rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Selasa, 18 Juni 2019

Mata Kosong Mei







Dia bukan pengingat yang baik. banyak hal-hal baik yang terjadi dalam hidupnya dan bisa begitu mudah dilupakan bahkan hanya dalam hitungan jam. Belum lagi percakapan sederhana yang terjadi antara ia dan kawannya di warung kopi, sesimpel itu dan ia bisa lupa sepersekian detik setelah diperbincangkan. Bahkan Mei sendiri mengkhawatirkan kejiwaannya, sejak kapan kiranya fokusnya tidak terkontrol sedemikian rupa, mengapa ia bisa berbalas kalimat dengan orang di hadapannya tapi pandangan matanya kosong tak ada isi, pikirannya melanglang buana entah ke mana, ke siapa.
Kini ia mencoba meraba-raba hal buruk apa yang telah terjadi di masa ia kecil. Beruntungnya atau celakanya, untuk kenangan menyakitkan, ia justru tak mudah lupa. Dan di sanalah fokusnya tertuju, pada peristiwa sederhana hingga luar biasa yang terus saja menghantui kapan pun ia mencoba bersikap normal. Dirman masih mengutarakan lelucon basi di hadapannya tentang minuman apa yang sangat perhatian ketika ia berhasil mengingat detail kekerasan yang pernah dialaminya di waktu kanak. Hanya sebuah pukulan ranting kayu gamal di kedua betis yang sempat diambil ibunya saat menyusul ia yang tengah asyik bermain pada sungai kecil di kampung. Saat itu bedug magrib sudah ditabuh tapi Mei bersama kawannya masih begitu asyik menikmati mencari kepiting kecil yang keluar masuk pada permukaan tanah liat dengan air sungai yang jernih namun berubah keruh berkat kaki para anak-anak yang menyipak sungai.
Mei menangis bukan karena pukulan yang mendarat di betis mungilnya, itu sama sekali tak berasa apalagi setelah itu ia lantas dimandikan dengan penuh manja oleh sang ibu. Mei hanya masih ingin bermain, mengapa segala setan dibawa-bawa untuk membuatnya berhenti bersenang-senang, kenapa waktu magrib ibunya selalu meminta ia masuk rumah karena setan sedang berkeliaran, padahal ia tidak sebegitu takut pada setan.
Pikirannya berhenti di sana. Setelah direnungkan, tak ada lagi yang dilakukan orang terdekatnya yang mampu melukai ia sedemikian dalam. Tentu saja ia tidak mengalami masa sulit yang berarti di lingkungannya, ia tidak menerima itu, tapi ia yang memberi itu. Pernah ia mengecewakan kedua orangtuanya karena kabur dari pesantren dan tidak ingin lagi kembali ke sana sekuat apapun ia dibujuk. Itu adalah salah satu penyesalan terbesarnya setelah dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan sang ayah, uban yang mulai tumbuh, kerutan pada wajah, sorot mata putus asa yang tiba-tiba meneteskan bulir-bulir kekecewaan, pada titik itu Mei seketika merasa lemas. Ia tidak tahu kesakitan seperti apa yang dialami sang tulang punggung keluarga, yang bisa dijaminnya adalah, rasa sakit yang disaksikannya itu belum seberapa dibanding luka yang dialaminya setelah menyakiti orang yang paling tidak layak disakitinya.
“Hei, kamu belum menjawab pertanyaanku, loh.” Dirman mengangkat tangan, mengayunkan tepat di depan wajah Mei yang terlihat bingung setelah tersadar dari pikirannya yang jauh melangkah ke belakang.
“Oh soal apa? Tadi kamu memberiku pertanyaan?”
“Ah lupakan saja, kamu sedang tidak asyik diajak bercanda.”
