rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Sabtu, 29 September 2018

Lelaki yang Membenci Wajahnya





Anwari tak pernah menganggap dirinya memiliki bapak. Sejak kecil di usia enam bulan, orangtuanya telah bercerai dan ia dibawa tinggal bersama ibunya lalu tumbuh dengan tanpa kasih sayang seorang bapak. Suatu malam di usianya yang keenam tahun ia diberitahu ibunya tentang beberapa hal.
            “Di dunia ini, Nak, ada beberapa orang yang bisa hidup tanpa bapak.” Anwari diam saja. Dia masih terlalu belia untuk memahaminya.
            “Di sekolahmu besok, Nak, jangan percaya bila teman dan gurumu mengatakan bahwa seseorang di desa ini adalah bapakmu.” Anwari tetap terdiam. Dia memang tidak mengerti apa itu bapak. Yang dia tahu, di rumah tempat ia tinggal tak ada seorang pun lelaki dewasa.
Namun Anwari sudah terlampau dewasa untuk berpura-pura bodoh bahwa ia tidak menyadari akan seseorang yang seharusnya dipanggil bapak. Di usianya yang kini menginjak dua puluh empat tahun, seiring kehidupan yang dilaluinya tak pernah menyuguhkan keramahan, ia mulai berpikir bahwa Tuhan menciptakannya untuk menegaskan bahwa manusia sengsara itu benar-benar ada. Dia tidak tahu harus bagaimana menyikapinya, bersyukur karena ia dipilih langsung, atau sebaiknya ia menggugat Tuhan.
Satu hal pasti yang diketahui Anwari saat ini bahwasanya wajah yang mematut di depan cermin itu seharusnya tidak pernah ada. Sekuat tenaga ia menyangkalnya semakin kuat pula bayangan wajah seorang lelaki menyambanginya. Lelaki tua yang mirip dengannya, dikonfirmasi atau tidak, setiap orang bisa menyimpulkan bahwa mereka memiliki hubungan bapak dan anak.
Namun bila kau beranggapan bahwa Anwari membenci wajahnya karena ia begitu mirip dengan bapaknya yang sejak ia kecil tak pernah dirawat dan diberikan sepeser pun kasih sayang ataupun materi padahal bapaknya adalah seorang juragan empang paling sukses di Luwu Timur, maka tentu kau salah.
Biar kujelaskan agar kesalahpahaman ini tidak berlarut-larut.
Minggu depan, ya minggu depan akan diadakan sebuah pesta besar-besaran di desa mereka. Seorang lelaki kaya akan menikahi perempuan cantik dari keluarga sederhana. Tidak tanggung-tanggung pesta tersebut akan diadakan selama tiga hari tiga malam dengan mengundang kalangan atas hingga kalangan bawah. Pesta paling meriah akan diadakan di Luwu Timur untuk pertama kalinya, meski sulit dipungkiri bahwa kali ini adalah pernikahan yang ketiga bagi lelaki tersebut dan memang merupakan pernikahan pertama bagi calon mempelai perempuan.
Berita itu tiba di telinga Anwari beberapa jam setelah acara lamaran di rumah perempuan. Seseorang membisikkannya bahwa peristiwa hebat akan terjadi dan meminta dirinya bersikap tenang, tidak memberontak untuk melukai orang lain atau justru melukai dirinya sendiri. Dan barangkali, kemungkinan terparah yang terjadi adalah Anwari memutuskan mengakhiri hidupnya.
Tuhan, bolehkah aku mengutukmu?
Airmatanya bercucuran, langitnya runtuh memporak-porandakan perasaannya. Semuanya kacau dan ia tak memiliki pegangan lagi. Empat tahun lalu saat ibunya meninggal, sempat terbersit di pikiran Anwari untuk menyusul saja. Rasa-rasanya tidak ada lagi yang istimewa di dunia ini. Namun kemudian ia terpikir Andini, perempuan yang baru dua bulan dipacarinya kala itu, ia tiba-tiba merasa memiliki pegangan lagi.
Tapi apalah kini yang dimilikinya? Setelah semua berakhir dengan tiba-tiba, mengapa harus orang yang begitu dekat dengannya dalam garis keturunan yang justru harus menyumpalkan racun itu kepadanya? Ia merasa sekarat.
Apakah karena ia mirip denganku?
Kudengar ia membawakanmu panai’ yang cukup besar, karena itukah?
Seserius itukah impianmu yang ingin menikah muda?
Anwari hanya bisa menggumam, mempertanyakannya di dalam hati. Andini tidak pernah benar-benar hilang dari lubuk hatinya, meski memang perasaannya tak lagi sehebat dulu. Tapi tetap saja, apapun alasannya, Anwari tidak bisa menerima bila lelaki tua yang wajahnya sangat mirip dengannya, seminggu lagi akan bersanding dengan perempuan yang baru sebulan lalu putus darinya. Ini terlalu kejam dan tidak manusiawi. Ia merasa ditikam berkali-kali.
Di dunia ini, Bu, adakah orang yang dibunuh bapaknya sendiri?
***
            “Kapan kau akan melamarku?” Seorang perempuan seusia dengannya mendesak-desak agar dilamar. Bukan Anwari tak ingin menikahinya, tapi untuk usia mereka, Anwari merasa belum siap untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Masih terlalu muda untuk berada pada satu ikatan pernikahan.
            “Kau kan tahu kalau aku belum ingin menikah dalam waktu dekat ini.” Sedikit ada kekesalan di wajah Anwari. Seharusnya kekasihnya itu tidak terus-menerus minta dinikahi.
            “Kalau begitu aku akan menikah dengan siapa saja yang duluan datang melamarku.” Begitu kalimat Andini yang tiba-tiba meluncur dari mulutnya. Bukan sebuah keseriusan namun bentuk ancaman agar Anwari menyegerakan mewujudkan impian menikah mudanya.
            “Kalau begitu maumu, silakan saja. Aku lepas tangan, hubungan kita berakhir di sini.” Jawaban yang tak disangka-sangka Andini telah terlontar dari mulut Anwari, begitu spontan dan tegas juga tidak bisa ditarik kembali. Dan demikianlah bagaimana hubungan mereka berakhir.
**

