikan, menentramkan dan masuk di akal akan menambah kekhusyukan dalam mendalami setiap kisah yang dipaparkan. Saya pribadi sering mendapati diri ini senyum-senyum setiap kali tak sengaja mengangguk setelah merenungi setiap kalimat yang ditulis Asef. Saya seringkali lupa bahwa Alkudus adalah karangan seorang manusia dan justru seolah-olah meyakini bahwa terdapat kitab dan agama yang baru. Di sinilah letak keberhasilan Asef. Berangkat dari keinginan untuk menyajikan karya dalam bentuk kitab suci, menghadirkan tokoh-tokoh sebagaimana dalam kitab suci yang sebenarnya, rasul-rasul dan para pengikut dan pengingkarnya, adalah sebuah bentuk keseriusan dalam karyanya. Maka bukan lagi hal yang sulit untuk menemukan kutipan-kutipan bijak dalam Alkudus. Setiap kalimatnya mengandung kekuatan sebuah kitab suci yang mampu menenangkan hati pembacanya.
Sensitif Gender
Menjadikan Erelah sebagai tokoh utama, seorang perempuan yang diutus menjadi rasul bagi agama Kaib adalah poin utama yang hendak disampaikan Asef dalam karyanya. Pola pikir mengenai perempuan tidak berhak memegang posisi penting dan tidak pantas menjadi seorang pemimpin ingin dipatahkannya. Bahwa dalam agama Kaib dan dalam kenyataannya, perempuan bukanlah mahluk kedua yang harus dikesampingkan. Tertulis dalam bab empat mengenai keutamaan bagi manusia bukanlah jenis kelamin apa yang lebih dahulu diciptakan. Waha boleh saja diciptakan setelah Dama namun bukan berarti Dama yang seorang lelaki lebih mulia dari Waha yang seorang perempuan. Bahkan Waha tidak dikatakan tercipta dari tulang rusuk Dama melainkan dari tanah yang sama namun lebih matang dan likat disebab bumi telah bermusim. Asef sedang berusaha membungkam diskriminasi yang dialami perempuan sebab dikatakan tercipta dari tulang yang bengkok sehingga menjadi mahluk lemah. Perempuan sebagaimana lelaki tidak boleh dinilai dari jenis kelaminnya, sebab bagi Tuhan yang disampaikan kepada Erelah, hamba-Nya dinilai sebagai manusia tanpa harus dibedakan berdasar jenis kelamin.
Pada peristiwa Diris yang tidak memiliki anak menjadi bagian yang sangat saya sukai. Tak peduli bagaimana Diris dicemooh dan dihasut untuk mencari istri lagi, menikahi perempuan agar bisa memperoleh keturunan, Diris dirayu perempuan muda namun terus menolak dan justru semakin mendekap istrinya dalam pelukan. Bagian ini bagaikan bentakan yang keras kepada pelaku poligami, pemuja beristri lebih dari satu yang bahkan tanpa istrinya mandul justru gencar hendak menambah istri lagi meski istri pertama dalam keadaan sehat tanpa kurang satu apa pun.
“Tiada mungkin aku tak bersetia dan tak berteguh hati pada istri yang selalu menemani ibadatku. Bukankah sebaik-baik istri adalah yang mampu menjadi teman ibadat? Dan sebaik-baik suami adalah yang tidak memiliki keinginan berkhianat.” (8: 97-99)

            Di saat banyak orang mendukung poligami dengan berbagai alasan, memposisikan Asef yang seorang lelaki dan tegas menolak hal tersebut adalah sebuah keberanian yang juga sebuah bentuk pengakuan bahwa perempuan juga manusia ciptaan Tuhan yang tidak boleh diposisikan sebatas pilihan dengan keputusan berada di tangan lelaki. Perempuan bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan, dicarikan pengganti sesuka hati ketika mendapati suatu kekurangan padanya dan apalagi jika hanya sekadar keinginan untuk menambah jumlah sementara istri pertama dalam keadaan baik-baik saja.
“Sejak itu para lelaki Kaum Irat bahagia dan tak lagi memandang perempuan sebagai daging.” (18: 159)