Seperti sebuah pukulan. Padahal Dirman tidak bermaksud apa-apa dengan kalimat terakhirnya dan Mei juga memahami itu. Tapi dasar pikirannya yang sulit dikontrol, ia justru terbebani, wajah kecewa Dirman beserta kalimat yang diucapkannya seperti hantu yang mengikutinya hingga beberapa waktu kemudian. Ah sial, padahal aku tidak takut hantu.
             Terlalu buang-buang waktu untuk merasa takut pada hantu yang lebih sering abai pada sikap manusia daripada turut campur hadir di ruang-ruang gelap kamar kosan menjelang tidur. Nyatanya yang lebih menakutkan, yang paling sering menghantuinya adalah kecemasan pribadi. Akhir-akhir ini tidurnya bahkan tak teratur, tak lama, dan tak juga berkualitas pasca diputuskan oleh orang yang begitu dikasihinya. Sampai sekarang hatinya masih tak karuan setiap kali mendapati sesuatu yang menggiring ingatannya pada mantan kekasih yang dulu dianggapnya baik tapi pada akhirnya biadab juga. Dan inilah  luka terdalam yang diperolehnya semasa hidup, pengalaman paling perih yang tidak terbayangkan akan benar-benar terjadi. Menyesal ia tak melatih diri sedari kecil merasakan terluka agar saat ini semestinya ia telah terlatih menghadapinya.
            Kini fokusnya benar-benar hilang, pikirannya sedang kacau, hatinya awut-awutan. Terlalu sederhana jika hanya membandingkannya dengan gulungan benang. Mungkin seperti rambut panjang perempuan yang bertumpuk di corong pipa kamar mandi, sudah terlalu kusut dan tidak memungkinkan diurai. Hanya akan menyisakan rambut-rambut yang patah tak beraturan.
            “Apa yang sebenarnya sangat kau sesali? Toh hanya tiga bulan dan kau juga tahu dia ternyata hanya tukang selingkuh tak berpengalaman.”
            Mei kembali menemui Dirman, seorang lelaki sebayanya, kawan ngopinya yang jauh lebih bijak tentang apapun.
            “Justru karena itu, karena dia ternyata sebajingan itu, aku menyesal pernah bahagia merasa dicintainya. Atau aku sedang kecewa pada diriku sendiri, hah?” kini sorot mata Mei tepat menatap kedua mata Dirman, seperti berusaha mencari jawaban, berharap mendapati tanggapan menyejukkan hati. Tapi kali ini Dirman tak memberi jawaban, bahkan sikap diamnya sudah sangat menjelaskan. Pada posisi ini kau memang terlihat menyedihkan, Mei. Bukan karena kau telah berhasil dibohonginya, tapi aku menangkap ada binar yang tak dapat kau sembunyikan di sudut matamu. Dalam hati kecilmu kau masih sangat mencintainya. Mengapa tak membuang saja perasaan itu sekarang?
             “Pinjam bahumu.”
            Di sanalah kepala Mei direbahkan pada sebuah bahu bidang yang tabah menyangga. Tidak perlu beberapa menit untuk Mei menghilang bersama segala kecamuk yang ada di kepalanya. Pandangan mata kosong itu nyata ada di sana, nanar menyorot segala luka masa lalu yang menyiksanya tak kenal tempat, membuatnya sekuat tenaga menahan sesak di dada. Tapi bendungan itu sudah terlalu lama berpura tegar dan di bahu seorang lelaki yang tengah asyik mengisap rokok, tak lagi terhitung berapa tetes airmata meruah di sana.
            “Kau butuh tangan untuk mengusap?”
            Pada akhirnya Dirman kehilangan sikap bijaknya, mengapa masih memilih tawarkan tangan ketika ia bisa saja langsung melakukan itu?
             

