Senin, 04 Desember 2017

Dunia Modern yang Nyeleneh





Dunia modern kini semakin gila memperlakukan perempuan. Orang-orang yang hidup di dalamnya, tidak peduli laki-laki ataupun perempuan memberikan standar hidup bagi orang lain sesuai dengan pandangan mereka. Apa yang dipikirkan dan dilihatnya dianggap kebenaran, bahkan dalam urusan pernikahan yang merupakan hak orang lain untuk menentukan kapan sebaiknya mereka memulai hidup baru dalam rumah tangga pun ikut dicampuri. Yang paling miris adalah, standar kecantikan perempuan justru diukur dari berat badan. Semakin kurus perempuan, semakin sempurna dia di mata orang-orang modern. 
Lalu di mana letak orang-orang dengan berat badan yang berada di atas 45 kilogram? Sebab standar kurus mereka—orang-orang modern itu—adalah perempuan dengan berat badan yang tidak melebihi angka 45 kilogram. Miris sekali sebenarnya menghadapi kenyataan ini. Bahwa tidak hanya laki-laki yang menetapkan standar perempuan cantik itu harus bertubuh kurus, namun dari kalangan perempuan sendiri, seringkali mengucilkan teman-teman perempuannya yang bertubuh gemuk. Padahal sekiranya mereka memahami bahwa ukuran kecantikan yang sebenarnya adalah apa yang terdapat dalam diri mereka, dalam hati mereka. 
Meski masih banyak perempuan yang tidak peduli soal berat badan—dan ini dari golongan mereka yang bertubuh gemuk—namun perlahan mereka mulai risih. Pada awalnya seolah tidak peduli dan mensyukuri bentuk tubuh yang dimiliki, namun semakin lama, semakin banyaknya komentar orang-orang sekitar tentang bentuk tubuhnya yang katanya tidak ideal, mereka pun mulai goyah. Barangkali bentuk tubuhnya memang mengganggu penglihatan orang lain sehingga wajar jika ia selalu mendapatkan teguran. Pertanyaan-pertanyaan tentang jumlah berat badan menjadi sesuatu yang lebih sering didengar dibandingkan dengan pertanyaan seputar kabar dan kesibukan hari itu. Hal ini semakin menjadi-jadi dengan banyaknya teman-teman dekat atau orang-orang yang bahkan tidak begitu dekat kemudian melontarkan guyonan yang menyindir mereka yang bertubuh gemuk. Barangkali mereka bermaksud bercanda, namun bukankah masih banyak bahan yang bisa dijadikan candaan dibanding harus menggunakan tubuh seseorang—yang justru anugerah dari Tuhan—untuk djadikan bahan tertawaan.
Perempuan dengan tubuh gemuk kemudian mulai mengucilkan diri. Dianggapnya itu adalah kesalahan dirinya yang tidak tahu mengatur pola hidup sehat. Loh, haruskah sehat ditentukan oleh bentuk tubuh dan berat badan? Lalu diet pun dimulai dan tentu saja itu bukan hal yang mudah. Semacam sebuah tindakan penyesalan terhadap angka di atas 45 kilogram itu yang kenyataannya menyiksa dirinya sendiri. Pola diet dilakukan dengan berbagai macam cara. Ada yang mengkonsumsi teh hangat bercampur jeruk nipis setiap paginya, yang sebenarnya bukan sesuatu yang sehat bagi rahim seorang perempuan. Adapula yang menahan rasa lapar di malam hari, tidak ingin makan lagi karena menurut sumber yang didapatkannya, tidak makan malam adalah salah satu cara untuk diet.
Perempuan tidak seharusnya didiskriminasi hanya karena bentuk tubuh yang lebih besar dari orang lain. Bila laki-laki seringkali bangga menampakkan perut buncit dan membandingkannya dengan perempuan hamil, maka tidak ada alasan bagi perempuan untuk merasa malu dan minder dengan tubuh montoknya. 
Belum lagi pertanyaan ‘kapan nikah’ yang sering dilontarkan pada perempuan yang baru saja lulus kuliah strata satu. Seakan usia dua puluh dua adalah waktu yang wajib bagi perempuan untuk mengakhiri masa lajang. Para perempuan kemudian mengalami keresahan yang besar. Beruntung bagi mereka yang memiliki pacar bisa memaksa pasangannya untuk segera menikahi. Namun mereka yang memiliki prinsip lain untuk tidak menjalin hubungan sebelum halal mengalami keresahan yang lebih besar lagi. Tidak ada yang bisa dipaksa untuk segera menghalalkan dan tanda-tanda jodoh pun sepertinya belum nampak. Perempuan kemudian jadi korban artikel-artikel, video-video berseliweran di media sosial. Artikel dan video yang semakin menegaskan bahwa menikah di usia muda sudah seharusnya dilakukan perempuan. Barangkali ada yang tidak terlalu peduli soal pertanyaan ‘kapan nikah’, tidak bawa perasaan jika diberondong dengan pertanyaan serupa berkali-kali. Syukurlah jika sebagian kecil perempuan lajang berpikiran demikian. Namun kenyataannya, golongan perempuan yang dirisaukan oleh pertanyaan tersebut dan akhirnya benar-benar kebelet nikah berjumlah lebih banyak. 
Seorang teman pernah mengakui dirinya hampir saja menikah hanya karena bosan ditanya ‘kapan nikah’ dari orang-orang di sekitranya. Dan dia bukan satu-satunya perempuan yang mengalami hal tersebut. Banyak saudara perempuan kita yang akhirnya jadi korban pertanyaan aneh yang mentradisi itu. Bagaimana pun juga, dia harus segera menikah dan membuktikan bahwa dia lebih laku dari perempuan lainnya. Mereka menjadikan pernikahan sebagai ajang perlombaan, dan siapa yang lebih dulu dialah yang dianggap beruntung karena laku begitu cepat. 
Perempuan adalah korban dari pertanyaan-pertanyaan nyeleneh semacam ‘berat badanmu sekarang berapa?’ dan ‘kamu kapan nyusul?’. Orang-orang mendapatkan pertanyaan lain pengganti dari ‘apa kabar’ yang justru merupakan sesuatu yang lebih sopan untuk ditanyakan karena tidak sampai harus menguliti hingga ke urusan pribadi seseorang. Soal berat badan dan menikah itu urusan pribadi masing-masing, mengapa kita terlalu peduli pada privasi orang lain.  
Hingga kemudian pada akhir tulisan ini saya hanya akan mengatakan bahwa menjalani hidup tanpa peduli pendapat orang lain adalah sebuah kebahagian tersendiri.  