Sekalipun diletakkan pada bab berbeda serta pembahasan yang tak sama lagi, kekonsistenan Asef dalam pembelaannya terhadap perempuan dapat terlihat begitu nyata dengan menghadirkan satu bab yang membahas mengenai Kaum Irat—dalam hal ini bisa saja termasuk salah satu dari kita—yang memuja daging, mengagung-agungkan daging serta memandang perempuan sebagai daging. Tentu saja bukan hanya soal kaum lelaki yang disoroti karena begitu memuja daging, namun kaum perempuan yang kemudian minder dan tidak memiliki kepercayaan diri karena merasa tidak berdaging adalah sebuah contoh betapa perempuan masa kini sebagiannya mendedikasikan dirinya hanya untuk dicintai lelaki. Perempuan yang berusaha mempercantik diri, merawat tubuh agar dapat dicintai lelaki karena sesuatu yang dimilikinya, kemolekan tubuhnya.  


Menggugat Kebun Binatang
“Demikianlah seharusnya manusia memelihara binatang. Membiarkan mereka tanpa kandang dan ikatan.” (15: 139-140)

Pada tahun 2017 seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar menulis sebuah puisi yang berjudul Di Kebun Binatang. “Di kebun binatang, para hewan menunggu dengan kesepian, bertahan untuk tidak lari, mereka seperti penjahat, terpenjara. Kura-kura berlumut seperti rumput laut tumbuh di tempurungnya, leher panjangnya muncul, kura-kura itu berenang dengan bebas tapi tidak sebebas saat mereka di laut. Aku gembira, tapi para binatang tak seperti perasaanku, gembira. ....” (Abinaya Ghina Jamela)
Asef adalah kerisauan dan kejujuran anak kecil. Sebagai pengunjung berusia remaja dan dewasa, kita justru merasa bangga menyaksikan binatang-binatang tersebut bahkan dengan senang hati merekamnya sebagai kenang-kenangan dan agar dapat dilihat setelah pulang nanti. Kita begitu menikmatinya tanpa pernah coba bertanya, benarkah demikian yang diinginkan para binatang, berada dalam sebuah kurungan, tak diberi kebebasan untuk terbang, untuk berlari, untuk berburu.


Bagaimanapun, Asef adalah manusia biasa yang tak luput dari salah. Selain kitab suci rekaannya masih terdapat beberapa typo, hal yang kemudian menggelitik saya membayangkan kehidupan sehari-harinya di kemudian hari yang tentu saja akan mendapati beberapa ujian. Kalaupun ia harus susah payah melaluinya, setidaknya ia telah berusaha untuk melakukan itu dalam karangannya. Sebab Mario Teguh yang terkenal bijak sejagat Indonesia pun pernah berbuat salah.
Dan bagaimanapun juga;
“Ada yang tumbuh dari setiap tatapan. Ada yang tergetar dari setiap sentuhan. Ada yang tertinggal dalam setiap pelukan.” (4: 169-171)

Jumat, 26 Januari 2018

Didera Bimbang [2]


Keputusanku mendekati Dini sangatlah tepat. Tidak terbayangkan bagaimana aku sekarang bila tidak menjalin hubungan dekat dengannya, meski semua itu masih belum cukup untuk menganggap diriku sebagai kekasihnya. Sekalipun aku belum pernah menyatakan bahwa aku mencintai dan menginginkannya sebagai kekasih. Di dalam hatiku masih ada ragu. Apakah aku sudah benar-benar mencintainya dan melupakan bayang-bayang kisah masa laluku ataukah aku membutuhkannya hanya sebagai pelarian. Dalam masa kebimbangan itu aku pun ditakutkan oleh banyak hal. Jika seandainya Dini menganggapku tidak serius, atau menganggapku tidak lebih dari seorang teman berbagi, apakah aku siap untuk semua itu. Jika suatu hari ia tiba-tiba memperkenalkan seorang lelaki padaku yang bermaksud memintanya menjadi seorang istri. Barangkali aku terlalu berlebihan.
Beberapa minggu lalu aku baru saja terbang ke luar kota untuk sebuah urusan. Dalam perjalanan itu kubertemu seorang psikolog yang aktif menulis di koran Makassar. Barangkali karena ia seorang psikolog, pandai membuka pembicaraan dan mudah berinteraksi dengan orang yang baru ditemuinya, aku dibuatnya merasa begitu nyaman untuk menceritakan keadaanku selama dua tahun terakhir. Tidak. Sebenarnya bukan dua tahun terakhir, tahun-tahun sebelum aku mengenal Dini pun ikut kuceritakan. Alasanku menceritakan padanya semata-mata agar ia bisa lebih memahami kondisiku pada dua tahun terakhir ini. Aku yang didera kebimbangan oleh perasaan yang tidak bisa menentukan keputusan untuk menyatakan cinta atau memastikan diri bahwa telah benar-benar melupakan bayangan masa lalu.
Irna ingin bertemu Dini sepulang dari ke luar kota. Maka aku mengatur pertemuan tersebut di suatu tempat. Tidak penting tempat pertemuan itu sebenarnya. Sebab Irna hanya ingin mengenal seperti apa Dini yang kumaksudkan. Barangkali ia bisa membantuku memahami bagaimana perasaan Dini terhadapku dan juga memberiku beberapa nasihat agar bisa segera memutuskan segala kegundahan yang melanda.

