Jumat, 13 Oktober 2017

Buku The Qur’an: A User’s Guide Karya Farid Esack



            Farid Esack mengawali karyanya dengan kata pengantar dan memberikan pengenalan mengenai buku yang ditulisnya dengan terlebih dahulu memaparkan beberapa metafora yang dipaparkan oleh beberapa cendekiawan. Salah satu yang dipaparkannya mengenai pendapat Cragg yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu serupa mutiara yang mana penyelam harus terlebih dahulu menyelam untuk membuka cangkang kerang lalu memastikan dan mengungkap rahasia harta karun di dalamnya. Berangkat dari hal ini, Farid juga mengutarakan pendapatnya mengenai Qur’an dengan memasang tema tentang keindahan dengan menyediakan peninjauan luas terhadap Qur’an dan ilmu pengetahuan mengenai al-Qur’an.
            Sebagaimana judul bukunya The Qur’an; A User’s Guide, buku ini memaparkan secara rinci tentang pengertian dari qur’an itu sendiri dan menyebutkan beberapa istilah untuk mendeskripsikan al-Qur’an itu seperti “a guide of humankind”, “a clear exposition of guidance”, “a distinguisher”, “a reminder”, “a healer” dan beberapa istilah lainnya. Hal ini sangat penting dipaparkan sebagai ilmu dasar yang harus diketahui oleh orang-orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Bahwa selain menjadi bahan bacaan, al-Qur’an mencakup segala hal dalam kehidupan umat manusia.
            Buku ini menjelaskan sejarah diturunkannya al-Qur’an, bagaimana ayat al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad serta memaparkan dengan jelas terkait beberapa perbedaan pendapat mengenai ayat apa saja yang pertama kali diturunkan. Seperti pula buku-buku lainnya yang membahas tentang sejarah diturunkannya al-Qur’an, pendapat-pendapat yang dipaparkan dalam buku ini mengacu kepada beberapa hadis Nabi saw. salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Aisyah bahwasanya ayat pertama kali turun ketika malaikat Jibril meminta Rasulullah untuk membaca dan Rasulullah hanya menjawab dengan kalimat “Aku tidak tahu membaca”, lalu malaikat Jibril mengulang perintahnya hingga tiga kali lalu Rasulullah membaca ayat yang diperintahkan tersebut dengan gemetaran, ayat yang merupakan tiga ayat pertama pada surah al-‘Alaq.
            Pemaparan yang sangat luas dan lengkap mengenai sejarah turunnya al-Qur’an hingga kondisi-kondisi yang berkaitan ketika al-Qur’an itu diturunkan. Bagaimana misi-misi Rasulullah sebagai seorang yang diberi tanggungjawab terhadap al-Qur’an tersebut, tantangan-tantangan yang diperoleh saat menghadapi masyarakat Madinah hingga ayat Qur’an yang terakhir kali diturunkan.
            Terdapat penjelasan-penjelasan mengenai bagaimana pembagian juz dan penyusunan al-Qur’an itu sesuai kronologi dan bukannya dengan tematik, bagaimana bahasa yang digunakan di dalam al-Qur’an yang disepakati oleh ulama merupakan Bahasa Quraisy, yaitu suku Rasulullah itu sendiri. Selain menjelaskan hal tersebut, yang lebih penting adalah, dipaparkannya contoh-contoh tentang kalimat-kalimat di dalam al-Qur’an yang memiliki nilai sastra yang begitu tinggi yang kebanyakan tidak terlepas dari rima yang menunjukkan sebuah penekanan dan keindahan.
            Hal yang menarik dari karya Farid Esack tentu saja penjelasannya yang terperinci di awal buku ini mengenai tipologi pembaca teks al-Qur’an yang kemudian dibaginya menjadi enam tipe. Hal lain yang menarik dari kandungan buku ini adalah terdapatnya sebuah pembahasan mengenai hermeneutika al-Qur’an. Hal yang jarang dijumpai pada buku-buku ulumul qur’an yang serupa. Namun ini tidak mengherankan setelah mengetahui bahwasanya Farid Esack juga merupakan seorang yang banyak menulis gagasan mengenai hermeneutika.
            Untuk ukuran buku setebal 200-an halaman, buku yang disusun Farid Esack ini cukup lengkap untuk menjadi sebuah buku pengantar bagi orang-orang yang hendak mempelajari mengenai ilmu-ilmu al-Qur’an. Poin-poin yang dipaparkan meski belum mencantumkan keseluruhan mengenai ilmu-ilmu al-Qur’an itu sendiri, buku ini sudah cukup mewakili apa yang hendak diketahui orang-orang. Namun, sebaiknya buku ini tidak berhenti begitu saja setelah memaparkan beberapa nasihat-nasihat yang terkandung di dalam al-Qur’an. Sebab sebagaimana terdapat dalam buku yang lain seperti Pengantar Studi Ilmu al-Qur’an karya Manna’ al-Qattan, buku tersebut memaparkan lebih banyak ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an seperti; kaidah-kaidah penting untuk para Mufassir, nasikh dan mansukh, qasam, amtsal, jadal serta kitab-kitab tafsir dari masa ke masa. Oleh karenanya, akan lebih baik jika Farid Esack menyusun karya lanjutan dari buku A User’s Guide ini.
            Bentuk takzim reviewer terhadap Farid Esack saat mendapati pada bagian akhir buku yang disusunnya ia mencantumkan kalimat “God Knows Better” sebagai bentuk pengakuan bahwasanya segala yang dituliskannya semata-semata pengetahuan dari Allah, dan adapun kesalahan datang dari dirinya sendiri. Allah yang Maha Mengetahui segalanya adalah satu kalimat yang seharusnya diucapkan oleh setiap orang untuk mengakui bahwa tidak ada seorangpun yang berhak mengkalim dirinya yang paling benar.  
Wallahu a’lam.