Kartini; Tertindas atau Menindas? (Analisis Bahasan Marianne Katoppo dalam Buku Tersentuh dan Bebas)

Pendahuluan
Indonesia merayakan setidaknya 170 hari besar dalam setiap tahunnya termasuk di antaranya perayaan hari Kartini setiap 21 April yang kemudian dirayakan dengan melaksanakan berbagai kegiatan yang tidak hanya dilakukan oleh perempuan-perempuan dewasa namun juga anak-anak yang duduk di bangku taman kanak-kanak dan juga sekolah dasar. Kegiatan yang dilakukan biasanya bermacam-macam dengan melibatkan kaum perempuan maupun laki-laki yang ditandai dengan menggunakan pakaian-pakaian adat sepanjang hari itu. Laki-laki melakukan peragaan busana, ikut melakukan lomba masak, sedangkan kaum perempuan menampilkan tari daerah, paduan suara dan berbagai kegiatan lain.
Kartini menjadi seorang perempuan yang begitu diagung-agungkan oleh masyarakat Indonesia dan selalu dikenang secara besar-besaran setiap tahun. Perjuangannya dalam membebaskan keadaan perempuan dan menuntut hak memperoleh pendidikan bagi kaum perempuan adalah alasan utama ia dimasukkan dalam golongan pahlawan Nasional. Kartini memiliki kontribusi yang begitu besar dalam pembebasan kaum perempuan pada masanya.
Marianne Katoppo dalam buku Tersentuh dan Bebas sedikit-banyak menyinggung mengenai perempuan Jawa keturunan Ningrat ini. Ia memiliki pandangan tersendiri mengenai Kartini yang berbeda dengan pandangan sebagian besar masyarakat Indonesia.

Marianne Katoppo Sebagai Teolog Perempuan Asia
Katoppo seorang perempuan Asia, perempuan Indonesia yang lahir pada 9 Juni 1943 di sebuah provinsi Sulawesi Utara yang hidup dan besar dalam keluarga beragama Kristen. Ia tumbuh pada lingkungan minoritas baik sebagai ‘perempuan’ dan atau sebagai seorang yang beragama Kristen. Sebagai perempuan, ia menang dalam kuantitas namun kalah dan tetap menjadi minoritas dalam keterlibatannya pada publik. Ia menjalani kehidupan sebagai yang lain dengan bersekolah di tempat yang mayoritas beragama Islam kemudian pindah ke Jakarta dan menjadi berbeda sendiri dengan teman-temannya yang orang Jawa.
Katoppo menempuh pendidikan di  Indonesia dan melanjutkan di International Christian University, Mitaka, Tokyo pada tahun 1964, Doshisha University, Kyoto pada tahun 1965, Kursverksamheten vid Stockholms Universitet pada tahun 1970-1971, Graduate School of Ecumenical Studies, Bossey, Celigny. Katoppo sibuk menjadi dosen tamu di Amerika Serikat, Australia, Belanda, Belgia, Denmark, India, Inggris, Jepang, Jerman, Kanada, Korea, Pilipina, Sri Lanka, Swedia, Swiss Thailand dan beberapa negara lain. Karya sastranya banyak dimuat di media dalam dan luar negeri. Karyanya tentang teologi adalah Compassionate and Free yang terbit pada tahun 1979 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tersentuh dan Bebas. Selain itu Katoppo menerjemahkan beberapa buku yang di antaranya; Sult karya Knut Hamsun dan La Nuit karya Elie Wiesel.
Melalui buku Tersentuh dan Bebas, Katoppo menyuarakan pendapatnya mengenai teologi dalam gereja dan ia menjadi teolog perempuan pertama di Indonesia dan di Asia. Tulisannya kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Jerman, Swedia, dan Tagalog, serta dipakai sebagai buku ajar di berbagai sekolah teologi dan seminari di seluruh dunia.