Tentu saja aku tidak bisa memberitahu Dini perihal ini. Bahwa aku berkonsultasi dengan seorang psikolog, bahwa aku sedang tidak baik-baik saja dengan perasaanku. Maka biarlah Dini mengenal Irna sebagai kenalanku saat keluar kota, dan semoga dia tidak salah faham. Atau sebenarnya aku menginginkan Dini salah faham agar bisa mengetahui sejauh mana perasaannya terhadapku.

Variasi Impian Kidz Jaman Now



Semakin berkembang  zaman, cita-cita manusia pun semakin bervariasi. Impian yang dulu tak terpikirkan bisa saja sangat masuk akal saat ini. Dulu tidak ada seorang anak pun yang bercita-cita menjadi youtuber lalu kemudian  bibit-bibit itu pun muncul seiring meluasnya jangkauan internet sehingga memberikan kemudahan bagi siapapun dalam mengakses berbagai hal. Youtube menempati posisi yang banyak diminati oleh anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Banyak hal yang bisa diunggah ke youtube, bukan hanya video bernyanyi atau film-film layar lebar yang tidak lagi tayang di bioskop. Lebih dari itu, pemanfaatan youtube sebagai media berbagi informasi dan hiburan sudah merambah ke ranah yang sangat pribadi. Ada yang merekam dirinya sedang mandi dalam bentuk vlog keseharian, ada yang memang khusus mengunggah konten makanan, konten barang elektronik, konten tutorial hijab dan banyak lagi. Cita-cita menjadi youtuber memang sangat menggairahkan. Selain menawarkan ketenaran, pundi-pundi pun ikut bertambah. Tentu saja setelah melalui beberapa prosedur yang disyaratkan.
Bercita-cita menjadi youtuber bukan suatu yang aneh lagi pada kondisi sekarang. Namun selain youtuber yang menjadi cita-cita beberapa anak muda, ada banyak anak muda perempuan sekarang yang justru bercita-cita menjadi calon menantu idaman mertua. Semua mengelu-elukan untuk bisa pandai memasak, rajin mengurus rumah dan cekatan merawat anak. Sebuah impian yang cukup keluar jalur mendapati begitu banyak hal yang perlu dilakukan selain mengabdikan diri sebagai menantu yang bergelut di dapur dan melayani keinginan mertua.
Mematok syarat bahwa menantu idaman haruslah pandai dalam urusan rumah tangga bisa dikatakan sebagai kekeliruan. Bukankah hanya pepatah lama yang mengatakan bahwa setinggi apapun pendidikan perempuan pada akhirnya harus berujung di dapur dan melayani suami? Sebuah kalimat yang seharusnya tidak berlaku lagi sekarang. Pemikiran perempuan tidak lagi boleh hanya berfokus untuk menjadi seorang ahli dalam urusan rumah tangga. Sebaliknya, perempuan harus mau dan berani berada pada jalur yang baru. Bahwa perkara rumah tangga adalah urusan berdua dan tidak boleh hanya dibebankan pada perempuan.
          Agar perempuan tidak hanya memikirkan bagaimana cara memasak yang baik untuk calon mertua. Perempuan sangatlah boleh berpendidikan tinggi  dan meniti karir sesuai keinginannya. Mengekang keinginan sendiri demi orang lain adalah sebuah bentuk kedzaliman.