Kamis, 24 Januari 2019

Amnesia Saja




Aku takut, rasanya ingin hidup sendiri saja. Akhir-akhir ini kurasakan kejiwaanku semakin terganggu seiring lebih banyak bertemu dengan orang-orang baru. Kutaksir aku akan berakhir gila suatu hari nanti bila pertemuan dengan orang baru terus bertambah, atau sebenarnya hanya aku yang butuh berdamai pada diri sendiri, tak perlu banyak memikirkan hal-hal kecil yang bahkan sangat sepele bagi  orang lain.
Sering aku mengucapkan satu dua kata lalu batal meneruskannya menjadi sebuah kalimat karena tiba-tiba tersadar bahwa semua itu hanya akan berdampak pada diriku sendiri. Orang yang mendengarnya barangkali akan langsung melupakan kalimat yang sudah kuucapkan, namun aku akan sangat terganggu pada perkataanku sendiri dan terus menghantuiku sebelum terlelap di malam hari. Aku tidak melakukannya dengan sengaja, bahwa memutar kembali episode yang kulalui seharian, dalam seminggu, hingga sebulan lalu adalah pilihanku sendiri. Semuanya terjadi begitu saja dan tak jarang membuatku menangis sendirian di suatu malam, memeluk bantal dan memang tak merasa butuh siapa-siapa untuk menenangkan. Kuluruhkan saja airmataku meski tidak banyak mengubah resah perasaanku. Namun setidaknya aku bisa mengekspresikan sesak itu dalam bentuk tangis.
Malam-malam di mana aku merasa kacau dan butuh sendiri namun ada teman-teman di sekitar yang sedang butuh ditemani untuk berbincang membuatku sedikit frustasi. Ada yang berusaha kubendung di kelopakku, ada yang meminta diteriakkan pada kesunyian malam, tolong jangan mengajakku berbincang dulu. Tapi hei, itu bukan salah mereka melainkan aku. Andai aku tidak pandai berpura-pura bahagia di suatu kondisi tertentu, mereka tentu saja akan mudah memahami bahwa aku sedang tidak ingin diganggu. Itu kekuranganku yang ingin tetap terlihat tegar dan normal pada pandangan orang sekitar meski ada yang bergejolak di dalam jiwaku. Suatu waktu aku ingin amnesia saja jika menjadi gila ternyata tak cukup membuatku bahagia.



