Senin, 06 Februari 2017

Curahan Hati Penumpang Biasa

            
Nemu di Makassar Info
Info dari sebuah akun social media memberitakan tentang aksi demo yang akan dilakukan para supir pete-pete, supir taxi konvensional serta tukang ojek untuk menolak 6 hal. Salah satunya adalah menolak angkutan aplikasi online. Info ini disampaikan kepada seluruh warga Makassar agar memaklumi segala kemacetan yang terjadi esok hari. Setidaknya demikian yang kufahami.
            Angkutan dengan aplikasi online ini sudah ada sejak berapa tahun lalu. Yang awalnya hanya ada di Jawa kemudian meluas hingga Sulawesi. Dan sekadar informasi, demo yang sebagaimana akan dilakukan besok juga pernah terjadi di Jawa. Para sopir saling serang dan saling menyalahkan. Alasan sebenarnya mengapa para sopir konvensional melakukan demikian sebab merasa mata pencahariannya diambil. Mereka merasa kehilangan pekerjaan disebabkan para pelanggan lebih memilih angkutan dengan aplikasi online.
            Para penumpang yang melek teknologi dan para driver yang menolaknya. Untukku sendiri, sebuah perkembangan yang sangat pesat dengan kemudahan yang diberikan bagi siapapun untuk bisa memesan kendaraan hanya dari tempat tidurnya. Tinggal download aplikasinya, masuk kemudian pesan. Kalau beruntung, atau kalau berada di pusat keramaian, pengendara online yang dipesan akan segera menelepon dan menjemput dalam hitungan menit bahkan detik.
            Sebelum panjang, aku ingin menyampaikan bahwa tulisan ini dibuat sebagai bentuk ketidaksepakatan jika angkutan dengan aplikasi online kemudian ditiadakan di Makassar. Kalau besok para pengendara kovensional hendak melakukan aksi demo demi menolak angkutan yang dimaksud, maka melalui tulisan ini aku pun melakukan hal yang sama. Dengan tujuan dan keinginan yang berbeda. Aku menuliskan ini sebagai aksi demo terhadap aksi demo yang akan dilakukan besok.
            Ada beberapa alasan mengapa aku merasa diresahkan dengan aksi yang akan dilakukan besok. Apalagi jika benar-benar apa yang didemokan kemudian disepakati, maka tamatlah para pengendara online dan juga para penumpang yang mengandalkan jasanya. Aplikasi yang didownload kemudian menjadi tak berguna dan tentu saja, cara lama kembali dijalani.
            Sesungguhnya, aku tidak membenci para pengendara angkutan konvensional, tidak sama sekali. Namun jika mereka harus melakukan demo untuk memberhentikan angkutan yang dengan aplikasi online, maka hal ini yang kemudian membuatku angkat bicara. Jujur saja, itu sudah berlebihan dan terkesan amat memaksa. Biarkan para penumpang menentukan pada siapa ia ingin diantar ataupun dijemput.
            Sebagai penumpang, pengguna jasa angkutan dengan aplikasi online yang dulunya dan beberapa pekan lalu juga pernah menggunakan angkutan konvensional, aku ingin bercerita sedikit panjang.
            Maaf saja jika tulisan ini ternyata membanding-bandingkan. Tapi sebagaimana sifat manusia, sudah menjadi naluri bahwa kita akan memilih sesuatu yang ‘lebih menguntungkan’ dari yang hanya sekadar ‘menguntungkan.’
            Membicarakan tentang hal yang menguntungkan dan lebih menguntungkan, maka pembaca akan segera memahami dari yang kutulis selanjutnya.
            Mengendarai ojek berarti membuat penumpang berjalan sendiri menuju pangkalan ojek untuk mendapatkannya. Dari situ kemudian terjadi tawar-menawar mengenai harga. Penumpang menawar sebagaimana harga normal, pengendara ojek memasang harga yang lumayan tinggi. Terkadang perdebatan berlangsung lama, dan harus ada satu yang mengalah. Untuk orang sepertiku, proses tawar-menawar adalah hal yang kubenci. Aku tidak tahu caranya menawar, aku sering iba namun lebih sering jengkel, dan pada akhirnya aku harus mengalah. Hal ini benar-benar menyebalkan. Harga terlalu tinggi, kesulitan menawar, tapi kantong juga lagi pas-pasan.