Membentengi Diri Dari Ekstrimis

Indonesia sebagai negara yang tidak hanya kaya akan sumber daya alam namun juga kebudayaan, beragam suku, ras, dan juga mengakui beberapa agama untuk dipeluk oleh masyarakatnya menjadi sebuah tantangan dan ujian tersendiri bagi setiap penduduknya. Masyarakat dituntut untuk menjadi lebih bijak, tidak mudah tersulut emosi setiap kali mendapati golongan yang tidak sealiran dengannya. Keberagaman dalam beragama adalah salah satu yang paling sering menjadi permasalahan dan menimbulkan perpecahan antar pemeluknya. Padahal keberagaman tersebut seharusnya disyukuri dan dijadikan sebagai wadah untuk mempererat persatuan dan kesatuan, bukan malah sebaliknya.
            Pada dasarnya masyarakat Indonesia adalah penduduk yang cerdas dan menghargai perbedaan. Hidup rukun dengan beragam agama di dalamnya adalah sesuatu yang sangat mudah apabila tidak ada pengaruh dari luar yang dapat menimbulkan perpecahan. Hasutan itu datang dari orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu, banyaknya mereka yang memiliki kepentingan politik kemudian memanfaatkan momen-momen yang terjadi pada suatu kelompok masyarakat untuk dijadikan sebagai tempat mengadu-domba dan pengalihan isu. Teringat peristiwa yang terjadi di Maluku beberapa tahun lalu. Konflik antar agama terjadi kenyataannya bukan karena kehendak dari penduduk beragama Islam maupun Kristen yang berada di sana, namun para petinggi yang memiliki kepentingan politik dalam peristiwa tersebut kemudian memperbesarnya dan memanfaatkan kelompok-kelompok ekstrimis dari luar untuk datang membawa misi kebenaran. Kelompok ekstrimis yang sesungguhnya begitu mudah dimanfaatkan dengan mengatasnamakan agama akhirnya menjadi alasan besar mengapa perseteruan di Maluku tidak mudah diakhiri meski beberapa pemeluk dari dua agama tersebut bahkan telah ingin mengakhirinya. Konflik di Afganistan misalnya, terjadi karena dukungan dari kepentingan politik Amerika Serikat yang memanfaatkan para Taliban untuk berani menyakiti dan menindas saudara sesama muslim dengan berdalilkan agama. Padahal agama Islam dan juga agama apa pun tidak pernah mengajarkan untuk bersikap kasar dan bertindak semena-mena kepada sesama manusia. Maluku, Afganistan, adalah contoh bagaimana ekstrimis adalah sasaran utama dari oknum yang memiliki kepentingan untuk memenangkan keinginan mereka. Golongan ekstrimis mudah dipengaruhi dan lembek terhadap penguasa namun keras terhadap orang-orang yang tidak berdaya.
            Toleransi bukan suatu yang mahal dan sulit didapatkan dari masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai penduduk yang ramah oleh pengunjung-pengunjung asing. Kesan tersebut tentu saja berdasar dari pengalaman mereka dalam memperoleh perlakuan selama berada di Indonesia. Lalu apabila mampu berlaku ramah dan sopan pada orang asing, tentu sesuatu yang sangat mudah lagi untuk berlaku lebih ramah kepada tetangga sekalipun berbeda suku, agama maupun ras.  Namun tidak dapat dipungkiri bahwa seiring berjalannya waktu, seiring bacaan-bacaan yang subjektif begitu banyak tersebar baik di media cetak maupun media online semakin menjadikan masyarakat lebih fanatik, ekstrim dan intoleran dalam bersosialisai. Munculnya sindrom merasa benar sendiri dan kecenderungan untuk menuding orang sebagai kafir setiap kali berseberangan pendapat dengannya adalah masalah besar yang saat ini dihadapi negeri ini. Buku-buku berlabel religi pun tidak terlepas dari hal ini.
            Era modern yang dilengkapi dengan kehadiran internet menjadi salah satu hal yang memberi pengaruh besar dalam mengubah pola pikir orang-orang. Berita-berita dengan sumber yang tidak jelas kenyataannya sangat cepat tersebar dan begitu mudah diterima oleh setiap pembacanya. Padahal bisa jadi berita semacam itu sengaja dirancang untuk mendoktrin para pembacanya untuk menjadi ekstrim dan kalap terhadap suatu kepercayaan.