Sabtu, 29 September 2018

Lelaki yang Membenci Wajahnya





Anwari tak pernah menganggap dirinya memiliki bapak. Sejak kecil di usia enam bulan, orangtuanya telah bercerai dan ia dibawa tinggal bersama ibunya lalu tumbuh dengan tanpa kasih sayang seorang bapak. Suatu malam di usianya yang keenam tahun ia diberitahu ibunya tentang beberapa hal.
            “Di dunia ini, Nak, ada beberapa orang yang bisa hidup tanpa bapak.” Anwari diam saja. Dia masih terlalu belia untuk memahaminya.
            “Di sekolahmu besok, Nak, jangan percaya bila teman dan gurumu mengatakan bahwa seseorang di desa ini adalah bapakmu.” Anwari tetap terdiam. Dia memang tidak mengerti apa itu bapak. Yang dia tahu, di rumah tempat ia tinggal tak ada seorang pun lelaki dewasa.
Namun Anwari sudah terlampau dewasa untuk berpura-pura bodoh bahwa ia tidak menyadari akan seseorang yang seharusnya dipanggil bapak. Di usianya yang kini menginjak dua puluh empat tahun, seiring kehidupan yang dilaluinya tak pernah menyuguhkan keramahan, ia mulai berpikir bahwa Tuhan menciptakannya untuk menegaskan bahwa manusia sengsara itu benar-benar ada. Dia tidak tahu harus bagaimana menyikapinya, bersyukur karena ia dipilih langsung, atau sebaiknya ia menggugat Tuhan.
Satu hal pasti yang diketahui Anwari saat ini bahwasanya wajah yang mematut di depan cermin itu seharusnya tidak pernah ada. Sekuat tenaga ia menyangkalnya semakin kuat pula bayangan wajah seorang lelaki menyambanginya. Lelaki tua yang mirip dengannya, dikonfirmasi atau tidak, setiap orang bisa menyimpulkan bahwa mereka memiliki hubungan bapak dan anak.
Namun bila kau beranggapan bahwa Anwari membenci wajahnya karena ia begitu mirip dengan bapaknya yang sejak ia kecil tak pernah dirawat dan diberikan sepeser pun kasih sayang ataupun materi padahal bapaknya adalah seorang juragan empang paling sukses di Luwu Timur, maka tentu kau salah.
Biar kujelaskan agar kesalahpahaman ini tidak berlarut-larut.
Minggu depan, ya minggu depan akan diadakan sebuah pesta besar-besaran di desa mereka. Seorang lelaki kaya akan menikahi perempuan cantik dari keluarga sederhana. Tidak tanggung-tanggung pesta tersebut akan diadakan selama tiga hari tiga malam dengan mengundang kalangan atas hingga kalangan bawah. Pesta paling meriah akan diadakan di Luwu Timur untuk pertama kalinya, meski sulit dipungkiri bahwa kali ini adalah pernikahan yang ketiga bagi lelaki tersebut dan memang merupakan pernikahan pertama bagi calon mempelai perempuan.
Berita itu tiba di telinga Anwari beberapa jam setelah acara lamaran di rumah perempuan. Seseorang membisikkannya bahwa peristiwa hebat akan terjadi dan meminta dirinya bersikap tenang, tidak memberontak untuk melukai orang lain atau justru melukai dirinya sendiri. Dan barangkali, kemungkinan terparah yang terjadi adalah Anwari memutuskan mengakhiri hidupnya.
Tuhan, bolehkah aku mengutukmu?
Airmatanya bercucuran, langitnya runtuh memporak-porandakan perasaannya. Semuanya kacau dan ia tak memiliki pegangan lagi. Empat tahun lalu saat ibunya meninggal, sempat terbersit di pikiran Anwari untuk menyusul saja. Rasa-rasanya tidak ada lagi yang istimewa di dunia ini. Namun kemudian ia terpikir Andini, perempuan yang baru dua bulan dipacarinya kala itu, ia tiba-tiba merasa memiliki pegangan lagi.
Tapi apalah kini yang dimilikinya? Setelah semua berakhir dengan tiba-tiba, mengapa harus orang yang begitu dekat dengannya dalam garis keturunan yang justru harus menyumpalkan racun itu kepadanya? Ia merasa sekarat.
Apakah karena ia mirip denganku?
Kudengar ia membawakanmu panai’ yang cukup besar, karena itukah?
Seserius itukah impianmu yang ingin menikah muda?
Anwari hanya bisa menggumam, mempertanyakannya di dalam hati. Andini tidak pernah benar-benar hilang dari lubuk hatinya, meski memang perasaannya tak lagi sehebat dulu. Tapi tetap saja, apapun alasannya, Anwari tidak bisa menerima bila lelaki tua yang wajahnya sangat mirip dengannya, seminggu lagi akan bersanding dengan perempuan yang baru sebulan lalu putus darinya. Ini terlalu kejam dan tidak manusiawi. Ia merasa ditikam berkali-kali.
Di dunia ini, Bu, adakah orang yang dibunuh bapaknya sendiri?
***
            “Kapan kau akan melamarku?” Seorang perempuan seusia dengannya mendesak-desak agar dilamar. Bukan Anwari tak ingin menikahinya, tapi untuk usia mereka, Anwari merasa belum siap untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Masih terlalu muda untuk berada pada satu ikatan pernikahan.
            “Kau kan tahu kalau aku belum ingin menikah dalam waktu dekat ini.” Sedikit ada kekesalan di wajah Anwari. Seharusnya kekasihnya itu tidak terus-menerus minta dinikahi.
            “Kalau begitu aku akan menikah dengan siapa saja yang duluan datang melamarku.” Begitu kalimat Andini yang tiba-tiba meluncur dari mulutnya. Bukan sebuah keseriusan namun bentuk ancaman agar Anwari menyegerakan mewujudkan impian menikah mudanya.
            “Kalau begitu maumu, silakan saja. Aku lepas tangan, hubungan kita berakhir di sini.” Jawaban yang tak disangka-sangka Andini telah terlontar dari mulut Anwari, begitu spontan dan tegas juga tidak bisa ditarik kembali. Dan demikianlah bagaimana hubungan mereka berakhir.
**

Senin, 14 Mei 2018

Faisal Oddang dalam Merawat Falsafah Bugis




Mantan kekasih barangkali dirawat dengan kenangan, tapi falsafah Bugis bukanlah kekasih apalagi mantan yang boleh hanya tinggal kenangan. Merawatnya bukan dalam bentuk ingatan tapi melalui pengaplikasian dalam hidup sehari-hari.       
Falsafah Bugis atau disebut juga paaseng torioolo atau dapat juga dimaknai sebagai pangaaja sebagaimana dituliskan Nurnaningsih (2015), merupakan identitas sekaligus kekayaan masyarakat Bugis pada masa lampau. Kekayaan yang tidak menutup kemungkinan hanya sebatas kenangan bila tidak memeliharanya sebagaimana salah satu usaha yang dilakukan Faisal.