Tersentuh dan Bebas karya Marianne Katoppo
Buku Tersentuh dan Bebas berjudul asli Compassionate and Free yang ditulis oleh Marianne Katoppo dalam bahasa Inggris yang diterbitkan oleh World Council of Churches-Geneva, Switzerland pada tahun 1979 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Pericles Katoppo yang kemudian diterbitkan oleh Aksara Karunia pada tahun 2007. Buku ini berjumlah xxii dan 122  halaman dengan ukuran 21 cm.
Memerlukan waktu 28 tahun sehingga buku ini dapat terbit dan beredar di Indonesia. Terjadi beberapa kendala dari dalam yang menyebabkan penerjemahan dan penerbitan buku ini mengalami penundaan yang begitu lama. Sedangkan di negara-negara lain sudah digunakan sebagai bahan ajar dan menjadi buku teologi pertama yang ditulis oleh perempuan Asia. Pendeta Rosmalia Barus memberikan komentar mengenai buku yang ditulis Marianne Katoppo bahwa kandungannya begitu menginspirasi banyak orang di berbagai negara untuk memperjuangkan dan menikmati suatu perubahan. Buku Tersentuh dan Bebas adalah “suara” yang nyaring bukan “ke-diam-an” atas fakta diskriminatif di Asia, serta solusi yang ditawarkan, baik dalam lingkungan gereja maupun masyarakat sosial. Maka dengan diterbitkannya buku karya Katoppo ini mengobati kerinduan untuk segera membaca dan merefleksikan kandungan di dalamnya. 
Terdapat 5 bab dengan pembahasan pada bab 1 mengenai perempuan sebagai yang lain, bab 2 tentang pembebasan perempuan adalah juga pembebasan lelaki, bab 3 tentang realitas sosial-politik, bab 4 tentang motif-motif teologis serta bab 5 membahas tentang perempuan dalam teologi Asia.

Biografi Kartini
Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879 merupakan seorang tokoh Jawa dan termasuk Pahlawan Nasional Indonesia yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara setelah Kartini lahir. Ibu Kartini bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit. Kartini pandai berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.
Tanggal 12 November 1903 Kartini menikah dengan lelaki yang dijodohkan oleh orangtuanya. Suaminya bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan seorang bupati Rembang dan sudah pernah memiliki tiga istri. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan memberikannya kebebasan serta dukungan untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah Timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoahiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Berkat kegigihan Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912 dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini.” Yayasan Kartini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Kartini dalam Buku Tersentuh dan Bebas
Pembahasan mengenai Kartini di dalam karya Katoppo tidak begitu banyak dan bukan merupakan pembahasan pokok dari tulisannya. Meski demikian, terlihat jelas bagaimana Katoppo menyorot mengenai Kartini yang secara umum diagung-agungkan oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Dalam pembahasannya mengenai Kartini, Katoppo mengawali dengan menyebutkan tokoh perempuan bernama Dewi Sartika yang dinilainya merupakan seorang pendidik perempuan yang besar, yang mendirikan jaringan sekolah untuk perempuan di Jawa Barat namun tidak dibangunkan monumen untuk mengenang perjuangannya. Kartini bagi Katoppo sangatlah berbeda dengan Mary Wollstoncraft yang menulis beberapa karya yang kemudian menjadi sumbangan sangat penting di dalam membela hak-hak kaum perempuan. Warisan Kartini terdiri dari korespondensinya dengan laki-laki dan perempuan Belanda.
Orang Belanda sangat senang mendengar Kartini meminta-minta secara berulang “Berilah pendidikan kepada orang-orang Jawa... biarlah kami menjadi seperti kalian,” dan hal semacamnya. Hal tersebut bagi Katoppo sangat cocok dengan “etische politiek” mereka pada waktu itu, bahwa eksploitasi kaum “pribumi” dapat dilengkapi dengan sedikit pendidikan juga. Surat-surat Kartini telah disunting dengan teliti, sehingga untuk waktu yang lama para pembaca tidak tahu bahwa ia merupakan anak seorang selir dari bupati Japara, bukan anak istri pertama yang oleh Kartini dipanggil ‘ibu’. Perihal Kartini menerima dipoligami dan menikah dengan bupati Rembang yang sudah tua dan memiliki beberapa selir.
Katoppo dengan dengan tegas mengungkapkan bahwa seorang Kartini mungkin tertindas, namun ia sendiri juga seorang penindas, suatu kenyataan yang tidak dicatat oleh para penulis biografinya yang merasa kasihan bagi putri Jawa yang malang itu. Ia membuktikan hal itu secara konklusif ketika setuju menikah dengan Bupati Rembang dengan syarat bahwa ia harus menjadi istri utama. Jadi pembebasan perempuan di Asia jelas jangan mengikuti model Kartini.