            Maka menjadi waspada terhadap pengaruh dan doktrin dari luar adalah hal yang utama. Membentengi diri agar tidak mudah terpengaruh dan termasuk dalam golongan ekstrimis sangat dibutuhkan bagi setiap orang terutama pemuda-pemudi negara ini agar tetap bisa menjadikan Indonesia sebagai negara yang damai dan saling merangkul dalam perbedaan. 

Senin, 22 Januari 2018

Kota yang Mengenal Doa



“Setiap fajar adalah sebait puisi di tubuh bayi. Tangisannya tetap rendah hati dan wangi.” (Hal. 26)
Kemarin baru saja berkunjung ke Pare-Kediri  setelah tujuh tahun tak pernah ke sana. Ada banyak rindu yang akhirnya bisa kuperbaharui. Perjalanan kali ini saya membawa buku karya Puthut EA yang berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci sebagai teman di atas kereta dalam menempuh kurang lebih 5 jam perjalanan Jogja-Kediri, Kediri-Jogja. Alasan memilih buku ini di antara enam buku lain yang belum saya baca adalah, buku ini lebih tipis sehingga saya bisa menghabiskannya dengan segera. Sebab membayangkan dua hari berada di Pare akan begitu padat dan sibuk menemui banyak rindu, tentu saja saya tidak punya banyak waktu untuk membaca buku. Keyakinanku saat itu bisa menyelesaikan karya Puthut ini di kereta menuju pulang. Sayang sekali meleset. Meski tipis, tak sampai seratus halaman, nyatanya saya tidak bisa menamatkannya. Buku kumpulan cerita pendek ini ternyata bacaan yang berat. Bila membaca testimoni di belakang bukunya saya kemudian mengerti bahwa buku ini  bukan sembarang buku. Buku yang dipuji oleh berbagai kalangan sebagai puncak estetika dan kepenulisan dari seorang Puthut. Kau tentu faham maksdunya, kan? Bahwa butuh konsentrasi tinggi untuk bisa mengerti tulisan-tulisan di dalamnya. Buku yang memiliki nilai sastra yang tinggi, filosofis dan demikian puitis.

“Tak ada kematian yang begitu memalukan, selain ditikam kamar mandi dan beranda rumah sendiri.” (Hal. 45)
Terdapat sepuluh cerita pendek di dalamnya dan saya mengakuinya dengan jujur bahwa hanya tiga cerita yang tidak begitu berat untuk saya fahami. Ada Kota yang Menuju Diam, Si Pemungut Mimpi dan juga Seseorang di Sebuah Sudut sebagai cerita penutup yang begitu mengesankan. Berkisah tentang seorang lelaki yang selalu duduk di sebuah sudut pada sebuah cafe, memesan kopi, menyeruputnya sekali, membaca koran dari belakang lalu kemudian meninggalkan cafe tersebut beserta koran dan uang kembalian yangt tidak pernah diambilnya. Lelaki yang merupakan pusat dari segala perubahan yang terjadi pada kota tersebut. Kota yang bertahun-tahun telah kehilangan perasaan. Kebahagiaan dan kesedihan bahkan anak-anak lahir dari ranjang-ranjang yang tidak berderit. Hingga kepergiannya kemudian menjadi sebuah kehilangan begitu besar. Meski demikian, kejadian itu mengubah segalanya. Kota itu kembali hidup, mempunyai perasaan, ranjang kembali berderit, burung yang mulai bercicit, tiupan angin yang semakin bertenaga. Kota itu mewujud kecemasan dan juga doa pada seorang lelaki di sebuah sudut, semoga ia selalu dalam keadaan baik. kesimpulannya adalah, kota itu kini mengenal kata berdoa.
“Lebih penting bermimpi dan mewujudkan mimpi dari pada mengganti tetua kampung.” (Hal. 54)

Kutipan di atas saya ambil dari cerita yang berjudul Si Pemungut Mimpi. Tentang seorang yang kembali setelah kepergian yang begitu lama. Mengubah pandangan masyarakat kampung agar lebih berani bermimpi tanpa harus membedakan lelaki atau perempuan. Konsepnya seperti sebuah kisah inspiratif dari seorang yang sukses dalam mimpinya dan ingin melakukan hal yang sama pada orang-orang berikutnya. Tentu saja, kisah ini dikemas begitu filosofis dan menakjubkan.