Minggu, 07 Mei 2017

Dalam Sujud Syukur Itsna


Selamat menempuh hidup baru, Undokuuuu ..... Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah serta dikaruniai keturunan yang saleh dan salehah. Amiin. 


            Lima malam berlalu namun Itsna belum juga mendapatkan petunjuk berupa mimpi yang diharapkannya. Doa-doanya yang panjang dan begitu tulus dipanjatkan usai melaksanakan istikharah adalah usahanya untuk berbicara pada Sang Pencipta mengenai perasaan yang melandanya lima hari belakangan. Getaran dalam hatinya tak pernah sehebat itu sebelumnya. Semua ini terjadi saat Jahid mengutarakan niat tulus untuk melamarnya. Hari itu di sebuah warung makan, untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasakan ada sesuatu yang tumbuh dalam hatinya.
            Di suatu siang ia mendapat pesan dari Jahid untuk bertemu. Itsna tak menaruh curiga sedikit pun terhadap seniornya yang terpaut usia empat tahun darinya tersebut. Dengan santai Itsna mengiyakan ajakan tersebut. Berdua. Entah apa yang terjadi pada dirinya kala itu, ia pun tak mampu menjelaskannya. Ia hanya merasa ada yang menggerakkan jemarinya untuk segera membalas pesan dari lelaki yang sebenarnya tak begitu akrab dengannya. Apa yang terjadi pada dirinya? Bukankah ia sendiri tak pernah menanggapi pesan-pesan yang dikirimkan dari lelaki-lelaki yang hanya hendak berbasa-basi padanya?
            “Kenapa mengajak bertemu, Kak?” Tanya Itsna memulai pembicaraann saat mendapati Jahid yang hanya diam ketika mereka sudah berhadapan selama sepuluh menit.
            Jahid tersentak kaget. Ia tidak bisa menyembunyikan kegugupan di hadapan perempuan yang sejak lama sudah dicintainya diam-diam itu. Namun ia harus berbicara. Menjelaskan segala yang menggebu-gebu dalam hatinya. Toh, ia tidak berniat mengajak Itsna memulai hubungan yang tidak jelas. Ia ingin mengajaknya menikah, mengikrarkan janji suci untuk sehidup-semati.
            “Ekhem ... Maaf kalau terpaksa mengajakmu bertemu berdua. Sejujurnya aku tidak yakin kau akan membalas pesanku secepat itu ...” Ucapan Jahid digantung. Ia masih merasa gugup, ia takut salah berbicara. Itsna hanya tersenyum, menyimpan tanya di matanya yang indah..
            “Aku hampir menyerah saat beberapa temanku yang kuminta menyampaikan sesuatu padamu namun tak kau tanggapi seperti yang kuharapkan.” Jahid diam lagi beberapa saat, membiarkan Itsna mencerna kalimatnya, membiarkan Itsna mengingat orang-orang yang pernah datang kepadanya, menyampaikan sesuatu yang sebenarnya penting namun diabaikan.
            Itsna mulai menerawang, menyeringai pada Jahid tatkala ia mengingat satu per satu orang yang dimaksud Jahid.
            “Aku serius, Dik. Mungkin terdengar nekat atau mendadak, tapi aku sudah memikirkan ini cukup lama. Aku ingin melamarmu, menjadikanmu istriku. Apakah kau bersedia?”
            Itsna tertegun. Ia gugup, jantungnya berdebar hebat. Ada sesuatu dalam hatinya yang tiba-tiba muncul, sesuatu yang membuatnya ingin tersenyum namun berusaha ditahannyya. Ia harus menepis perasaan yang tidak diketahuinya itu. Atau ia sebenarnya tahu namun berusaha menyembunyikannya. Ia takut menaruh hati pada orang yang tak begitu dikenalnya, ia tak ingin jatuh cinta pada siapa pun. Ini bukan waktu yang tepat untuk jatuh cinta, ini tak boleh terjadi. Namun semakin ia menepis perasaan itu, getarannya semakin terasa. Tuhan, apa yang terjadi padanya. Ia tak pernah jatuh cinta sebelumnya, namun mengapa pada lelaki yang ada di hadapannya tersebut, ia merasakan sesuatu yang tak pernah dirasakan sebelumnya? Bolehkah ia jatuh cinta, Tuhan? Ia meringis takut.
            “Mendadak, benar-benar mendadak. Aku tidak dikerjain, kan? Jangan-jangan ada CCTV di sini.” Itsna berusaha mencairkan kebekuan pada dirinya.
            Jahid tersenyum, ia lega telah mengutarakan semuanya dan mulai berbicara lagi, “Kau boleh menjawabnya sekarang atau pun beberapa hari setelah ini. Aku tidak akan keberatan. Kita tidak begitu akrab, dan kau sangat wajar jika apa yang kuucapkan membuatmu merasa ragu.”
            “Aku tidak tahu soal ini, Kak. Aku tidak akan menjawabnya namun jika serius, silakan datang pada ibuku mengenai niat suci tersebut. Aku ikut keputusan ibuku.” Jawab Itsna spontan. Ada keyakinan di sisi lain hatinya yang membuatnya menjawab demikian. Jahid tersenyum, tantangan lebih besar akan dihadapinya. Namun ia sudah bertekad takkan menyerah sebelum benar-benar mendapatkan penolakan.
            Sementara Itsna berusaha menemukan jawaban, Jahid sudah mempersiapkan segalanya. Dua hari lagi ia akan ke Jeneponto menemui Ibu kandung Itsna. Mungkinkah itu sudah menjadi tanda bahwa ada restu Sang Pencipta di sana? Saat semua urusan tak memperoleh hambatan, saat perasaan yang tumbuh di hati Itsna semakin kuat.
            Maka pada hari saat Itsna mendapat kabar dari ibunya sendiri bahwa lamaran lelaki tersebut diterimanya, Itsna sujud syukur. Ia tak percaya betapa jodoh bekerja demikian ajaib. Ia memang tak mendapatkan petunjuk melalui mimpi, namun ia bisa merasakan bahwa Tuhan menuntun hatinya untuk jatuh cinta hanya pada Jahid.
            “Alhamdulillah atas karunia-Mu, hanya kepada-Mu hamba memohon tuntunan untuk babak baru dalam hidup hamba kelak, Ya Allah. Hamba percaya bahwa lelaki yang akan mendampingi hamba adalah ia yang telah Engkau pilihkan untukku. Terima kasih, Ya Allah. Semoga ia menjadi imam bagiku di dunia dan di akhirat-Mu kelak. Amiin.” Ucap Itsna lirih mengakhiri sujud syukurnya.

***


Cat: Atas izin mempelai wanita, maka aku mengisahkannya. Semoga engkau para lelaki menjadi lebih berani memulai hubungan yang serius, dan agar engkau perempuan tak banyak cemas perihal jodoh. Dia adalah sebagaimana dirimu. Tuhan Maha Tahu yang tepat untukmu. 
Posting Komentar