Kartini; Tertindas atau Menindas
Mengeluarkan pernyataan bahwa Kartini yang memperjuangkan perempuan kenyataannya juga merupakan seorang penindas bukanlah sesuatu yang mudah dan cenderung lebih berisiko. Pikiran masyarakat Indonesia secara umum tentang Kartini adalah seorang sosok perempuan yang cerdas dan berani pada masanya. Maka memasukkannya dalam tokoh pahlawan nasional yang setiap tahunnya dikenang adalah sesuatu yang sangat layak untuk diterimanya. Oleh karena itu, datang dengan pendapat dan pandangan yang seolah-olah menyudutkannya atas fakta bahwa ia menuntut syarat dari pernikahannya agar dijadikan istri utama hanya akan menimbulkan kontroversi dan kebencian.
Mengenai beberapa fakta yang dihilangkan dalam biografi Kartini namun diungkapkan secara gamblang oleh Katoppo dalam bukunya dapat menjadi sebuah pencerahan dan pengetahuan baru mengenai seorang perempuan yang diagungkan dan dianggap tidak memiliki celah dalam masa perjuangannya. Katoppo tidak menganggap Kartini sebagai sebenar-benarnya pahlawan yang membebaskan perempuan secara utuh. Katoppo justru menegaskan agar perjuangan tidak mengikuti model Kartini.
Buku Katoppo yang baru diterbitkan sekitar 10 tahun lalu dalam bahasa Indonesia dan tidak beredar secara umum merupakan sebuah bentuk penjagaan dan kehati-hatian akan timbulnya beberapa masalah. Pada sisi negatif, menghindarkan akan banyaknya perempuan Kristen yang berfikiran maju dan bermaksud menuntut beberapa hal pada gereja. Sedangkan pada sisi positif, konflik bisa saja dipicu oleh kegamblangan Katoppo dalam mengkritisi Kartini. Seorang perempuan Jawa yang secara nasional dikenal sebagai sosok panutan dan akan selamanya demikian. Maka Katoppo hanya akan memantik api dan dianggap sebagai pemecah kepercayaan masyarakat. Terlebih lagi, Katoppo termasuk kaum minoritas secara agama di Indonesia.

Referensi
Katoppo, Marianne. Tersentuh dan Bebas. Aksara Karunia: Jakarta, 2007.
https://id.m.wikipedia.org/wiki/kartini (Diakses pada 19 November 2017)