                          

Jumat, 01 September 2017

Tetirah oleh Irhyl R Makkatutu

            



“Debar itu selalu saja baru, aku tak pernah bisa percaya—kita menjadi sepasang pakaian yang bisa dikenakan kapan pun, tanpa kenal musim hujan atau kemarau, tanpa ada musim tanam atau musim panen. Aku bisa melebur dalam dirimu dan kamu bisa memenjarakanku dalam pelukanmu—kapan pun itu.”
            Salah satu kutipan dari buku kumpulan cerpen ‘Tetirah; yang berjalan dari dan kepada cinta’ yang pertama kali saya beri stabilo sebagai tanda bahwa makna dari paragraf tersebut sangatlah indah. Saya menemukannya di cerpen pertama yang berjudul Ribang Geliang. Membaca cerpen tersebut di sisi masjid terapung Amirul Mukminin Losari di suatu sore menjelang magrib. Hari itu saya dan Cece memang hendak menghabiskan waktu di luar rumah. Berjalan keliling Makassar bermodalkan google maps sepertinya harus dilakukan sebelum akhirnya meninggalkan kota ini untuk rantau yang lebih jauh. Sejujurnya kami merasa lelah. Namun bayangan tentang bakso bakar di tepi pantai Losari yang pernah kami makan beberapa pekan lalu membuat kami tak gentar walau diserang lelah. Maka sembari menunggu malam tiba, kami beristirahat di masjid terapung sekaligus menikmati indahnya pemandangan sore itu. Tetirah juga ikut serta. Padahal siang itu Tetirah baru saja sampai di tanganku. Diantarkan langsung oleh penulisnya, Irhyl R Makkatutu, penulis produktif asal Bulukumba yang masih jomblo dan telah menerbitkan beberapa antologi cerpen. Tulisan-tulisannya juga sudah pernah dimuat di beberapa media cetak yang ada di Sulawesi.
            Tetirah terbit di tahun 2017 entah bulan berapa, setidaknya saya tidak begitu terlambat membacanya walau tahun 2017 sudah tak lama lagi berakhir. Ditawari langsung oleh penulisnya dan tak membuatku ragu untuk memesan satu karena memang sudah mengenal penulisnya, mengenal tulisan-tulisannya. Dan tentu saja, saat memesan buku ini saya tak ingin merasa rugi. Harus ada tanda tangan penulisnya, kata-kata mutiara dan kalau perlu ada cap jempol dan juga foto ukuran 3x4 yang ditempelkan pada halaman pertama buku tersebut. Hehehe .... ini agak berlebihan.
            Adakah yang bertanya-tanya apa itu Tetirah? Ataukah saya satu-satunya orang yang tidak tahu apa arti dari Tetirah? Tidak sah rasanya membaca buku tersebut tanpa faham makna dari judulnya. Maka sangatlah penting memiliki aplikasi kamus Bahasa Indonesia di ponsel agar bisa kapan pun memeriksa kata yang tidak difahami. Dalam KBBI Tetirah bermakna pergi ke tempat lain dan tinggal sementara waktu (untuk memulihkan kesehatan dsb).
            Mengapa penulis memberi judul bukunya dengan Tetirah? Tetirah diambil dari salah satu judul cerpen yang ada dalam buku tersebut. Kalau kau penasaran, bisa memesan bukunya kepada si penulis. Di sini, saya hanya akan menyajikanmu satu kalimat yang menurutku keren pada cerpen berjudul Tetirah Cinta.
            “Harusnya cinta bisa membuatmu kuat, bukan rapuh. Bagaimana caramu mempertahankan orang yang kau cintai jika kau sendiri rapuh?”
            Itu adalah penggalan kalimat yang disampaikan kepada Sahar oleh ibunya yang ternyata mampu membuat Sahar pulih dan tak lagi mengurung diri di dalam kamar.