Tiba Sebelum Berangkat
            Falsafah ‘tiba sebelum berangkat’ adalah pesan yang sering didengarkan setiap kali hendak melakukan perjalanan jauh seperti hendak merantau untuk mencari pekerjaan, atau mencari ilmu, atau juga untuk melakukan perjalanan haji. Dalam hal ini siapa pun yang hendak berangkat diperintahkan terlebih dahulu untuk memvisualisasikan dirinya berada di tempat tujuan dan melakukan aktivitas dengan baik. Hal ini dimaksudkan agar memperoleh keselamatan dan  dalam perjalanan tidak terjadi apa-apa.
            Saat falsafah Bugis ini tidak lagi sesering dulu diucapkan oleh orangtua kepada anak cucunya, saat falsafah ini tidak lagi menjadi penting, saat falsafah ini telah menjadi bagian dari kenangan masa lalu, Faisal Oddang berusaha tidak menganggapnya demikian. Dalam konteks ini, Faisal adalah representase dari beberapa generasi 90-an yang merasa kehilangan sekaligus rindu dengan berbagai hal yang pernah didapatkan di masa kanak-kanak.
Inilah alasan sebenarnya mengapa saya sangat menanti-nanti karya Faisal dan bergegas mencari bukunya di hari ketiga setelah terbit. Kerinduan yang besar itu menarik-narik saya pada kenangan masa kecil setiap kali hendak kembali ke pesantren sebab masa liburan telah berakhir. Saya mendapati diri sedang duduk berhadapan dengan kedua orangtua dan mereka mengingatkan agar segera membayangkan diri tiba di tujuan.
Dapat dikatakan bahwa anak-anak Bugis yang lahir tahun 90-anlah yang terakhir mendapatkan betapa filosofisnya tetua Bugis. Generasi selanjutnya tidak lagi seakrab generasi sebelumnya. Mereka terasing dengan identitasnya sendiri sebaliknya akrab dengan identitas lain, identitas kemoderenan. Di zaman yang serba internet ini, tidak lagi sulit mendapati anak-anak Bugis yang lahir dan besar di tanah Bugis namun tidak tahu berbahasa Bugis, apatah lagi membaca aksara lontara’.
            Mengangkat judul Tiba Sebelum Berangkat adalah sebuah kata kunci. Dengan menggunakan falsafah Bugis tersebut Faisal akan dengan mudah dikenali. Bahwa ia seorang Bugis, bahwa ternyata masih ada yang tidak melupakan pappaseng tetuanya. Sebuah penegasan akan identitas diri.       
           