Jumat, 13 Oktober 2017

Buku The Qur’an: A User’s Guide Karya Farid Esack



            Farid Esack mengawali karyanya dengan kata pengantar dan memberikan pengenalan mengenai buku yang ditulisnya dengan terlebih dahulu memaparkan beberapa metafora yang dipaparkan oleh beberapa cendekiawan. Salah satu yang dipaparkannya mengenai pendapat Cragg yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu serupa mutiara yang mana penyelam harus terlebih dahulu menyelam untuk membuka cangkang kerang lalu memastikan dan mengungkap rahasia harta karun di dalamnya. Berangkat dari hal ini, Farid juga mengutarakan pendapatnya mengenai Qur’an dengan memasang tema tentang keindahan dengan menyediakan peninjauan luas terhadap Qur’an dan ilmu pengetahuan mengenai al-Qur’an.
            Sebagaimana judul bukunya The Qur’an; A User’s Guide, buku ini memaparkan secara rinci tentang pengertian dari qur’an itu sendiri dan menyebutkan beberapa istilah untuk mendeskripsikan al-Qur’an itu seperti “a guide of humankind”, “a clear exposition of guidance”, “a distinguisher”, “a reminder”, “a healer” dan beberapa istilah lainnya. Hal ini sangat penting dipaparkan sebagai ilmu dasar yang harus diketahui oleh orang-orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Bahwa selain menjadi bahan bacaan, al-Qur’an mencakup segala hal dalam kehidupan umat manusia.
            Buku ini menjelaskan sejarah diturunkannya al-Qur’an, bagaimana ayat al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad serta memaparkan dengan jelas terkait beberapa perbedaan pendapat mengenai ayat apa saja yang pertama kali diturunkan. Seperti pula buku-buku lainnya yang membahas tentang sejarah diturunkannya al-Qur’an, pendapat-pendapat yang dipaparkan dalam buku ini mengacu kepada beberapa hadis Nabi saw. salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Aisyah bahwasanya ayat pertama kali turun ketika malaikat Jibril meminta Rasulullah untuk membaca dan Rasulullah hanya menjawab dengan kalimat “Aku tidak tahu membaca”, lalu malaikat Jibril mengulang perintahnya hingga tiga kali lalu Rasulullah membaca ayat yang diperintahkan tersebut dengan gemetaran, ayat yang merupakan tiga ayat pertama pada surah al-‘Alaq.
            Pemaparan yang sangat luas dan lengkap mengenai sejarah turunnya al-Qur’an hingga kondisi-kondisi yang berkaitan ketika al-Qur’an itu diturunkan. Bagaimana misi-misi Rasulullah sebagai seorang yang diberi tanggungjawab terhadap al-Qur’an tersebut, tantangan-tantangan yang diperoleh saat menghadapi masyarakat Madinah hingga ayat Qur’an yang terakhir kali diturunkan.
            Terdapat penjelasan-penjelasan mengenai bagaimana pembagian juz dan penyusunan al-Qur’an itu sesuai kronologi dan bukannya dengan tematik, bagaimana bahasa yang digunakan di dalam al-Qur’an yang disepakati oleh ulama merupakan Bahasa Quraisy, yaitu suku Rasulullah itu sendiri. Selain menjelaskan hal tersebut, yang lebih penting adalah, dipaparkannya contoh-contoh tentang kalimat-kalimat di dalam al-Qur’an yang memiliki nilai sastra yang begitu tinggi yang kebanyakan tidak terlepas dari rima yang menunjukkan sebuah penekanan dan keindahan.
            Hal yang menarik dari karya Farid Esack tentu saja penjelasannya yang terperinci di awal buku ini mengenai tipologi pembaca teks al-Qur’an yang kemudian dibaginya menjadi enam tipe. Hal lain yang menarik dari kandungan buku ini adalah terdapatnya sebuah pembahasan mengenai hermeneutika al-Qur’an. Hal yang jarang dijumpai pada buku-buku ulumul qur’an yang serupa. Namun ini tidak mengherankan setelah mengetahui bahwasanya Farid Esack juga merupakan seorang yang banyak menulis gagasan mengenai hermeneutika.
            Untuk ukuran buku setebal 200-an halaman, buku yang disusun Farid Esack ini cukup lengkap untuk menjadi sebuah buku pengantar bagi orang-orang yang hendak mempelajari mengenai ilmu-ilmu al-Qur’an. Poin-poin yang dipaparkan meski belum mencantumkan keseluruhan mengenai ilmu-ilmu al-Qur’an itu sendiri, buku ini sudah cukup mewakili apa yang hendak diketahui orang-orang. Namun, sebaiknya buku ini tidak berhenti begitu saja setelah memaparkan beberapa nasihat-nasihat yang terkandung di dalam al-Qur’an. Sebab sebagaimana terdapat dalam buku yang lain seperti Pengantar Studi Ilmu al-Qur’an karya Manna’ al-Qattan, buku tersebut memaparkan lebih banyak ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an seperti; kaidah-kaidah penting untuk para Mufassir, nasikh dan mansukh, qasam, amtsal, jadal serta kitab-kitab tafsir dari masa ke masa. Oleh karenanya, akan lebih baik jika Farid Esack menyusun karya lanjutan dari buku A User’s Guide ini.
            Bentuk takzim reviewer terhadap Farid Esack saat mendapati pada bagian akhir buku yang disusunnya ia mencantumkan kalimat “God Knows Better” sebagai bentuk pengakuan bahwasanya segala yang dituliskannya semata-semata pengetahuan dari Allah, dan adapun kesalahan datang dari dirinya sendiri. Allah yang Maha Mengetahui segalanya adalah satu kalimat yang seharusnya diucapkan oleh setiap orang untuk mengakui bahwa tidak ada seorangpun yang berhak mengkalim dirinya yang paling benar.  
Wallahu a’lam.

                          

Jumat, 01 September 2017

Tetirah oleh Irhyl R Makkatutu

            



