Sabtu, 25 Februari 2017

Lengah-Lengang


            Kejadian ini hari kamis. Pagi hari entah pukul berapa. Hanya ada tiga orang di rumah pagi itu; saya, Adda dan Aisnul. Saya di dalam kamar, menguncinya dari dalam. Adda tidur di depan TV, sedangkan Aisnul tidur di kamar belakang. Pintu depan dan belakang memang terbuka lebar, tidak biasanya seperti ini. Seringkali pintu rumah memang terbuka di malam hari, itu karena Aisnul dan teman-temannya belum ada yang pada tidur, motor pun dibiarkan di luar, pagar tetap terbuka. Biasanya, pagi hari kemudian menjadi malam di rumah ini. Anak-anak baru bisa tidur di pagi hari. Barangkali, kesempatan ini memang sudah ditunggu-tunggu oleh pencuri. Keadaan di mana pintu rumah terbuka semua sedangkan orang-orang di dalamnya sedang terlelap tidur. Kami yang terlalu banyak percaya pada perumahan ini, kami yang terlalu lengah dalam penjagaan. Diperkirakan, pencuri masuk melalui pintu belakang. Dugaan ini kuat sekali mengingat barang yang hilang hanyalah yang letaknya berdekatan dengan pintu belakang. 1 buah laptop seharga 8 juta, 1 notebook dan 1 buah HP samsung milik Aisnul.
            Pagi itu, saya bangun telat untuk salat subuh. Sekitar setengah enam. Setelah itu, saya tidak langsung tidur. Namun saya juga tidak keluar kamar untuk memastikan di luar baik-baik saja. Sebab saya percaya, sebagaimana biasanya, rumah pasti aman-aman saja. Nanti pukul setengah 9, saya masuk ke kamar mandi. Saya melihat ada Adda yang sedang terlelap di depan TV dan Aisnul yang juga terlelap di kamarnya. Saya tidak begitu memperhatikan barang-barang yang tergeletak di lantai, saya acuh dan langsung ke kamar. Menguncinya dari dalam, dan saya pun tidur. Saya kemudian bangun saat jam menunjukkan pukul 12 lebih sedikit. Saya kemudian mandi, salat dan membersihkan rumah. Memang sedikit aneh saat membersihkan rumah, tidak terlalu banyak barang yang mesti dirapikan, padahal biasanya, berbagai macam hal berserakan di lantai. Namun kali ini tidak, hanya ada satu laptop yang mesti dipinggirkan.
            Saya membersihkan hingga ke halaman rumah. Begitu banyak sampah, saya juga merapikan sepatu-sepatu yang ada. Usai melakukannya, saya sejenak duduk di ayunan hingga Aisnul kemudian keluar dan menanyakan keberadaan ponselnya. Tidak ada yang melihat, barulah disitu ia menyadari bahwa laptop milik temannya juga tidak ada. Tapi kemana? Kami masih mencoba berpikir positif, barangkali dibawa oleh seorang teman yang tadi datang. Namun hingga Aisnul kemudian menyusul teman tersebut dan ternyata ia tak membawanya, disitulah harapan mulai pupus. Ya, kami kecolongan. Kami lengah dan pencuri mengambil kesempatan itu.
            Kecurian di rumah ini adalah yang kedua kali. Pertama saat kami baru saja pindah ke sini. Namun yang hilang saat itu hanya sebuah gitar. Ya, untung saja yang diambil hanya gitar. Padahal saat itu, rumah sedang kosong, barang berharga tergeletak begitu saja di lantai. Entah mengapa yang diambil hanyalah gitar. Ah, kami terlalu lengah dalam penjagaan. Seharusnya kami belajar dari pengalaman.
            Sebenarnya sudah berulang kali warga memperingatkan kami untuk tidak terlalu serampangan pada barang-barang berharga kami. Yang sering ditegur warga adalah motor yang diparkir di depan rumah hingga esok pagi. Padahal tempat parkir di samping rumah begitu luas, bisa memarkirkan 2 mobil bahkan. Tapi kami seringkali tidak begitu mendengar nasihat tersebut. Bukan karena kami sombong, tapi kami masih menaruh percaya bahwa orang-orang di sekitar tak ada yang tega melakukannya. Tidak ada pencuri di perumahan ini. Tapi, ah. Siapa yang tahu, kan? Bisajadi ada orang yang menyengaja mengintai, menunggu waktu yang tepat untuk mebuat kami tersadar bahwa selama ini kami tidak maksimal dalam penjagaan.
Hingga kehilangan kemudian mengajarkan, betapa berharga yang pernah dimiliki. Dan sungguh, segala yang dibawa pergi diam-diam akan menyisakan sakit. Olehnya, mengertilah! Jangan kau curi laptop mahasiswa, ponsel anak rantau, hati perempuan yang belum siap kau nikahi. Jangan mencuri, jangan jadi pencuri, jangan mengandalkan hidup pada hasil curian. Sesungguhnya-setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka api nerakalah yang patut atasnya (HR. Tirmidzi) 

Semoga kehilangan ini mengajarkan arti kehati-hatian dalam penjagaan. Semoga lebih menyadarkan bahwa kita pernah memiliki yang berharga. Dan semoga Tuhan kirimkan penggantinya bagi hamba-hamba yang tabah dalam menghadapinya. Juga, semoga yang digelapkan hatinya segera menyadari. Amiin.
Posting Komentar