Tellu Cappa’
            Cappa’ lila (ujung lidah) sebagai simbol dari ucapan orang Bugis yang dapat dipegang. Orang Bugis pantang menyalahi janji. Cappa’ laso (ujung kemaulan) sebagai simbol kemampuan berketurunan, serta cappa’ tobo (ujung badik) sebagai simbol bahwa orang Bugis adalah orang yang tidak akan tinggal diam ketika harga dirinya diinjak-injak.
            Faisal menyinggung cappa’ lila di dalam bukunya bukan tanpa tujuan. Dengan melihat bagaimana banyaknya janji-janji yang bertebaran entah dilakukan oleh para calon pejabat pemerintahan, janji dosen untuk bertemu mahasiswanya yang kemudian diingkari, janji kekasih pada pasangannya, ataupun janji pada diri sendiri yang kerapkali tidak ditunaikan. Pergi ke mana falsafah Bugis yang selama ini dijunjung? Apakah zaman benar-benar telah menggerusnya?
             Sebelum benar-benar kehilangan identitas dan mengalami trauma, Faisal dengan caranya sendiri, hendak menyelamatkan dari ancaman krisis identitas tersebut. Tidak main-main usahanya merawat falsafah Bugis agar tetap eksis. Sebuah karya sastra dipersembahkannya. Diharapkan besok hingga kapan pun nanti akan tetap dibaca tidak hanya oleh orang Bugis namun suku-suku yang ada di seluruh Indonesia sehingga Sulawesi secara umum dan Bugis secara khususnya lebih difahami dengan meluas.
            Keberadaan Faisal dengan karyanya merupakan sebuah awal perenungan bagi setiap Bugis untuk kembali mendekatkan diri pada identitas yang hampir ditinggalkannya jauh. Karena memelihara falsafah Bugis agar tetap eksis bukan tugas Faisal semata tapi juga semua Bugis. Entah oleh tetua, para generasi 90-an juga generasi setelahnya dan selanjutnya.
            Faisal yang lain semoga akan terus ada dan senantiasa memelihara identitas Bugis melalui caranya masing-masing. Warisan pesan berupa falsafah selayaknya ilmu yang berharga. Lebih berharga dari harta benda dan kekuasaan. Tapi ternyata menjaga keberadaannya untuk tetap utuh bahkan lebih susah daripada memelihara kekayaan ataupun mempertahankan kekuasaan.
Kemoderenan yang ada secara perlahan mampu melenakan siapa pun untuk ikut terbawa arus. Kemampuan untuk menyesuaikan diri sangat diperlukan dalam kondisi sekarang. Menjadi moderen tidak berarti melupakan identitas yang telah lama dijunjung.
           
Cat: Dimuat di Harian Fajar pada tangga 13 Mei 2018



Jumat, 20 April 2018

Tidak Ada Gerimis





 Tidak Waras

Adalah Toru Watanabe yang  terkenang Naoko, cinta pertamanya, saat mendengarkan lagu Norwegian Wood. Ia terikat dengan lagu itu, dengan kenangan-kenangan yang ia lalui bersama seorang gadis di masa remajanya. Terlalu banyak yang pernah dilaluinya, terlalu indah dan terlalu cepat. Norwegian Wood adalah lagu kesukaan Naoko yang membuat Watanabe terlempar jauh ke tahun-tahun sebelumnya. Bukan aroma parfum, bukan jenis makanan, bukan pula sepenggal puisi yang didapatinya terselip pada buku lama. Bukan.
Apa yang diharapkan perempuan pada seseorang yang diketahuinya adalah selibat, pastor yang ditahbiskan harus hidup membujang  seumur hidupnya. Tapi Laila tetap memupuk harapan itu. Sepuluh tahun ia pelihara harapan itu dengan terus mengirim surat kepada Wisanggeni. Laila, entah harus dengan cara apa mengukur kegilaannya dalam mencintai.
Tapi yang terjadi pada Hasyim adalah hal lain. Tidak seperti Watanabe yang dituliskan Murakami, tidak juga Laila yang digambarkan Ayu Utami. Hasyim dewasa ternyata terjebak pada perasaan masa kecilnya. Ayu tetangganya yang sering dipuji oleh guru kelas, Ayu kawan bermainnya yang manis dan pergi tanpa pamit. Pada cerita yang disajikan Rosyid dalam bab Menunggu Ayu ini, ia menyuguhkan kisah cinta sejati yang diawali dengan cinta monyet.
Ketika Chandra (2009) menuliskan bahwa cinta monyet adalah oposisi biner dari cinta sejati, maka hal ini tidak berlaku pada tokoh Hasyim. Ia dengan keterbatasan kenangan masa kecilnya justru dibuat tak realistis oleh cinta. “Tentang aku yang mencintainya sampai sekarang. Tentang aku yang seperti orang tak waras, .... Aku yang tidak realistis, terlalu utopis dengan cinta.” (hal. 50). Dia, Hasyim yang di satu peristiwa dikagumi sebagai sosok yang masuk akal. “Mungkin, karena Sahril mengagumiku sebagai sosok yang serba masuk akal.”(Hal. 19).
Di saat orang-orang jatuh cinta dan memutus cinta dengan mudahnya, kasihan sekali Hasyim yang harus disiksa rindu pada perempuan masa kecilnya. Kenangannya yang tak banyak itu, dengan kekuatan cinta yang entah sebesar apa, justru melemahkannya. Kasihan sekali Hasyim yang harus menunggu Ayu tanpa pasti di saat akses menggunakan internet begitu dimudahkan. Karena tak lagi waras disebab cinta, itulah mengapa ia merasa mustahil menemukan Ayu namun tetap setia mencintainya. Bukannya tak diwaraskan oleh mencari, ia justru hanya asyik-asyik menunggu. Ya, Menunggu Ayu.  
Tapi siapalah yang lebih konyol daripada Royyan. Sekuat tenaga ia menahan tak mengungkapkan cintanya pada Hasyim hingga akhirnya ambruk juga. Ternyata tak kuasa dirinya menahan sakit mencintai dalam diam ketika membaca tulisan-tulisan Hasyim yang dijutukan kepada perempuan yang bukan dirinya. Royyan konyol karena pada akhirnya merelakan Hasyim untuk Ayu. Tidak sampai terjangkau oleh  pikiranku bagaimana perasaan yang begitu besar bisa berubah secara tiba-tiba. Perubahan yang disertai bantuan untuk mencari keberadaan Ayu. Manusia mana yang selabil itu?
Rosyid dalam tulisannya berusaha menyajikan cerita cinta yang sederhana dengan kisah akhir yang bahagia. Namun dalam kesederhanaannya itu ia terjebak pada alur yang mudah ditebak. Seperti kisah-kisah pada Film Televisi (FTV) yang bisa diloncati bagian-bagiannya yang membosankan, demikianah Gerimis di Atas Kertas milik Rosyid ini. Pada beberapa bagian, teknik membaca skimming saya praktikkan dan tetap bisa menebak alurnya dengan mudah.