“Debar itu selalu saja baru, aku tak pernah bisa percaya—kita menjadi sepasang pakaian yang bisa dikenakan kapan pun, tanpa kenal musim hujan atau kemarau, tanpa ada musim tanam atau musim panen. Aku bisa melebur dalam dirimu dan kamu bisa memenjarakanku dalam pelukanmu—kapan pun itu.”
            Salah satu kutipan dari buku kumpulan cerpen ‘Tetirah; yang berjalan dari dan kepada cinta’ yang pertama kali saya beri stabilo sebagai tanda bahwa makna dari paragraf tersebut sangatlah indah. Saya menemukannya di cerpen pertama yang berjudul Ribang Geliang. Membaca cerpen tersebut di sisi masjid terapung Amirul Mukminin Losari di suatu sore menjelang magrib. Hari itu saya dan Cece memang hendak menghabiskan waktu di luar rumah. Berjalan keliling Makassar bermodalkan google maps sepertinya harus dilakukan sebelum akhirnya meninggalkan kota ini untuk rantau yang lebih jauh. Sejujurnya kami merasa lelah. Namun bayangan tentang bakso bakar di tepi pantai Losari yang pernah kami makan beberapa pekan lalu membuat kami tak gentar walau diserang lelah. Maka sembari menunggu malam tiba, kami beristirahat di masjid terapung sekaligus menikmati indahnya pemandangan sore itu. Tetirah juga ikut serta. Padahal siang itu Tetirah baru saja sampai di tanganku. Diantarkan langsung oleh penulisnya, Irhyl R Makkatutu, penulis produktif asal Bulukumba yang masih jomblo dan telah menerbitkan beberapa antologi cerpen. Tulisan-tulisannya juga sudah pernah dimuat di beberapa media cetak yang ada di Sulawesi.
            Tetirah terbit di tahun 2017 entah bulan berapa, setidaknya saya tidak begitu terlambat membacanya walau tahun 2017 sudah tak lama lagi berakhir. Ditawari langsung oleh penulisnya dan tak membuatku ragu untuk memesan satu karena memang sudah mengenal penulisnya, mengenal tulisan-tulisannya. Dan tentu saja, saat memesan buku ini saya tak ingin merasa rugi. Harus ada tanda tangan penulisnya, kata-kata mutiara dan kalau perlu ada cap jempol dan juga foto ukuran 3x4 yang ditempelkan pada halaman pertama buku tersebut. Hehehe .... ini agak berlebihan.
            Adakah yang bertanya-tanya apa itu Tetirah? Ataukah saya satu-satunya orang yang tidak tahu apa arti dari Tetirah? Tidak sah rasanya membaca buku tersebut tanpa faham makna dari judulnya. Maka sangatlah penting memiliki aplikasi kamus Bahasa Indonesia di ponsel agar bisa kapan pun memeriksa kata yang tidak difahami. Dalam KBBI Tetirah bermakna pergi ke tempat lain dan tinggal sementara waktu (untuk memulihkan kesehatan dsb).
            Mengapa penulis memberi judul bukunya dengan Tetirah? Tetirah diambil dari salah satu judul cerpen yang ada dalam buku tersebut. Kalau kau penasaran, bisa memesan bukunya kepada si penulis. Di sini, saya hanya akan menyajikanmu satu kalimat yang menurutku keren pada cerpen berjudul Tetirah Cinta.
            “Harusnya cinta bisa membuatmu kuat, bukan rapuh. Bagaimana caramu mempertahankan orang yang kau cintai jika kau sendiri rapuh?”
            Itu adalah penggalan kalimat yang disampaikan kepada Sahar oleh ibunya yang ternyata mampu membuat Sahar pulih dan tak lagi mengurung diri di dalam kamar.
            Bagi kalian yang sudah pernah membaca tulisan Irhyl R Makkatutu entah di akun facebooknya atau di koran-koran, kau tentu faham bagaimana cara ia mengakhiri setiap kisah yang dibuatnya. Ia mengakhirinya tanpa sebuah akhir. Ia menggantungnya, ia memberimu kejutan, ia membiarkanmu menyimpulkan sendiri. Dan bagi saya, salah satu yang menarik dari tulisan-tulisan Irhyl R Makkatutu adalah hal tersebut. Hal lain yang selalu memikat dari tulisan-tulisannya adalah kalimat-kalimatnya yang bukan hanya sekadar kalimat. Terkadang saya berfikir, darimana gerangan ia mendapat pengetahuan seperti itu. Namun bukankah penulis memang seharusnya memiliki modal tersebut? Jika hanya sekadar kalimat yang tanpa makna dan tak juga indah, lalu mengapa menulis?