            Bagi kalian yang sudah pernah membaca tulisan Irhyl R Makkatutu entah di akun facebooknya atau di koran-koran, kau tentu faham bagaimana cara ia mengakhiri setiap kisah yang dibuatnya. Ia mengakhirinya tanpa sebuah akhir. Ia menggantungnya, ia memberimu kejutan, ia membiarkanmu menyimpulkan sendiri. Dan bagi saya, salah satu yang menarik dari tulisan-tulisan Irhyl R Makkatutu adalah hal tersebut. Hal lain yang selalu memikat dari tulisan-tulisannya adalah kalimat-kalimatnya yang bukan hanya sekadar kalimat. Terkadang saya berfikir, darimana gerangan ia mendapat pengetahuan seperti itu. Namun bukankah penulis memang seharusnya memiliki modal tersebut? Jika hanya sekadar kalimat yang tanpa makna dan tak juga indah, lalu mengapa menulis?
            Cerpen yang paling saya suka di antara 20 cerpen yang ada adalah tulisan yang berjudul Membunuh Ayah. Dalam tulisan tersebut penulis menuangkan idenya dengan kritis melalui tokoh yang dibuatnya. Hal ini dapat dilihat pada halaman pertama cerpen itu. Percakapan antara ayah dan anak untuk tidak memulai tulisan dengan kalimat suatu ketika dan semacamnya. Bagi sang ayah, hal tersebut tidak menarik dan seperti sedang mendongengkan seorang anak. Lalu ia mengambil buku Paulo Coelho yang berjudul Sebelas Menit dan menunjukkan kalimat pertama yang berbunyi Pada zaman dahulu kala.
            Membaca judulnya tentu membuatmu penasaran bagaiamana seorang anak membunuh ayahnya, mengapa sampai ia tega melakukannya? Perlu kalian tahu, membunuh yang dimaksudkannya sama sekali tak sama dengan yang ada dalam pikiranmu. Kurasa berapa macam pun tindakan yang bisa kau anggap sebagai membunuh, kau tak akan sepikiran dengan Irhyl R Makkatutu. Dan disitulah hebatnya dia. Kau tak mampu menebak isi kepalanya, kau tak tahu bagaimana cara ia mengakhiri setiap kisah yang dituliskannya.
            Saya menemukan kesalahan dalam buku ini. Satu di antaranya ada pada cerpen berjudul Warani. Pada awal-awal cerpen penulis menuliskan tentang lima saudaranya yang telah menikah. Namun pada beberapa paragraf setelahnya ia menyebutkan bahwa Warani—kucing pemangsa tikus di rumahnya—merupakan anggota keluarganya yang ke delapan yang mana ayahnya sebagai kepala keluarga. Di paragfraf selanjutnya ia pun menuliskan lagi bahwa ia ada lima orang bersaudara, empat di antaranya sudah menikah.
            Namun itu tentu hanya kesalahan menghitung. Dua di antara beberapa kesalahan dalam buku tersebut adalah ketidakkonsistenan penjelasan pada penggunaan bahasa daerah. Dalam beberapa cerpen, penjelasan dari bahasa daerah yang digunakan akan dituliskan tepat di samping bahasa daerah tersebut, namun pada cerpen berjudul Surat Hujan penulis menjelaskan bahasa daerah yang digunakannya pada catatan kaki. Sebaiknya, menurut saya pribadi, penjelasannya diletakkan tepat di samping bahasa daerah tersebut. Lebih menarik dan tak merepotkan pembaca untuk membolak-balik halaman hanya untuk membaca catatan kaki.
            Sebelum mengakhiri review abal-abal ini, berikut saya cantumkan beberapa kutipan dalam buku Tetirah:
            “Aku ingin ada untukmu sebagai napas yang meminta kepada Tuhan agar lebih lama dalam tubuhmu.”
            “Pilihan tetaplah kamu, jatuh pada peluk. Aku ingin menyerah kepadamu serupa kehidupan menyerah ada kematian.”
            “Tapi, begitulah cara kerja kenangan, bisa mengabadikan dirinya sendiri.”
            “Kini disadarinya, satu-satunya hal yang paling pasti tentang masa depan bukan cinta, tapi kematian.”
            “Akhirnya aku tahu, setiap orang akan menangis, siapa pun dia.”
            “Pernikahan bukan untuk beternak cinta, tapi untuk mengembangkan keturunan dan bukti keberanian bertanggung jawab.”
            “Bukan takut, tidak ada lelaki yang layak takut pada perempuan, sebab perempuan bukan untuk ditakuti, tapi untuk dicintai dan dilindungi.”
            “Kepala boleh rantau, tapi hati tetap kampung halaman.”