Sabtu, 19 Mei 2018

Danarto yang Sulit Dimengerti




Saya selalu merasa benci pada diri sendiri ketika membaca sebuah buku dan tidak ada satu hal pun yang bisa kukomentari selain banyaknya kesalahan tanda baca dan juga typo. Dalam hal ini, buku tersebut tak memberiku sedikit saja hal baru yang menarik perhatian. Bisa jadi alur ceritanya yang sudah terlalu umum, monoton dan tidak ada konflik sama sekali. Dan kali ini saya akhirnya merasa benci bukan karena terlalu banyak kesalahan dalam buku tersebut, hanya  saja, saya memang benar-benar menyerah untuk hal yang satu ini.
Saat membaca Kecantikan dan Kesedihan milik Kawabata, saya dibuatnya kagum dengan kemampuannya memahami dan mendeskripsikan lukisan-lukisan milik Ueno dan juga Keiko. Saya membayangkan bila itu saya yang harus menulis kisah tentang seorang pelukis, tentu tidak ada yang bisa pembaca bayangkan. Dalam bukunya Ibu Kota Lama, Kawabata juga begitu lihai memaparkan motif-motif desain Obi melalui tokoh-tokohnya. Kawabata, dengan cara mengagumkan mampu menyampaikan itu semua kepada pembaca. 
Dan tiba-tiba saya membaca Adam Ma’rifat milik Danarto, saya merasa tersesat dalam sebuah pameran lukisan abstrak.
Begini, tak peduli bagaimanapun caramu memaksaku menjelaskan lukisan-lukisan yang ada dalam pameran tersebut, saya tidak akan menjelaskanmu selain ketidakpahamanku. Suatu kerugian membawaku ke sebuah pameran lukisan sedangkan saya tak punya dasar untuk bisa memahaminya sedikit pun.
Beginilah saya saat membaca karya Danarto. Ah baiklah, alih-alih mengatakan padamu bahwa buku Danarto ini disuguhkan untuk dibaca, sepertinya lebih tepat bila mengatakan bahwa buku ini dihadirkan untuk dinikmati oleh mata sebagai sebuah karya tulis visual, mungkin? Karena dengan hanya benar-benar membacanya tanpa melibatkan keseriusan dari indera lain terutama mata, semuanya akan sia-sia.
Danarto menghadirkan banyak gambar dalam bukunya, beberapa kata yang ditulis berulang, tanda titik, dan masih banyak keanehan lainnya yang hanya bisa (sedikit) dipahami bila melihatnya lebih teliti, seperti ketika kau menikmati lukisan-lukisan abstrak di sebuah pameran.
Saya merasa sia-sia. Bila seseorang kemudian bertanya pada saya apakah pernah membaca karya Danarto atau belum, saya bingung harus menjawab apa. Di satu sisi saya memang pernah menamatkan salah satu karyanya, tapi di sisi lain, saya merasa tak pernah membacanya. Tidak ada satu pun yang berhasil saya bawa pulang sebagai bukti bahwa saya benar-benar pernah menyelesaikannya. Ini sebuah masalah serius bila tiba-tiba seorang teman meminta saya menjelaskan keistimewaan apa yang ada di sana. Sebaiknya saya mengatakan bahwa belum pernah membacanya, tapi itu adalah sebuah bentuk kebohongan, bukan?
Bila kau yang numpang lahir pada sebuah kota di luar negeri, anggap saja di London, kemudian suatu hari kau ditanya pernahkah ke kota tersebut? Kau bisa saja menjawabnya dengan iya, tapi apa yang bisa kau jelaskan tentang kota teresebut saat kau mengunjunginya? Kau pernah tapi sama sekali tak punya kenangan mengesankan yang bisa kau bagi.
Atau semisal kau seorang penderita rabun senja, tak peduli beribu senja yang telah kau lewatkan, kau tak pernah benar-benar menyaksikannya. Maka begini saja, bila diumpamakan buku Danarto adalah senja, pembacanya rabun senja, maka butuh Seno Gumira dan karya-karyanya perihal senja untuk bisa memahamkan kita.
Tapi saya pun sebenarnya sangsi. Bahkan setelah membaca pengantar Mahfud Ikhwan pada kumpulan cerpen Danarto ini, toh saya tetap berakhir sama. Tidak faham, tidak mengerti dan tidak bisa menikmati.
“Jadi, sembari mencoba memegang “tuhan”, mungkin Adam Ma’rifat akan membantu kita lebih dekat untuk “memegang” Tuhan.” (hal. 10)
Membantu seperti apa yang dimaksudkan Cak Mahfud pada tulisannya? Bahkan saya sudah merasa bingung sejak membaca pengantarnya. Ya, ini karena saya terlalu lugu, terlalu polos untuk bisa memahami pembicaraan terkait Tuhan. Maka apabila tulisan-tulisan Danarto dalam buku ini adalah sebagaimana yang dijelaskan Mahfud, sepertinya memang butuh jangka panjang untuk bisa memahami segalanya. Atau selamanya saya justru tidak bisa paham sedikit pun.
Karena kata Eka Kurniawan dalam kuliahnya di bulan Maret lalu, bahwa pembaca itu berproses. Maka membayangkan saya yang tiba-tiba membaca karya Danarto, bukankah ini sebuah bentuk menyalahi proses? Saya terlalu jauh melompat sedangkan masih banyak tingkatan lain yang perlu saya lalui. Ini tentu saja bila kita sepakat bahwa karya Danarto ini berada di posisi teratas sebagaimana dituliskan Mahfud pada awal pengantarnya, bahwa buku inilah yang melentingkan nama Danarto dalam percaturan kesusastraan Indonesia hingga ke titik tertinggi.
Sebagai kesimpulan, bila kau (tidak) ingin merasakan berkunjung ke suatu tempat tapi tak membawa apa-apa pun saat pulang karena ternyata kau tertidur selama berada di sana, maka kau (tidak) perlu membaca karya Danarto. Tapi percayalah, tidak semua pembaca selugu saya.