            Sedangkan mengendarai gojek (aplikasi online), tak perlu berjalan kaki ke pangkalannya, tinggal login di akun yang sudah didownload, memasukkan alamat kemudian melihat harga yang tertera. Sejauh ini, biaya yang dipasang masih normal-normal saja. Tanpa perlu tawar-menawar, harga kemudian deal dan lebih murah. Aku sudah membuktikannya sendiri, sselisih harga 6 ribu dengan tujuan/jarak yang sama.
            Pete-pete’ adalah salah satu angkutan yang terkenal di Makassar, angkutan ini memiliki varian warna yang berbeda. Tapi bukan itu masalahnya, yang lebih penting adalah mengetahui huruf yang tertempel di belakang ataupun samping kendaraan tersebut. Beda huruf beda jurusan. Dan kalau misalnya kita hendak mengunjungi tempat yang lumayan jauh, maka perlu berganti pete-pete’ beberapa kali. Naik turun pete-pete’, dengan harga sama; jauh-dekat. Kira-kira, berapa uang yang harus dirogoh? Belum lagi, pete-pete’ seringkali tak mengantarkan kita tepat di depan rumah. Pete-pete’ hanya beroperasi sesuai jalurnya. Ini belum termasuk ketika beberapa sopir ternyata ugal-ugalan dan beberapa juga justru tidak sopan pada penumpang.
            Kemudian taxi? Siapapun pasti tahu bahwa menggunakan jasa angkutan ini sudah membuat kita setara dengan orang kaya. Mahal. Lumayan mahal bagi kami orang-orang biasa. Dan tentu saja, jarang sekali orang kaya yang menggunakan jasa taxi. Mereka cenderung mengendarai kendaraan pribadi. Belum lagi, seringkali beberapa orang ditipu dengan sopir angkutan ini. Harga dinaikkan, memanipulasi mesin hitungnya.
            Go-car bagaimana? Sama dengan gojek, harga sudah ditentukan, dan tentu saja kita diantar sampai depan rumah. Kalau misalnya kita menerima perlakuan yang tidak baik, tempat mengeluhkannya sudah jelas. Bisa memberikan komentar tentangnya, bisa memberikan lima bintang kalau ternyata pelayanannya memuaskanmu.
            Sebagai anak rantau yang tak memiliki kendaraan pribadi juga belum memiliki mahram yang bisa mengantar ke manapun, aku memohon maaf kepada bapak-bapak sopir pete-pete’, sopir taxi dan juga tukang ojek karena telah menuliskan ini. Karena menyatakan ketidaksepakatan atas aksi kalian besok dan atas ketidaksepakatan jika angkutan aplikasi online harus diberhentikan untuk area Makassar.
            Aku menuliskan ini bukan untuk bertindak sombong dan justru tidak merasa simpati terhadap berkurangnya penumpang menggunakan jasa konvensional. Aku bukan orang kaya, kok, dan justru karena hal itu, selisih harga 6 ribu menjadi penting bagiku.
            Mari sama-sama berdoa agar rezeki kita dijadikan berkah oleh Allah. Bukankah tak ada rezeki yang tertukar sebagaimana jodoh pun demikian? *ekheeemmmm ....
            Untuk semuanya, kudoakan agar sama-sama tetap bisa beroperasi dan semoga rezekinya dilancarkan dan tentu saja berkah. Janganlah saling membenci. Biarkan penumpang sepertiku menentukan kepada siapa kami ingin mempercayakan diri ini untuk diantar maupun dijemput.
            *oh iya, aku baru tahu hal ini, bahwa ternyata penumpang dengan angkutan aplikasi online diberikan asuransi. Na’udzubillah kalau harus kecelakaan, tapi bukankah hal ini menjadi semakin menarik?

Oh, iya, dan belum lagi, untuk beberapa hal seperti memesan makanan juga menjadi lebih mudah. Aku punya hal menarik mengenai ini, akan kuceritakan di postingan selanjutnya. Tentang driver go-food yang hampir saja kurugikan. Maafkeun.
Posting Komentar