            

Minggu, 07 Mei 2017

Dalam Sujud Syukur Itsna


Selamat menempuh hidup baru, Undokuuuu ..... Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah serta dikaruniai keturunan yang saleh dan salehah. Amiin. 


            Lima malam berlalu namun Itsna belum juga mendapatkan petunjuk berupa mimpi yang diharapkannya. Doa-doanya yang panjang dan begitu tulus dipanjatkan usai melaksanakan istikharah adalah usahanya untuk berbicara pada Sang Pencipta mengenai perasaan yang melandanya lima hari belakangan. Getaran dalam hatinya tak pernah sehebat itu sebelumnya. Semua ini terjadi saat Jahid mengutarakan niat tulus untuk melamarnya. Hari itu di sebuah warung makan, untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasakan ada sesuatu yang tumbuh dalam hatinya.
            Di suatu siang ia mendapat pesan dari Jahid untuk bertemu. Itsna tak menaruh curiga sedikit pun terhadap seniornya yang terpaut usia empat tahun darinya tersebut. Dengan santai Itsna mengiyakan ajakan tersebut. Berdua. Entah apa yang terjadi pada dirinya kala itu, ia pun tak mampu menjelaskannya. Ia hanya merasa ada yang menggerakkan jemarinya untuk segera membalas pesan dari lelaki yang sebenarnya tak begitu akrab dengannya. Apa yang terjadi pada dirinya? Bukankah ia sendiri tak pernah menanggapi pesan-pesan yang dikirimkan dari lelaki-lelaki yang hanya hendak berbasa-basi padanya?
            “Kenapa mengajak bertemu, Kak?” Tanya Itsna memulai pembicaraann saat mendapati Jahid yang hanya diam ketika mereka sudah berhadapan selama sepuluh menit.
            Jahid tersentak kaget. Ia tidak bisa menyembunyikan kegugupan di hadapan perempuan yang sejak lama sudah dicintainya diam-diam itu. Namun ia harus berbicara. Menjelaskan segala yang menggebu-gebu dalam hatinya. Toh, ia tidak berniat mengajak Itsna memulai hubungan yang tidak jelas. Ia ingin mengajaknya menikah, mengikrarkan janji suci untuk sehidup-semati.
            “Ekhem ... Maaf kalau terpaksa mengajakmu bertemu berdua. Sejujurnya aku tidak yakin kau akan membalas pesanku secepat itu ...” Ucapan Jahid digantung. Ia masih merasa gugup, ia takut salah berbicara. Itsna hanya tersenyum, menyimpan tanya di matanya yang indah..
            “Aku hampir menyerah saat beberapa temanku yang kuminta menyampaikan sesuatu padamu namun tak kau tanggapi seperti yang kuharapkan.” Jahid diam lagi beberapa saat, membiarkan Itsna mencerna kalimatnya, membiarkan Itsna mengingat orang-orang yang pernah datang kepadanya, menyampaikan sesuatu yang sebenarnya penting namun diabaikan.
            Itsna mulai menerawang, menyeringai pada Jahid tatkala ia mengingat satu per satu orang yang dimaksud Jahid.