Judul               : Adam Ma’rifat
Penulis             : Danarto
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, November 2017
Tebal               : 112 Halaman
ISBN               : 978-602-6651-11-2


Senin, 14 Mei 2018

Faisal Oddang dalam Merawat Falsafah Bugis




Mantan kekasih barangkali dirawat dengan kenangan, tapi falsafah Bugis bukanlah kekasih apalagi mantan yang boleh hanya tinggal kenangan. Merawatnya bukan dalam bentuk ingatan tapi melalui pengaplikasian dalam hidup sehari-hari.       
Falsafah Bugis atau disebut juga paaseng torioolo atau dapat juga dimaknai sebagai pangaaja sebagaimana dituliskan Nurnaningsih (2015), merupakan identitas sekaligus kekayaan masyarakat Bugis pada masa lampau. Kekayaan yang tidak menutup kemungkinan hanya sebatas kenangan bila tidak memeliharanya sebagaimana salah satu usaha yang dilakukan Faisal.

Tiba Sebelum Berangkat
            Falsafah ‘tiba sebelum berangkat’ adalah pesan yang sering didengarkan setiap kali hendak melakukan perjalanan jauh seperti hendak merantau untuk mencari pekerjaan, atau mencari ilmu, atau juga untuk melakukan perjalanan haji. Dalam hal ini siapa pun yang hendak berangkat diperintahkan terlebih dahulu untuk memvisualisasikan dirinya berada di tempat tujuan dan melakukan aktivitas dengan baik. Hal ini dimaksudkan agar memperoleh keselamatan dan  dalam perjalanan tidak terjadi apa-apa.
            Saat falsafah Bugis ini tidak lagi sesering dulu diucapkan oleh orangtua kepada anak cucunya, saat falsafah ini tidak lagi menjadi penting, saat falsafah ini telah menjadi bagian dari kenangan masa lalu, Faisal Oddang berusaha tidak menganggapnya demikian. Dalam konteks ini, Faisal adalah representase dari beberapa generasi 90-an yang merasa kehilangan sekaligus rindu dengan berbagai hal yang pernah didapatkan di masa kanak-kanak.
Inilah alasan sebenarnya mengapa saya sangat menanti-nanti karya Faisal dan bergegas mencari bukunya di hari ketiga setelah terbit. Kerinduan yang besar itu menarik-narik saya pada kenangan masa kecil setiap kali hendak kembali ke pesantren sebab masa liburan telah berakhir. Saya mendapati diri sedang duduk berhadapan dengan kedua orangtua dan mereka mengingatkan agar segera membayangkan diri tiba di tujuan.
Dapat dikatakan bahwa anak-anak Bugis yang lahir tahun 90-anlah yang terakhir mendapatkan betapa filosofisnya tetua Bugis. Generasi selanjutnya tidak lagi seakrab generasi sebelumnya. Mereka terasing dengan identitasnya sendiri sebaliknya akrab dengan identitas lain, identitas kemoderenan. Di zaman yang serba internet ini, tidak lagi sulit mendapati anak-anak Bugis yang lahir dan besar di tanah Bugis namun tidak tahu berbahasa Bugis, apatah lagi membaca aksara lontara’.