            Cerpen yang paling saya suka di antara 20 cerpen yang ada adalah tulisan yang berjudul Membunuh Ayah. Dalam tulisan tersebut penulis menuangkan idenya dengan kritis melalui tokoh yang dibuatnya. Hal ini dapat dilihat pada halaman pertama cerpen itu. Percakapan antara ayah dan anak untuk tidak memulai tulisan dengan kalimat suatu ketika dan semacamnya. Bagi sang ayah, hal tersebut tidak menarik dan seperti sedang mendongengkan seorang anak. Lalu ia mengambil buku Paulo Coelho yang berjudul Sebelas Menit dan menunjukkan kalimat pertama yang berbunyi Pada zaman dahulu kala.
            Membaca judulnya tentu membuatmu penasaran bagaiamana seorang anak membunuh ayahnya, mengapa sampai ia tega melakukannya? Perlu kalian tahu, membunuh yang dimaksudkannya sama sekali tak sama dengan yang ada dalam pikiranmu. Kurasa berapa macam pun tindakan yang bisa kau anggap sebagai membunuh, kau tak akan sepikiran dengan Irhyl R Makkatutu. Dan disitulah hebatnya dia. Kau tak mampu menebak isi kepalanya, kau tak tahu bagaimana cara ia mengakhiri setiap kisah yang dituliskannya.
            Saya menemukan kesalahan dalam buku ini. Satu di antaranya ada pada cerpen berjudul Warani. Pada awal-awal cerpen penulis menuliskan tentang lima saudaranya yang telah menikah. Namun pada beberapa paragraf setelahnya ia menyebutkan bahwa Warani—kucing pemangsa tikus di rumahnya—merupakan anggota keluarganya yang ke delapan yang mana ayahnya sebagai kepala keluarga. Di paragfraf selanjutnya ia pun menuliskan lagi bahwa ia ada lima orang bersaudara, empat di antaranya sudah menikah.
            Namun itu tentu hanya kesalahan menghitung. Dua di antara beberapa kesalahan dalam buku tersebut adalah ketidakkonsistenan penjelasan pada penggunaan bahasa daerah. Dalam beberapa cerpen, penjelasan dari bahasa daerah yang digunakan akan dituliskan tepat di samping bahasa daerah tersebut, namun pada cerpen berjudul Surat Hujan penulis menjelaskan bahasa daerah yang digunakannya pada catatan kaki. Sebaiknya, menurut saya pribadi, penjelasannya diletakkan tepat di samping bahasa daerah tersebut. Lebih menarik dan tak merepotkan pembaca untuk membolak-balik halaman hanya untuk membaca catatan kaki.
            Sebelum mengakhiri review abal-abal ini, berikut saya cantumkan beberapa kutipan dalam buku Tetirah:
            “Aku ingin ada untukmu sebagai napas yang meminta kepada Tuhan agar lebih lama dalam tubuhmu.”
            “Pilihan tetaplah kamu, jatuh pada peluk. Aku ingin menyerah kepadamu serupa kehidupan menyerah ada kematian.”
            “Tapi, begitulah cara kerja kenangan, bisa mengabadikan dirinya sendiri.”
            “Kini disadarinya, satu-satunya hal yang paling pasti tentang masa depan bukan cinta, tapi kematian.”
            “Akhirnya aku tahu, setiap orang akan menangis, siapa pun dia.”
            “Pernikahan bukan untuk beternak cinta, tapi untuk mengembangkan keturunan dan bukti keberanian bertanggung jawab.”
            “Bukan takut, tidak ada lelaki yang layak takut pada perempuan, sebab perempuan bukan untuk ditakuti, tapi untuk dicintai dan dilindungi.”
            “Kepala boleh rantau, tapi hati tetap kampung halaman.”