            “Aku serius, Dik. Mungkin terdengar nekat atau mendadak, tapi aku sudah memikirkan ini cukup lama. Aku ingin melamarmu, menjadikanmu istriku. Apakah kau bersedia?”
            Itsna tertegun. Ia gugup, jantungnya berdebar hebat. Ada sesuatu dalam hatinya yang tiba-tiba muncul, sesuatu yang membuatnya ingin tersenyum namun berusaha ditahannyya. Ia harus menepis perasaan yang tidak diketahuinya itu. Atau ia sebenarnya tahu namun berusaha menyembunyikannya. Ia takut menaruh hati pada orang yang tak begitu dikenalnya, ia tak ingin jatuh cinta pada siapa pun. Ini bukan waktu yang tepat untuk jatuh cinta, ini tak boleh terjadi. Namun semakin ia menepis perasaan itu, getarannya semakin terasa. Tuhan, apa yang terjadi padanya. Ia tak pernah jatuh cinta sebelumnya, namun mengapa pada lelaki yang ada di hadapannya tersebut, ia merasakan sesuatu yang tak pernah dirasakan sebelumnya? Bolehkah ia jatuh cinta, Tuhan? Ia meringis takut.
            “Mendadak, benar-benar mendadak. Aku tidak dikerjain, kan? Jangan-jangan ada CCTV di sini.” Itsna berusaha mencairkan kebekuan pada dirinya.
            Jahid tersenyum, ia lega telah mengutarakan semuanya dan mulai berbicara lagi, “Kau boleh menjawabnya sekarang atau pun beberapa hari setelah ini. Aku tidak akan keberatan. Kita tidak begitu akrab, dan kau sangat wajar jika apa yang kuucapkan membuatmu merasa ragu.”
            “Aku tidak tahu soal ini, Kak. Aku tidak akan menjawabnya namun jika serius, silakan datang pada ibuku mengenai niat suci tersebut. Aku ikut keputusan ibuku.” Jawab Itsna spontan. Ada keyakinan di sisi lain hatinya yang membuatnya menjawab demikian. Jahid tersenyum, tantangan lebih besar akan dihadapinya. Namun ia sudah bertekad takkan menyerah sebelum benar-benar mendapatkan penolakan.
            Sementara Itsna berusaha menemukan jawaban, Jahid sudah mempersiapkan segalanya. Dua hari lagi ia akan ke Jeneponto menemui Ibu kandung Itsna. Mungkinkah itu sudah menjadi tanda bahwa ada restu Sang Pencipta di sana? Saat semua urusan tak memperoleh hambatan, saat perasaan yang tumbuh di hati Itsna semakin kuat.
            Maka pada hari saat Itsna mendapat kabar dari ibunya sendiri bahwa lamaran lelaki tersebut diterimanya, Itsna sujud syukur. Ia tak percaya betapa jodoh bekerja demikian ajaib. Ia memang tak mendapatkan petunjuk melalui mimpi, namun ia bisa merasakan bahwa Tuhan menuntun hatinya untuk jatuh cinta hanya pada Jahid.
            “Alhamdulillah atas karunia-Mu, hanya kepada-Mu hamba memohon tuntunan untuk babak baru dalam hidup hamba kelak, Ya Allah. Hamba percaya bahwa lelaki yang akan mendampingi hamba adalah ia yang telah Engkau pilihkan untukku. Terima kasih, Ya Allah. Semoga ia menjadi imam bagiku di dunia dan di akhirat-Mu kelak. Amiin.” Ucap Itsna lirih mengakhiri sujud syukurnya.