            Mengangkat judul Tiba Sebelum Berangkat adalah sebuah kata kunci. Dengan menggunakan falsafah Bugis tersebut Faisal akan dengan mudah dikenali. Bahwa ia seorang Bugis, bahwa ternyata masih ada yang tidak melupakan pappaseng tetuanya. Sebuah penegasan akan identitas diri.       
           

Tellu Cappa’
            Cappa’ lila (ujung lidah) sebagai simbol dari ucapan orang Bugis yang dapat dipegang. Orang Bugis pantang menyalahi janji. Cappa’ laso (ujung kemaulan) sebagai simbol kemampuan berketurunan, serta cappa’ tobo (ujung badik) sebagai simbol bahwa orang Bugis adalah orang yang tidak akan tinggal diam ketika harga dirinya diinjak-injak.
            Faisal menyinggung cappa’ lila di dalam bukunya bukan tanpa tujuan. Dengan melihat bagaimana banyaknya janji-janji yang bertebaran entah dilakukan oleh para calon pejabat pemerintahan, janji dosen untuk bertemu mahasiswanya yang kemudian diingkari, janji kekasih pada pasangannya, ataupun janji pada diri sendiri yang kerapkali tidak ditunaikan. Pergi ke mana falsafah Bugis yang selama ini dijunjung? Apakah zaman benar-benar telah menggerusnya?
             Sebelum benar-benar kehilangan identitas dan mengalami trauma, Faisal dengan caranya sendiri, hendak menyelamatkan dari ancaman krisis identitas tersebut. Tidak main-main usahanya merawat falsafah Bugis agar tetap eksis. Sebuah karya sastra dipersembahkannya. Diharapkan besok hingga kapan pun nanti akan tetap dibaca tidak hanya oleh orang Bugis namun suku-suku yang ada di seluruh Indonesia sehingga Sulawesi secara umum dan Bugis secara khususnya lebih difahami dengan meluas.
            Keberadaan Faisal dengan karyanya merupakan sebuah awal perenungan bagi setiap Bugis untuk kembali mendekatkan diri pada identitas yang hampir ditinggalkannya jauh. Karena memelihara falsafah Bugis agar tetap eksis bukan tugas Faisal semata tapi juga semua Bugis. Entah oleh tetua, para generasi 90-an juga generasi setelahnya dan selanjutnya.
            Faisal yang lain semoga akan terus ada dan senantiasa memelihara identitas Bugis melalui caranya masing-masing. Warisan pesan berupa falsafah selayaknya ilmu yang berharga. Lebih berharga dari harta benda dan kekuasaan. Tapi ternyata menjaga keberadaannya untuk tetap utuh bahkan lebih susah daripada memelihara kekayaan ataupun mempertahankan kekuasaan.
Kemoderenan yang ada secara perlahan mampu melenakan siapa pun untuk ikut terbawa arus. Kemampuan untuk menyesuaikan diri sangat diperlukan dalam kondisi sekarang. Menjadi moderen tidak berarti melupakan identitas yang telah lama dijunjung.
           
Cat: Dimuat di Harian Fajar pada tangga 13 Mei 2018



Secangkir Kopi





Lalu dipesannya secangkir kopi
Sebab darinya segala berasal
Padanya jua segala bermuara
Lalu diseruputnya
Bola lampu di kepala menyala-nyala

Tiada Terlalu




Tiada terlalu gulita malam
Tiada terlalu buta pagi
Kapan pun kubatinkan namamu
Abad mewujud detik