            

Minggu, 07 Mei 2017

Dalam Sujud Syukur Itsna


Selamat menempuh hidup baru, Undokuuuu ..... Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah serta dikaruniai keturunan yang saleh dan salehah. Amiin. 


            Lima malam berlalu namun Itsna belum juga mendapatkan petunjuk berupa mimpi yang diharapkannya. Doa-doanya yang panjang dan begitu tulus dipanjatkan usai melaksanakan istikharah adalah usahanya untuk berbicara pada Sang Pencipta mengenai perasaan yang melandanya lima hari belakangan. Getaran dalam hatinya tak pernah sehebat itu sebelumnya. Semua ini terjadi saat Jahid mengutarakan niat tulus untuk melamarnya. Hari itu di sebuah warung makan, untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasakan ada sesuatu yang tumbuh dalam hatinya.
            Di suatu siang ia mendapat pesan dari Jahid untuk bertemu. Itsna tak menaruh curiga sedikit pun terhadap seniornya yang terpaut usia empat tahun darinya tersebut. Dengan santai Itsna mengiyakan ajakan tersebut. Berdua. Entah apa yang terjadi pada dirinya kala itu, ia pun tak mampu menjelaskannya. Ia hanya merasa ada yang menggerakkan jemarinya untuk segera membalas pesan dari lelaki yang sebenarnya tak begitu akrab dengannya. Apa yang terjadi pada dirinya? Bukankah ia sendiri tak pernah menanggapi pesan-pesan yang dikirimkan dari lelaki-lelaki yang hanya hendak berbasa-basi padanya?
            “Kenapa mengajak bertemu, Kak?” Tanya Itsna memulai pembicaraann saat mendapati Jahid yang hanya diam ketika mereka sudah berhadapan selama sepuluh menit.
            Jahid tersentak kaget. Ia tidak bisa menyembunyikan kegugupan di hadapan perempuan yang sejak lama sudah dicintainya diam-diam itu. Namun ia harus berbicara. Menjelaskan segala yang menggebu-gebu dalam hatinya. Toh, ia tidak berniat mengajak Itsna memulai hubungan yang tidak jelas. Ia ingin mengajaknya menikah, mengikrarkan janji suci untuk sehidup-semati.
            “Ekhem ... Maaf kalau terpaksa mengajakmu bertemu berdua. Sejujurnya aku tidak yakin kau akan membalas pesanku secepat itu ...” Ucapan Jahid digantung. Ia masih merasa gugup, ia takut salah berbicara. Itsna hanya tersenyum, menyimpan tanya di matanya yang indah..
            “Aku hampir menyerah saat beberapa temanku yang kuminta menyampaikan sesuatu padamu namun tak kau tanggapi seperti yang kuharapkan.” Jahid diam lagi beberapa saat, membiarkan Itsna mencerna kalimatnya, membiarkan Itsna mengingat orang-orang yang pernah datang kepadanya, menyampaikan sesuatu yang sebenarnya penting namun diabaikan.
            Itsna mulai menerawang, menyeringai pada Jahid tatkala ia mengingat satu per satu orang yang dimaksud Jahid.
            “Aku serius, Dik. Mungkin terdengar nekat atau mendadak, tapi aku sudah memikirkan ini cukup lama. Aku ingin melamarmu, menjadikanmu istriku. Apakah kau bersedia?”
            Itsna tertegun. Ia gugup, jantungnya berdebar hebat. Ada sesuatu dalam hatinya yang tiba-tiba muncul, sesuatu yang membuatnya ingin tersenyum namun berusaha ditahannyya. Ia harus menepis perasaan yang tidak diketahuinya itu. Atau ia sebenarnya tahu namun berusaha menyembunyikannya. Ia takut menaruh hati pada orang yang tak begitu dikenalnya, ia tak ingin jatuh cinta pada siapa pun. Ini bukan waktu yang tepat untuk jatuh cinta, ini tak boleh terjadi. Namun semakin ia menepis perasaan itu, getarannya semakin terasa. Tuhan, apa yang terjadi padanya. Ia tak pernah jatuh cinta sebelumnya, namun mengapa pada lelaki yang ada di hadapannya tersebut, ia merasakan sesuatu yang tak pernah dirasakan sebelumnya? Bolehkah ia jatuh cinta, Tuhan? Ia meringis takut.
            “Mendadak, benar-benar mendadak. Aku tidak dikerjain, kan? Jangan-jangan ada CCTV di sini.” Itsna berusaha mencairkan kebekuan pada dirinya.
            Jahid tersenyum, ia lega telah mengutarakan semuanya dan mulai berbicara lagi, “Kau boleh menjawabnya sekarang atau pun beberapa hari setelah ini. Aku tidak akan keberatan. Kita tidak begitu akrab, dan kau sangat wajar jika apa yang kuucapkan membuatmu merasa ragu.”
            “Aku tidak tahu soal ini, Kak. Aku tidak akan menjawabnya namun jika serius, silakan datang pada ibuku mengenai niat suci tersebut. Aku ikut keputusan ibuku.” Jawab Itsna spontan. Ada keyakinan di sisi lain hatinya yang membuatnya menjawab demikian. Jahid tersenyum, tantangan lebih besar akan dihadapinya. Namun ia sudah bertekad takkan menyerah sebelum benar-benar mendapatkan penolakan.
            Sementara Itsna berusaha menemukan jawaban, Jahid sudah mempersiapkan segalanya. Dua hari lagi ia akan ke Jeneponto menemui Ibu kandung Itsna. Mungkinkah itu sudah menjadi tanda bahwa ada restu Sang Pencipta di sana? Saat semua urusan tak memperoleh hambatan, saat perasaan yang tumbuh di hati Itsna semakin kuat.
            Maka pada hari saat Itsna mendapat kabar dari ibunya sendiri bahwa lamaran lelaki tersebut diterimanya, Itsna sujud syukur. Ia tak percaya betapa jodoh bekerja demikian ajaib. Ia memang tak mendapatkan petunjuk melalui mimpi, namun ia bisa merasakan bahwa Tuhan menuntun hatinya untuk jatuh cinta hanya pada Jahid.
            “Alhamdulillah atas karunia-Mu, hanya kepada-Mu hamba memohon tuntunan untuk babak baru dalam hidup hamba kelak, Ya Allah. Hamba percaya bahwa lelaki yang akan mendampingi hamba adalah ia yang telah Engkau pilihkan untukku. Terima kasih, Ya Allah. Semoga ia menjadi imam bagiku di dunia dan di akhirat-Mu kelak. Amiin.” Ucap Itsna lirih mengakhiri sujud syukurnya.

***


Cat: Atas izin mempelai wanita, maka aku mengisahkannya. Semoga engkau para lelaki menjadi lebih berani memulai hubungan yang serius, dan agar engkau perempuan tak banyak cemas perihal jodoh. Dia adalah sebagaimana dirimu. Tuhan Maha Tahu yang tepat untukmu.