***


Cat: Atas izin mempelai wanita, maka aku mengisahkannya. Semoga engkau para lelaki menjadi lebih berani memulai hubungan yang serius, dan agar engkau perempuan tak banyak cemas perihal jodoh. Dia adalah sebagaimana dirimu. Tuhan Maha Tahu yang tepat untukmu. 

Rabu, 15 Maret 2017

HORMATKU

Beberapa dan mungkin ratusan postingan saya hapus. Demi kenyamanan saya, demi kenyamanan kita semua. Mungkin sudah waktunya saya mengurangi ke-alay-an di blog, apalagi curhat tidak jelas. Saya sadar, setiap postingan saya kelak akan dimintai pertanggungjawaban, oleh karenanya postingan yang hanya sekadar postingan tanpa isi akan saya hapus. Semoga selanjutnya, postingan saya lebih bermanfaat. Amiin. Mohon doanya.

Sabtu, 25 Februari 2017

Lengah-Lengang


            Kejadian ini hari kamis. Pagi hari entah pukul berapa. Hanya ada tiga orang di rumah pagi itu; saya, Adda dan Aisnul. Saya di dalam kamar, menguncinya dari dalam. Adda tidur di depan TV, sedangkan Aisnul tidur di kamar belakang. Pintu depan dan belakang memang terbuka lebar, tidak biasanya seperti ini. Seringkali pintu rumah memang terbuka di malam hari, itu karena Aisnul dan teman-temannya belum ada yang pada tidur, motor pun dibiarkan di luar, pagar tetap terbuka. Biasanya, pagi hari kemudian menjadi malam di rumah ini. Anak-anak baru bisa tidur di pagi hari. Barangkali, kesempatan ini memang sudah ditunggu-tunggu oleh pencuri. Keadaan di mana pintu rumah terbuka semua sedangkan orang-orang di dalamnya sedang terlelap tidur. Kami yang terlalu banyak percaya pada perumahan ini, kami yang terlalu lengah dalam penjagaan. Diperkirakan, pencuri masuk melalui pintu belakang. Dugaan ini kuat sekali mengingat barang yang hilang hanyalah yang letaknya berdekatan dengan pintu belakang. 1 buah laptop seharga 8 juta, 1 notebook dan 1 buah HP samsung milik Aisnul.
            Pagi itu, saya bangun telat untuk salat subuh. Sekitar setengah enam. Setelah itu, saya tidak langsung tidur. Namun saya juga tidak keluar kamar untuk memastikan di luar baik-baik saja. Sebab saya percaya, sebagaimana biasanya, rumah pasti aman-aman saja. Nanti pukul setengah 9, saya masuk ke kamar mandi. Saya melihat ada Adda yang sedang terlelap di depan TV dan Aisnul yang juga terlelap di kamarnya. Saya tidak begitu memperhatikan barang-barang yang tergeletak di lantai, saya acuh dan langsung ke kamar. Menguncinya dari dalam, dan saya pun tidur. Saya kemudian bangun saat jam menunjukkan pukul 12 lebih sedikit. Saya kemudian mandi, salat dan membersihkan rumah. Memang sedikit aneh saat membersihkan rumah, tidak terlalu banyak barang yang mesti dirapikan, padahal biasanya, berbagai macam hal berserakan di lantai. Namun kali ini tidak, hanya ada satu laptop yang mesti dipinggirkan.