Dunia Aku
“Tak kubiarkan mereka menelan mentah-mentah berbagai doktrin organisasi. Tak kubiarkan mereka menjadi bidak-bidak organisasi secara praktis. Aku ingin mereka menjadi bidak bagi nilai-nilai organisasi secara utuh dan kritis, bukan bidak atas keputusan-keputusan organisasi yang kadang bersifat politis, penuh kepentingan, dan tak jarang membelakangi nalar kemanusiaan.” (Hal. 23).
“Ada perasaan senang ketika mereka ingat aku pandai menyusun kata-kata indah. Perasaan senang sekaligus sedih, karena aku pun masih meragukannya sampai detik ini. Sewaktu kuliah, aku terbiasa menulis jurnal, menggunakan kata-kata baku yang penuh dengan analisis teoretis, dengan mengutip berbagai referensi ....” (Hal. 93).
Pada kutipan di atas saya merasakan sebuah argumen yang terlalu percaya diri. Kalimat yang disusun itu seperti menunjukkan sebuah kesombongan tokohnya dan juga penulis cerita. Dalam kondisi tersebut, saya teringat dengan ucapan Mahfud Ikhwan pada sebuah diskusi yang menghindari menuliskan cerita dengan sudut pandang orang pertama. Ia takut terjebak pada dunia ‘aku’, demikianlah alasannya.
Tapi Rosyid bukan Mahfud yang harus dituntut untuk menulis dengan sudut pandang orang ketiga. Rosyid hanya perlu lebih berhati-hati saat menggunakan sudut pandang orang pertama, karena terlalui menjiwai ‘aku’ sehingga lahirlah kalimat-kalimat yang sejenis kutipan di atas. Sebuah pernyataan yang cenderung tampak seperti mengagung-agungkan diri sendiri.
           

Dan hingga buku ini selesai dibaca, semuanya akan baik-baik saja. Tokoh-tokohnya yang hidup bahagia, kecuali kamu yang tidak suka cerita happy ending. Juga aku.           
   

Judul               : Gerimis di Atas Kertas
Penulis             :A.S. Rosyid
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : September 2017
Tebal               : 200 hlm
ISBN               : 978-602-6651-30-3