            Saya membersihkan hingga ke halaman rumah. Begitu banyak sampah, saya juga merapikan sepatu-sepatu yang ada. Usai melakukannya, saya sejenak duduk di ayunan hingga Aisnul kemudian keluar dan menanyakan keberadaan ponselnya. Tidak ada yang melihat, barulah disitu ia menyadari bahwa laptop milik temannya juga tidak ada. Tapi kemana? Kami masih mencoba berpikir positif, barangkali dibawa oleh seorang teman yang tadi datang. Namun hingga Aisnul kemudian menyusul teman tersebut dan ternyata ia tak membawanya, disitulah harapan mulai pupus. Ya, kami kecolongan. Kami lengah dan pencuri mengambil kesempatan itu.
            Kecurian di rumah ini adalah yang kedua kali. Pertama saat kami baru saja pindah ke sini. Namun yang hilang saat itu hanya sebuah gitar. Ya, untung saja yang diambil hanya gitar. Padahal saat itu, rumah sedang kosong, barang berharga tergeletak begitu saja di lantai. Entah mengapa yang diambil hanyalah gitar. Ah, kami terlalu lengah dalam penjagaan. Seharusnya kami belajar dari pengalaman.
            Sebenarnya sudah berulang kali warga memperingatkan kami untuk tidak terlalu serampangan pada barang-barang berharga kami. Yang sering ditegur warga adalah motor yang diparkir di depan rumah hingga esok pagi. Padahal tempat parkir di samping rumah begitu luas, bisa memarkirkan 2 mobil bahkan. Tapi kami seringkali tidak begitu mendengar nasihat tersebut. Bukan karena kami sombong, tapi kami masih menaruh percaya bahwa orang-orang di sekitar tak ada yang tega melakukannya. Tidak ada pencuri di perumahan ini. Tapi, ah. Siapa yang tahu, kan? Bisajadi ada orang yang menyengaja mengintai, menunggu waktu yang tepat untuk mebuat kami tersadar bahwa selama ini kami tidak maksimal dalam penjagaan.
Hingga kehilangan kemudian mengajarkan, betapa berharga yang pernah dimiliki. Dan sungguh, segala yang dibawa pergi diam-diam akan menyisakan sakit. Olehnya, mengertilah! Jangan kau curi laptop mahasiswa, ponsel anak rantau, hati perempuan yang belum siap kau nikahi. Jangan mencuri, jangan jadi pencuri, jangan mengandalkan hidup pada hasil curian. Sesungguhnya-setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka api nerakalah yang patut atasnya (HR. Tirmidzi) 

Semoga kehilangan ini mengajarkan arti kehati-hatian dalam penjagaan. Semoga lebih menyadarkan bahwa kita pernah memiliki yang berharga. Dan semoga Tuhan kirimkan penggantinya bagi hamba-hamba yang tabah dalam menghadapinya. Juga, semoga yang digelapkan hatinya segera menyadari. Amiin.